Suci Sekeping Hati

Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

Baca Selengkapnya

Tuhan Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir

Sudah lama sekali aku tidak ke kampus. Lama aku berdiam di dalam rumah cuma untuk mempelajari MATLAB (maklum, aku sama sekali tidak familiar dengan MATLAB), dan bagaimana menghitung algoritma untuk membuat permodelan Stewart Platform. Aku penasaran, bagaimana membuat animasi dengan Stewart Platform, dan akhirnya tadi pagi kelar juga.

Masih sederhana, namun aku rasa cukuplah untukku yang mahasiswa di ujung tanduk.

Hari ini, aku ke kampus, langsung menemui dosen pembimbingku. Langsung berhadapan muka, langsung memberi salam, langsung duduk di depannya, langsung membuka laptopku, langsung berkata, “Programnya sudah siap, Pak.”

Aku memperlihatkan hasil animasi dari pergerakan Stewart Platformku. Masih berupa animasi sederhana dari program MATLAB menggunakan aturan matriks homogen. Aku belum memasukkan masalah dinamik di sana karena itu bukan bagian dari TA-ku.

Baca Selengkapnya

Bosan, Tuhan, Budak, dan Manusia

Kadang seseorang bisa menjadi begitu bosan dengan rutinitas harian mereka. Terkadang mereka bosan dengan pekerjaan yang dengannya mulut mereka tersuapi, kadang dengan pasangan yang telah memberi mereka anak. Dan beberapa orang aku ketahui mulai bosan dengan kehidupan, mereka bosan dengan Tuhan. Ada beberapa orang yang semakin hari semakin ramai di kalangan mereka. Mereka percaya bahwa alam mampu hadir tanpa peran Tuhan. Dan manusia mereka anggap berasal dari monyet.

Baiklah. Kita tidak akan membahas tentang mereka. Karena tugas kita adalah berbicara, mengajak dengan sebaik-baik bahasa dan perkataan. Masalah mereka menurut apa yang mereka pikirkan, atau apa yang kita pikirkan, itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita bukan memaksa mereka, cuma Tuhan yang mampu memaksa. Tugas kita adalah cuma menyampaikan, apa yang semestinya tersampaikan.

Dan aku bosan. Aku mulai bosan dengan rutinitasku yang cuma hampir 24 jam berada di kamar bahkan tidak menjejakkan kaki ke pintu terluar atau pagar dari areal rumah ini. Sungguh aku bosan untuk terus berada di kamar. Aku ingin pergi, sama seperti orang pada umumnya: menikmati udara dan sinar mentari.

Aku bosan dengan laptopku yang cuma 1 jam aku matikan di antara 24 jam perputaran waktu sehari-semalam. Aku bosan dia tetap hidup dan terus bercahaya. Aku ingin di padam, lantas semua lampu juga aku matikan. Aku ingin nyenyak tertidur tanpa harus bangun dengan perasaan pelik dan gundah.

Baca Selengkapnya

Halusinasi

Semakin parah saja. Tiba-tiba aku berpikir hendak memencet jam di bagian sudut kanan bawah layar monitor laptopku. Aku merasa hendak menghentikan waktu, namun saat hendak aku lakukan aku tersadar: tidak ada orang yang bisa menghentikan waktu.

Hampir semingguan ini aku tidur setelah matahari terbit. Kadang pukul 8 pagi kadang pukul 9. Malah kadang aku tidak tertidur sama sekali. Ada sebuah proses yang harus aku kejar dan aku benar-benar gelisah. Ketika aku terhenyak betapa bodohnya aku dengan kapasitas otak yang tidak bisa dipress untuk bekerja dengan lebih lincah.

Beberapa hari ini aku mengantuk sekali, sampai hampir seperti halusinasi. Seperti orang terhipnotis. Apa yang masuk ke otakku tidak aku tangkap dengan sepenuhnya, antara masuk dan tidak dia melayang-layang seperti bisikan arwah gentayangan.

Sakit kepala yang berlebihan sudah tidak lagi. Dalam artian aku sudah jeda dengan berkoyok-ria. Namun, jika sudah mengantuk begini, kepala belakangku rasanya seperti berat dan mataku susah sekali dibuka.

Semoga setelah ini berlalu, aku bisa kembali normal lagi.

Anak Ingusan

Well, hari ini aku menjadi anak ingusan. Anak ingusan dalam pengertian yang sebenarnya yaitu hidungku terus menerus mengeluarkan ingus dan mengeras. Agak aneh rasanya ketika hidungnya mengeras, aku menjadi merasa tidak mood untuk mengupil.

Tetapi ada yang aneh di sini. Ingusku tidak seperti ingus anak pada umumnya yang kental, berlendir, dan lengket. Ingusku ini cair, malah seperti air dan warnanya kuning. Jika aku menengadah ke atas dan mengesap ingus yang belum keluar itu kembali, kepalaku terasa saat pusing dan sakit. Sama seperti rasanya ketika tanpa sengaja kamu mengesap air melalui hidungmu. Parahnya lagi adalah, aku tidak mampu menghentikan ingus cair ini seperti ingus-ingus pada umumnya.

Aku baru tersadar bahwa aku beringus pagi tadi. Saat aku terbangun dengan terpaksa karena aku mengesap ingus tanpa sengaja yang membuat kepalaku seperti kemasukan alien. Saat aku bangun, ingusnya belum keluar. Baru saat aku membaca beberapa journal yang sudah aku print, tanpa kusadari ada air yang keluar dari hidungku dan menetes di lembaran-lembaran putih jurnalku. Warnanya kuning.

Baca Selengkapnya