Namaku Kathmandu

sufism
sufiroad.blogspot.com
Rosario itu masih mengamit di tanganku. Dalam genggamanku dia berputar, sehaluan dengan bait-bait nama Tuhan yang bertasbih dari bibirku. Bibir kering yang terlalu lama tidak disirami air. Liurku juga telah kering, bahkan sering sekali kerongkonganku terasa sakit. Panas membumbung tinggi, matahari seperti sejengkal di atas ubun-ubun.

Rosarioku adalah tasbih yang unik, terukir dari biji-biji korma yang telah dikeringkan. Korma adalah makanan yang disukai nabiku, aku menjadikannya sebagai rosario sebagai bentuk cinta walau aku tetap memakan gandum yang telah menjadi roti. Cuma sesekali aku memakan korma, aku tidak begitu suka dengan sesuatu yang manis kecuali susu dengan tambahan sedikit gula.

Tidak cuma biji korma. Aku juga menyimpan segenggam pasir dari tanah yang pernah disinggahi oleh nabiku. Pasir itu kumasukkan ke dalam sebuah kantung yang kukalungkan dileherku. Sesekali jika cintaku telah begitu melangit maka aku berdiam sejenak, kutundukkan kepalaku ke tanah lantas kantung pasir itu kuciumi. Aku seperti sedang menciumi kaki nabiku.

Aku cinta nabiku.

Guru sering bercerita, dulu. Dia pernah kata bahwa nabiku adalah manusia suci, yang dosanya terampunkan dahulu, sekarang, dan masa akan datang. Nabiku adalah pecinta Tuhan sejati. Walau Tuhan telah mengampunkan segala dosa-dosanya, namun nabiku tidak langsung naik kepala. Dia tetap tekun bercinta dengan Tuhannya. Saban malam dikorbankan tidurnya demi Tuhannya. Pernah ditanya mengapa hal demikian dia lakukan, dan engkau tahu jawabnya? “Tidak bolehlah aku menjadi hamba yang bersyukur?

Baca Selengkapnya

01:29:25

Satu jam, dua puluh sembilan menit, dua puluh lima detik. Selama itu waktu yang aku habiskan untuk menghubungi temanku yang tersisa di mana aku bisa curhat sepuasnya. Thank you Aik.

Dari magrib aku sudah ingin menghubunginya, tetapi ternyata kartu simpatinya sudah habis umur. Memang itu si Aik, tidak pernah pula dia isi pulsa agar si kartu merah dengan seratus juta pelanggan itu memperpanjang sisa umurnya. Sadis! Memang si Aik itu kelewat sadis. Akhirnya diputuskan akan digunakan handphone nyokapnya untuk kutelepon. Tetapi, ternyata eh ternyata bokap dan nyokapnya sedang kedokter.

Baru, pukul 22:49 WIB aku menghubunginya. Di tengah badai kantuk yang melanda kami berdua.

Setelah menye-menye sebentar, meringkuk cengeng yang dibuat-buat, akhirnya si Aik mulai bersuara. Dia membuka mataku tentang hal-hal lain di luar jangkauanku yang memang belum terlalu dewasa dalam menyikapi sesuatu. Memang si Aik sudah kelewat over dosis memakan asam garam kehidupan, makanya badannya itu subur tambun tidak terbantahkan.

Baca Selengkapnya

Mentawarkan Kesedihan

Ada banyak kesedihan yang harus ditawarkan dalam setiap perjalanan kehidupan. Bahkan pun gembira harus ditawarkan, agar tidak menjadi terlalu manis, asin, ataupun pahit. Kebanyakan orang tidak pernah mentawarkan diri mereka kepada kebahagian, seperti manis yang selalu hidup di dalam diri kita. Kita terus mengkonsumsi manisnya kehidupan sehingga tidak punya ruang untuk mengingat bahwa dalam setiap episode, ada namanya kesedihan.

Kesedihan seringnya datang dengan berbagai rasa. Aku kadang merasakannya sebagai suatu yang pahit, lebih pahit dari obat. Kadang asin, lebih asin dari lautan ataupun tambang garam. Kadang serupa manis yang keterlaluan.

Banyak yang bingung. Bagaimana kesedihan mampu datang dalam bentuk yang begitu manis. Kadang, dalam suatu rasa kesedihan, ada sebuah rasa seperti mendapatkan berita baru dalam suatu kehidupan. Menambahkan satu poin kebijakan dalam memandang hidup ini. Aku memberikan rasa manis terhadap kesedihan yang demikian. Manis yang keterlaluan.

Namun, apa yang aku rasakan saat ini belum mampu aku jabarkan. Dalam kategori manakah kesedihan yang sedang berlangsung ini. Apakah dia akan menjadi sesuatu yang aku sebut pahit, ataukah asin, atau mungkin jika kelak di ujung aku akan menyebutkan sebuah rasa manis yang ditawarkan kehidupan oleh rasa luka.

Baca Selengkapnya

Aku Tidak Akan Mengganggumu Lagi

2 Mei 2011. Aku harus mencatat tanggal ini. Bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, aku pun telah membuat janji pada diriku sendiri: AKU TIDAK AKAN MENGGANGGUNYA LAGI.

Kisah selengkapnya, biarlah livejournal-ku yang berkisah. Biarlah aku dan orang-orang terdekatku yang membaca, bahwa mungkin seseorang memang tak pernah ingin diganggu lagi olehku. Mungkin aku telah menjadi sangat mengganggu dirinya.

Seharusnya, kata-kata perpisahan bukanlah menjadi bagian poin dari sesuatu yang bisa dicandakan. Karena ada banyak kesedihan dalam sebuah perpisahan. Dan ketika seseorang mulai menganggap aku begitu mengganggu, maka akan akan mencoba tulus meninggalkannya. Aku tidak pernah ingin menyakiti siapa pun walau pun terkadang, aku yang paling banyak menyakiti orang lain.

Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku berjanji. Karena aku mencintai kamu.