Sebatas Kemampuanku

Kawan, lama aku tak bercerita di blog ini. Lebih senang aku menulis status-status palsu di dinding facebookku. Sesuatu yang kureka-reka saja tanpa ada maksud, biarlah orang lain yang menilai. Aku sungguh tak peduli, karena itu bukan aku sebenar-benar aku.

Lama kita tak bercerita. Baiklah, duduklah sejenak. Bacalah pelan-pelan bait-bait kata yang akan kuceritakan berikut ini. Jangan beranjak dahulu, tangguhkanlah jejak langkahmu sejenak. Mari membaca, cerita-cerita yang mungkin engkau anggap tidak penting, namun bagiku begitu berharga.

Engkau tahu kawan, kadang aku merasa Tuhan beberapa minggu terakhir ini memberiku cukup banyak waktu. Dia melepaskanku dari segala rutinitas. Tak dibuatnya pikiranku terombang-ambing dengan perasaan hati, tak dibuatnya aku sibuk dengan urusan ini-itu. Semuanya berjalan dengan demikian santai, dan aku menjadi terlalu santai. Mungkin Tuhan ingin ucap, “kerjakanlah tugas pokokmu.” Mungkin demikian Dia ingin kata.

Namun sejuta waktu tidak akan cukup. Ada satu kekurangan dalam diriku yang sangat fatal: KEMAMPUAN BERPIKIR.

Engkau tahu kawan, aku merasa kemampuan berlogikaku sangatlah rendah. Hingga sekarang aku belum lagi menamatkan buku Kinematic Chains and Machine Components Design, belum lagi aku belajar tentang logika kinematik di sana, aku masih terus berdiri pada falsafah vektor dan trigonometri. Aku belum lagi mampu keluar untuk memahami semua itu.

Persoalan kedua kawan, bayanganku tentang Degree of Freedom atau sering disingkat dengan DOF serta Inverse Kinematics dan juga Forward Kinematics belum lagi kutahu dengan sempurna. Itu belum lagi ditambah dengan persoalan Jacobian Matrixs.

Sungguh kawan, betapa kalutnya aku dengan semua persoalan tersebut. Belum lagi inginku mempelajari MATLAB sebagai basic dari simulasi aplikasi Steward Platform yang akan kubuat sebagai judul Makalah Ilmiahku. Sungguh pusing diriku ini.

Mungkin orang-orang akan menganggap semua itu sepele. Mungkin itu bukanlah hal yang rumit, namun aku dengan kemampuan analisisku yang dangkal serta kemampuan logikaku yang rendah, semua itu menjadi begitu rumit.

Aku, ketika belajar yang pertama harus kulakukan adalah MEMAHAMI. Aku harus MEMAHAMI KONSEP yang akan kupelajari tersebut. Aku selalu demikian, tidak akan beranjak sebelum aku memahami. Aku tidak ditakdirkan sebagai seorang pelajar penghapal rumus dan penghapal teori-teori. Aku belajar dengan cara MEMAHAMI mekanisme apa yang terkandung, lantas dalam mindalaku kuciptakan sendiri dunia itu, dunia tentang konsep yang telah kurangkai dari apa-apa yang kulihat, kupelajari, dan kupahami.

Oleh karenanya aku selalu kesulitan dalam menelaah suatu pelajaran yang telah berjejal rumus-rumus tanpa pangkal rumus di dapat darimana, darimana rumus-rumus itu terbentuk, mengapa, karena apa, dan mengapa bisa? Aku akan selalu bertanya, namun jika tak kutemukan jawabannya maka secepatnya aku akan berhenti.

Entahlah kawan, sungguh aku bingung. Cuma sebeginilah aku: SEBATAS KEMAMPUANKU.

  • aisyah marphoamatonte

    bertahap aja ben.. asalkan tetap jalan..
    menurutku kemampuan berpikir seseorang itu bukan gift, tapi keterampilan..

    remember what edison said, walaupun km tidak suka edison, genius is one percent inspiration, ninety-nine percent perspiration.. ^^

    • thanks rif, tetapi beginilah aku… merasa tak punya kemampuan dan memiliki sejuta keterbatasan. Aku sedang mencoba seperti apa yang kamu sarankan, 99% usaha dan 1% bakat.

  • ketika kesadaran akan kelemahan itu terbentuk..di situlah sebenarnya letak kemenangan bagi pelakunya..karena dia telah mampu menemukan titik kelemahannya..dari sana bentuk hidup bisa dirancang kembali menuju kemenangan yang diinginkan..tetap semangat kawan šŸ™‚

  • orang jalan setapak demi setapak pasti juga akan nyampai tempat tujuan, asal ada kemauan yang kuat

    • ya mas alief, ini sedang mencoba berjalan setapak demi setapak untuk mencapai tujuan