Danbo Sedih

Menata Hati

Selama ini aku berpandangan bahwa hati manusia adalah hal yang paling mudah diatur. Bahwa hati adalah milik sejati seorang manusia dan manusia pasti lebih mudah mengaturnya, sebagaimana mereka menggatur kelima indera mereka. Demikianlah aku selama ini berpandangan.

Pada beberapa titik, memang mudah mengatur hati, mood, dan sebagainya. Hal yang biasa aku lakukan adalah berdialog dengan diriku sendiri. Jika dalam perdebatan antara hati dan pikiran tersebut dimenangkan oleh pikiran, maka hati akan mampu digerakkan.

Sederhananya begini. Ketika aku sedang sakit hati, maka aku akan mencoba berdialog dengan diriku sendiri apa penyebab sakit hati tersebut. Hal-hal yang aku anggap tidak patut aku alami mulai aku rasionalkan. Akupun masukkan sebagian pandangan dari berbagai sisi kemungkinan, contohnya jika aku disakiti seseorang karena keinginanku tidak terpenuhi olehnya maka aku mencoba berdialog, apakah sepatutnya aku merasakan sakit hati tersebut, apakah tindakanku memang salah atau dirinya, mungkin saja ada berderet alasan mengapa keinginan tersebut tidak dipenuhi olehnya.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Menangis

Menangis

Kapan kau terakhir menangis? Ketika malam hendak mengejar fajar, disayup cahaya redup yang mulai menerang. Atau ketika pagi mulai menggigit, memanaskan seluruh tapakmu ketika melangkah telanjang. Atau, bolehkah aku mengubah tanya, “masihkah engkau menangis?

Tidak lagi aku melihat matamu yang basah, kecuali telah menjadi batu. Seperti tandus tanah tanpa hujan bertahun, bertahap menjadi gemuruh pasir. Padahal, aku berharap ada badai di sana, laksana ombak yang tersusun, menggunung dan menggulung.

Aku takut, kau telah melupakan jalan pulang. Telah alpa tentang tujuan kembali. Bahwa kaki yang masih tegak itu seolah tidak akan rubuh dan membaringkanmu tanpa mampu bangkit kembali. Aku takut kau amnesia.

Labirin ini telah menjadikanmu gila. Jutaan reaksi yang pecah dan saling tabrak menjadikanmu tak sadarkan diri. Atau mungkin, tidak cuma gila tetapi kau pun telah buta oleh gelapnya jalan tanpa sandaran jejak yang menuntun. Aku tak tahu, maqam apa yang sedang kau lalui. Atau iblis mana yang sedang ada di sisimu.

Aku seperti melihatmu dari balik punggung. Bahkan ekor mataku tak mampu mengejar kau yang sedang berlari terlalu cepat. Segala tingkahmu tidak lagi mampu aku tafsirkan. Khatam buku mimpi tidak juga mampu membaca tafsiran seluruh apa yang kau perbuat. Lantas, apa maumu?

Tidakkah engkau rindu. Tentang sayup suara yang mengisi kekosongan itu. Cahaya yang memberitakan seluruh jalan. Maka mengapa kau menjadi sedemikian tuli? Mengapa memilih menutup mata? Mengapa jatuh cinta untuk menjadi gila?

Tidakkah ini terlalu melelahkan. Seperti, permainan ini abadi di dalam lingkarannya. Dan kau berputar-putar semacam orang gila. Tidakkah ini memuakkan, terlalu memuakkan, sangat memuakkan. Sampai, aku tak tahu mengapa kau terus memainkannya sambil tertawa terbahak membahana.

Aku merindukan masa lalu. Ketika tangisan kita, seperti gaung yang terpantul, saling sahut-menyahut. Seperti gemuruh yang berdesis, menutupi malam pada heningnya. Tidakkah kau ingin seperti dulu, mega badai yang bergerak tersimpan sempurna cuma di dadamu.

Menertawai Masa Lalu

Beberapa hari ini aku punya hobi yang unik. Melihat komentar orang-orang di blogku dan melihat tulisan apa yang mereka komentari. Kebanyakan pengunjung di blogku berkomentar tentang tulisanku yang lama, yang lebay, dan menyayat hati.

Menertawai Masa Lalu
http://pipin217.wordpress.com/
Entah kenapa aku merasa geli sendiri dengan masa laluku. Merasa geli, ternyata betapa lebay-nya aku ini.

Salah satu contoh kelebayanku ada pada tulisan “Cinta Itu Berat” — bercerita tentang kisah aku yang patah hati, dulu mungkin saat menuliskannya, membacanya, bertutur tentangnya, hal itu bisa jadi sangat menyayat hati, namun sekarang aku merasa itu terlalu lebay.

Aku mungkin memang kurang mampu menulis hal yang sederhana dengan cara yang sederhana. Misal, aku sedang bahagia dan aku tuliskan saja bahwa aku bahagia. Tidak harus dengan cara mendramatisir keadaan, melakukan antraksi tari-tari India, diiringi musik, di bawah lautan hujan. Harusnya aku bisa menjadi lebih sederhana dalam menyajikan sesuatu.

Aku iri dengan orang-orang yang bisa bercerita secara jernih. Mereka yang tidak menambahkan, melebaykan, atau mendramatisir. Mereka bertutur dengan pure, sebenar-benar penuturan.

Baca Selengkapnya