Puisi Cahaya

Sudah lama tidak menulis puisi. Kalau seseorang yang suka puisi itu jarang membaca dan menuliskan puisi, maka ruh kata-katanya akan hilang atau sering manusia bumi katakan akan tumpul.

Jika engkau menyukai puisi, jangan berhenti dengan cuma menikmati atau membaca puisi. Tuliskan setiap puisimu, tentang napas yang berganti yang menemani hidupmu, tentang setubuh antara engkau dan Tuhan, juga tentang lintasan-lintasan waktu yang membuatmu mendekati kematian.

Adalah waktu. Dia yang terus bergerak, syahdan terinspirasi oleh seberapa cepat engkau berjalan bersama cahaya. Menurut seseorang, waktu akan terhenti ketika engkau bergerak dengan kecepatan sama seperti cahaya bergerak. Apakah memang demikian?

Baca Selengkapnya

Tentang Pertemuan

Kita pernah duduk bersama tanpa meja bangku
Dalam percakapan ringan tanpa buku-buku yang kaku
Lambat laun setelah waktu itu, aku tahu kaulah masa depanku

Aku menemukan cahaya dalam matamu
Ia menyelinap kuat bagai api yang terus diramu
Sampai di ujung malam, mimpimu dan mimpiku bertemu

Akulah lelaki yang tersusun dari tulang belulang
Yang satu di antaranya menghilang
Sampai engkau membawanya pulang

Sumber: http://giewahyudi.com/tentang-pertemuan/

Baca Selengkapnya

Andai Negeriku Seperti Mereka

Puluhan Nabi diangkat dari ummat itu,
Aku cemburu.
Tetapi perjuangan mereka hari ini adalah bukti,
:bahwa mereka memang istimewa.
Aku semakin cemburu.

30 tahun ini, mereka tidak buta dan mati dalam ketakutan.
Mereka merangkak perlahan,
menjalin genggaman demi genggaman tangan,
menjadi barisan kokoh.

30 tahun ini, mereka tidak gemetar dan gentar!
Kupikir mereka kumpulan banci,
ketika menutup gerbang bantuan ke Palestina.
Tak malu pada tuhannya,
tetapi aku salah.

Ternyata selama ini giginya gemeretak geram,
melihat sejarah negerinya dibungkam dan dikhianati.

30 tahun ini,
kupikir mereka diam tertunduk, bungkam tak perduli.
Mereka mengkhianati sejarah megah tanah suci itu,
tetapi, negara seribu menara itu membuktikan
Aku salah,
ketika suara2 lantang itu membahana di langit mesir..

Andai negeriku bisa seperti mereka.

Baca Selengkapnya

Jangan Takut Riya

Kutipan ini saya ambil dari buku “Mencari Mutiara di Dasar Hati“, semoga mampu menjawab jawaban rekan-rekan yang mengurangi ibadah mereka dengan alasan takut riya.

Seorang pemuda pernah bertanya kepada Ustad Fathy Yakan, juru dakwah terkenal asal Jordania. “Saya gagal, putus asa, tidak sempurna dalam berbagai amal karena saya selalu dihantui perasaan riya,” kata pemuda itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadah dan aktivitas dakwahnya supaya tidak terjerumus pada sikap riya.

Ustad Fathy Yakan menjawab, “Siapa manusia yang tidak pernah terganggu oleh bisikan riya? Kita manusia. Semua kita mengalaminya.” Ia lantas mengutip sebuah hadist Rasulullah saw, “Andai manusia tidak melakukan kesalahan niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang melakukan kesalahan kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka.” (HR Muslim dan Ahmad)

Fathy Yakan mengatakan, “Ibadah dan amal kebaikan itu sendiri merupakan bagian dari terapi dan ampuh atas dosa yang engkau lakukan.

Baca Selengkapnya

Bahagia

Lama mencari arti bahagia, aku mulai mengerti satu hal. Kebahagiaan itu adalah perasaan senang ketika melihatmu bahagia.

Kadang untuk melihat suatu kebahagiaan, tidak jarang air mata kita menetes. Entah karena haru, atau karena sesak.

Ketika engkau memeluk ibumu di hari yang suci, ketika engkau bersujud di kakinya, engkau menemukan kebahagiaan dalam haru. Ketika itu, air matamu tiada kuasa tertahan untuk menetes.

Pun ketika engkau melihat orang yang kau cintai pergi untuk berbahagia. Engkau, entah mengapa merasa senang melihatnya bahagia, walau kebahagiaan itu bukan dari tanganmu. Melihat itu, air matamu kembali tumpah, disertai sesak, namun pada itu engkau bahagia.

Bahagia mungkin sejenis lukisan abstrak.

Air mataku sedang menetes. Namun engkau harus tahu, sesak memang, namun ini bukan karena sedih tetapi karena bahagia. Suatu rasa lega ketika melihat orang lain bahagia.

Baca Selengkapnya