Tanpa Arti

Bagi dunia, aku bukan apapun.
Bagi seseorang, aku bukan siapapun.
Bagimu, aku ini apa?

Tak pernah ada manusia yang menganggapku lebih atau berarti. Aku ini seperti sampah, dibuang saat tak lagi dibutuhkan. Atau seperti anjing. Atau lebih buruk dari itu.

Lihatlah, berapa dari mereka yang menganggapku berarti? Bahkan seseorang yang aku merasa dia mencintaiku dan aku mencintainya, dia menganggapku tak lebih dari seorang penganggu.

Begitu burukkah aku?

Apa tak cukup arti sebuah kesetiaan? Apa tak cukup arti beribu pengorbanan? Lalu mau-mu apa?

Aku adalah tak berarti. Aku bukan siapapun untuk mampu mengubah apapun. Bagai sehembus nafas, menjadi terlupa saat hembus berikut. Menjadi sesuatu yang wajib untuk ditinggalkan setelah semua hal yang terjadi. Menjadi sesuatu yang wajib untuk dilupakan setelah semua terekam mindala.

Aku ini seperti sebongkah batu. Seperti berhala yang pantas untuk ditumpas. Berhala busuk yang tak ada arti, bukan seperti sesembahan kaum pagan yang menjulang dalam kuil-kuil gemerlap yang dikerubuti ribuan.

Pernahkah kamu memperhatikan sampah? Teronggok kaku tak tersentuk setelah segala manis habis ditelan, menjadi sepah yang tak pantas ada bahkan untuk sekedar dikenang.

Aku bukan apapun untuk siapapun. TANPA ARTI.

Salam Perpisahan

Entah mengapa, rasanya cukup sampai di sini aku melangkah. Mungkin aku memang telah terlalu lelah. Mengejarmu, membangun mimpiku, memintamu menjadi pendampingku.

Aku juga tahu, kamu pasti telah bosan denganku bukan? Sudahlah, tak perlu mengeja perasaanku. Lebih baik kamu pikirkan tentang dirimu sendiri, tak perlu ragu untuk ucapkan salam perpisahan, mungkin takdir kita hanya cukup sampai di sini.

Andaikan aku dukun, aku cuma menginginkan satu keistimewaan. Aku ingin melihat paling dasar hatimu. Aku ingin melihat nama seseorang yang sedang engkau sembunyikan itu. Aku cuma menginginkan itu.

Aku pengganggu. Bukankah itu yang sedang engkau alami wahai Taman Surga-ku? Terlalu pengganggukah aku sehingga engkau mendiamkan aku tak menggubris. Engkau campakkan aku dalam keheningan dan kesunyian. Engkau campakkan aku dalam jutaan kemelut rindu.

Maaf karena aku telah jatuh cinta padamu.

Maaf bila rasa ini tak mampu kubendung.

Maaf jika cintaku ini hanya membuatmu sakit perut dan mual ingin segera meninggalkan aku.

Maaf bila aku tak mampu menyembunyikannya.
Baca Selengkapnya

Kesepian Part 2

Andai aku memiliki teman yang mampu mengerti bagaimana rasa kesepian itu. Bukan kesepian biasa yang mampu hilang dengan sendirinya. Kesepian ini begitu menggugat, meminta untuk diperhatikan atau jiwa menjadi taruhan.

Tak ada yang mengerti aku di dunia ini. Tak pernah ada.

Aku berjalan sendirian di dunia ini dalam jiwa yang sepi dan hampa. Aku tidak membutuhkan kekasih teman, aku membutuhkan seorang sahabat. Seorang sahabat yang mampu membawa cahaya dalam ruang pengap gelap hatiku ini.

Bukankah kamu tertawa Ben?” Tanya seorang teman. “Lantas, mengapa sepi masih melanda.

Andai engkau mampu mengerti teman. Andai engkau mampu mengerti…
Baca Selengkapnya

Dan Pasir Pun Berbisik

Kami berdua berjalan diantara pepasir pantai. Aku dan dia, sahabatku. Terkadang kami berjalan bersama diantara riak awan atau menyelam jauh ke dasar samudera. Kami melakukan itu hanya untuk satu hal, berkata dan berbicara.

Sore itu, langit cerah. Sore pantai tak ada panas, hembusan angin sepoi-sepoi mengibarkan ujung-ujung baju kami berdua. Diantara riak ombak kami berjalan bersama, tak memakai alas kaki, begitu terasa di kulit-kulit saraf bagaimana deburan ombak menggelitik.

Bagaimana?” Dia membuka pembicaraan.

Apanya yang bagaimana?” Tanyaku tak mengerti.

Melihat reaksiku, dia hanya terkekeh. “Bagaimana dengan si dia, seseorang yang ada di sini.” Ucapkan sembari menepuk dadaku.

Ahh, akhirnya aku mengerti arah pembicaraannya. “Entahlah.” Jawabku datar.

Siapa namanya? Biasanya kamu menyebutnya dengan sebutan khas.

Hah?” Aku setengah terkejut, pecah dalam lamunan. “Taman Surga, namanya Taman Surga.
Baca Selengkapnya

Mitos

Biarkan aku berjalan diantara tebing-tebing curam, mendaki gunung-gunung tertinggi hingga batas awan tertembus. Biarkan aku menyelami laut-laut terdalam hingga mutiara terindah kan kumiliki. Biarkan aku terbang di ufuk angkasa, hingga aku mengerti hingga batas mana luas jagat raya.

Dan aku berjalan secepat cahaya berjalan.

Dan aku berhembus seperti hembusan angin-angin muson.

Dan aku terbang layaknya elang diantara jejaring mentari.

Akulah gelombang dalam perambatan konstan. Akulah panas dalam api murni nan abadi. Akulah ketakutan dalam kegelapan sempurna. Akulah dingin dalam musim es tak berganti. Maka mengapa dirimu masih meragukan?
Baca Selengkapnya