Irama Jantung

Jantungku deg-degan,
berdetak tidak karuan
tiap detak menceritakan satu hal
aku dalam senyuman
engkau dalam bayangan

Ah, cinta
andai engkau tahu betapa sederhananya aku
yang tanpa mimpi, juga tanpa kreasi
namun cinta itu, sumpah setulus hati.

Tak bisakah engkau bayar aku
selain dari senyummu
terlalu manis, aku tak kuat
takut nanti menjadi pahit
dan cabikan menggiris kulit

Indah segala indah
namaku terjaga dalam hatiku
menggiring tasbih-tasbih yang mengalir
bersama nama Tuhanku engkau menggiring
cinta memang terlalu indah adanya

Jangan menolak aku cemburu
bukankah itu fitrahku
lelaki yang sedang mencintai

Engkau berirama
berdetak bersama jantungku
tak kuasa aku menolak
kau adalah nadiku, bait-bait cinta
terukir jelas di tiap sel darahku

Baca Selengkapnya

LAWAN !!!

Berjuanglah untuk makananmu
Wahai anak-anak negeri
Jangan takut mereka menjarah
Genggam tangan sesamamu
Hantam mereka dari berbagai arah

Mereka yang berkata adil
Sudah cukup kita dengar ocehan
Sudah cukup kita membuka telinga untuk kebohongan
Saatnya tangan berbicara
Agar mereka mengerti
Arti rasa lapar, tertinggal, dan ditindas


Berteriaklah selantang yang engkau mampu
Sergap mereka dari berbagai arah
Patahkan jari-jari mereka
Kuliti setiap kebohongan yang menjalar dari pori-pori mereka
Sudah cukup, kita harus merdeka!

Baca Selengkapnya

Lelaki Majemuk

Engkau tidak asing,
tidak juga sendiri
lelaki majemuk.

Bahasamu masih sempurna,
tutur katamu masih seperti dulu
ketika lantang suara membuka mata
waktu azan pertamaku

Engkau masih tersenyum,
tidak pernah kaku
hanya kulitmu mulai memudar
dan peyot punggungmu kentara

Seperti dulu,
sebelum matahari muncul kau telah pergi
dan akan kembali ketika matahari benar-benar mati
untukku, dan semua naunganmu

Kita memang tak serupa,
kadang aku membantah, kadang engkau
masing-masing kita melihat jalan dalam hidup
ada banyak pilihan untuk digenggam

Lelaki majemuk,
tak akan pernah sendiri lagi tak asing
inginku selalu mewarta tentangmu
tentang rinduku yang terus membumbung
bahkan sebelum habis usia.

Baca Selengkapnya

Jika Senyum Telah Mati

Jika senyum telah mati
engkau bagaimana?
saat warna gigi tak lagi putih
juga tak menguning
cuma ada sapuan merah bibir
sunggingmu terkubur

Dulu bahkan aku bisa melihat
jelas di retinaku warna lidahmu
kau mengakak
keras, bahkan langit pecah
namun sekarang cuma ada diam
bahkan lebih membisu dari tembok-tembok berlumut

Aku harus bagaimana
pesan telah terkirim
dering masih menyisakan gema
namun kamu diam, tak membalas
kalut aku dalam kebingungan
menunggumu tersenyum

Aku tak mengerti
bagaimana senyum itu mampu hilang
mukamu cuma datar tak memberi kabar
atau memang telah waktunya
bahkan senyumpun memiliki masa

Baca Selengkapnya

Jalan Tuhan Cuma Satu

Engkau gugur
hancur menjadi cabang
dari awal kokoh
menjadi seperti kapur
rapuh, hilang memutih ditelan air
waktu mengkeruhmu

Masih ingat awangku tentangmu
saat sayapmu masih dua
ketika kau mampu terbang ke nirwana
tidak tinggal setengah begini
jatuh menggelepar, lumpuh, kakimu piyu
napasmu cuma tinggal satu

Apa kakimu sekarang terpaku
namun mereka tidak menyayat lidahmu
dan tidak merantai tanganmu
maka bicaralah lalu tulislah
semua bahasa, kata, aksara
agar mereka tahu apa yang engkau tahu

Benar itu mutlak
jika Tuhan kata dia satu maka satulah
tak ada anak atau diperanak
maka tulislah
katakan kepada seluruh bangsa
bahwa Tuhan itu Esa

Mengapa takut
apa kata manusia itu buatmu kalut
lantas kau ikut mereka
dustakan Tuhanmu lantas menari bersama
kau juga ikut-ikut kata bahwa tentang Tuhan adalah dusta

Jangan jadi pengecut
jangan takut perutmu susut
jangan dusta
jangan dusta
jangan dusta
tetaplah dalam satu kata: Tuhan itu Esa

Hati-hati dengan ra’yu
kau bermain-main api di atas wahyu
jangan sekali-kali jangan
utamakan wahyu baru kemudian pikirmu
jangan kau pelintir wahyu cuma karena napsumu

Aku beri sayap agar engkau terbang
di atas kepala orang-orang
bilang kepada mereka
jalan Tuhan cuma satu

Baca Selengkapnya