Antara Langit Biru dan Safana Sepi

Ben, lihatlah lautan ini. Airnya begitu biru, begitu banyak dengan buih yang membasahi pantai. Negeri ini seolah tidak akan pernah kering.

Laut? Aku tidak mampu melihat laut yang engkau ceritakan itu sahabat. Aku tidak melihatnya.

Yang kulihat hanyalah safana. Safana yang maha luas. Safana yang sepi, hanya ada semilir angin yang menggoyang rumput-rumput, dan gemerisik daun yang bersentuhan. Aneh tetapi, di safana ini aku tidak melihat hidup.

Apa yang engkau maksud Ben, aku tidak mengerti. Sepenuh aku tidak memahami ucapanmu itu. Kau meracau! Lihatlah laut biru ini. Tidakkah engkau merasakan sensasi pasir yang menggelitik kakimu, kesatnya garam yang menyetubuhi kulitmu. Ah, lihat itu! Serdadu ikan berlomba menjamah langit biru, tetapi mereka tak akan mampu. Laut adalah hidup mereka, sedang langit hanyalah mimpi.

Apakah aku buta? Bagaimana laut eksis di safana yang begitu nyata dan luas. Tidakkah engkau merasa rerumputan yang menggelayut di kakimu? Ah, hanya sayang. Safana ini begitu sepi, tak ada kehidupan di sini. Bahkan rerumputan yang menyelimuti seluruhnya hanyalah rerumputan kering yang mati, menunggu terbakar hingga semuanya menghitam menjadi abu, lalu membusuk dan menjadi humus. Menjadi ibu baru untuk rumput lain yang akan segera hidup.
Baca Selengkapnya

Pria Matahari

Based from http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=8757

Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.

Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria berkata ingin menjadi matahari. Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari.

Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari.

Pria merenung sendiri dan menatap matahari.

Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut kasih yaitu memberi tanpa pamrih.

Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan, menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.

Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan mencegahnya. Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix. Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam dan mendapatkan cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.

Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita.

Baca Selengkapnya

Sebongkah Letih

Letih ini menghimpitku
antara segempal atau sehasta
tak beraturan terurai mengacak nadi
bibir membiru aku keracunan
letih… teramat letih

Mengapa tak mendebat?
Mengapa cuma diam?
Mengapa cuma hening saat dirimu dipaksa?
Takutkah?

Teramat lama…
Letih yang terus berdenyut dari awal kehidupan
Setelah mati ribuan kali dan hidup ribuan
Letih itu tetap tersimpan di tempat yang sama

Tuhan,
kapan kau hancurkan dunia ini?
Hingga letih pun hancur
bersama dunia yang terhapus.

Baca Selengkapnya

Berbicara Aku Sahabat

Suatu hari ketika sedih itu datang,
hati membisikkan kalimat ini padaku:
“Jika hidup adalah kumpulan airmata,
maka biarkan ia jadi danau
dan pahala dalam hatimu…”

( Windri Septi Januarini )

Rehat sejenak, ternyata aku memiliki teman-teman yang peduli padaku. Ternyata aku tak sesepi yang kuduga. Aku masih memiliki sahabat.

Untuk urusan dunia, aku memiliki R.A Dyah Hapsari Rahmaningtyas atau lebih sering dikenal Aik sebagai teman curhat. Seseorang yang mendebatku dengan cara konyol dan tingkah tololnya. Seseorang yang berkata sesuatu yang hampir belum ku dengar, “Ben, bukan mereka yang meninggalkanmu, tetapi kamulah yang meninggalkan mereka. Kamu membangun tembok tebal yang mengelilingi hatimu.

Untuk urusan hati, aku memiliki Wendri sebagai tumpuan. Seorang teman dimana segera aku menjadi begitu ringan dengan kata-kata tulusnya. Seseorang yang pernah mengijinkan aku menangis dimana semua manusia menentangku untuk meneteskan airmata. Seseorang yang pernah berkata, “Pada mulanya adalah kaki, lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu. Pada mulanya adalah hati, lalu perjuangan dari ragu ke ragu. Windri ga bisa ucap apa-apa, kecuali menangislah beni, apa yang akan terucap jika air mata berbicara lebih dari segalanya. Pria juga memiliki kelenjar air mata kan? MENANGISLAH. Kamu tidak salah!

Aku juga memiliki seorang Nidya Ratih Anjarini. Seorang teman yang sering bertanya tentang persoalan-persoalannya kepadaku, membuatku menjawab, dan membuatku merasa bahwa ternyata aku cukup berguna bagi dunia ini walaupun hanya seserpihan debu.

Lelaki, aku juga memiliki dia sebagai teman. Seorang teman yang kurasa bijaksana dan dewasa walaupun terkadang mampu ku lihat setitik iblis dalam pemikirannya.

Ternyata aku tidak sendiri. Ternyata aku masih memiliki teman. Namun jiwa ini tak mampu dibohongi, aku tetaplah dalam ruang sunyi hitam itu. Aku tetap dalam kehampaan sempurna.

Aku ingin segera berubah.

Kepada Afif, atau sang Novelis Yusaku yang menjadi psikolog-ku, aku sering bertanya. Sesekali berkonsultasi dan menimba ilmu, ternyata belum semua sisi kehidupan mampu kumaknai. Ada banyak sisi lain yang belum kutahu itu apa. Atau mungkin itu cuma kendala bahasa.

BERBICARA AKU SAHABAT
Baca Selengkapnya

Belajar Melupakan

Ijinkan aku belajar melupakanmu. Aku yakin, kau pasti menginginkan aku mempelajari itu. Namun aku ragu, benarkah tidak ada setitik cinta pun di hatimu terhadapku. Setelah semua kenangan yang kita ciptakan. Setelah semua memoriku terisi oleh namamu.

Maafkan aku jika membuatmu tersakiti. Katakan saja jika memang iya, karena aku bukan orang yang mampu mengerti letak dimana salahku.

Mengapa hanya diam. Mengapa hanya mengacuhkan. Atau memang begitu caramu untuk mencampakkan?

Aku sadar. Mungkin dalam perjalanan panjang kita pun engkau telah tersadar. Aku tak pantas untukmu. Aku hanyalah serpihan debu yang tak berarti, sedangkan engkau laksana puteri bagiku. Jujur, aku selama ini tersilau.
Baca Selengkapnya