Ayo Tersenyum!

Senyum itu indah, walau terkadang teramat pahit melakukannya. Apalagi jika sesuatu yang terlalu menyakitkan dada, bahkan ketika engkau menangis. Senyum itu sungguh teramat indah.

Dia menjadi diam, lebih diam dari biasanya. Aku cuma tahu, dia sedang menangis. Begitu pun aku di sini, aku menangis.

Sulit memang rasanya jika seseorang yang kita cintai namun ditolak oleh orang-orang sekitar kita cuma karena mereka belum mengenal dia. Rasanya begitu sesak, bahkan bergalon-galon air mata rasanya tidak juga cukup untuk menutupi seluruh lara yang mendera.

Yang harus kamu pahami bahwa, mereka melakukan itu karena mereka mencintai dirimu. Ribuan kali rasa cinta lelaki itu terhadapmu tiada mampu menggantikan rasa cinta ibumu kepadamu. Ikutilah ibumu, sebelum ucap kata dengan seorang lelaki mengikatmu, kamu masih menjadi milik ibumu. Kelak, ketika ucap kata terikat, baru engkau akan menjadi milik lelaki itu.

Baca Selengkapnya

Emailgram Perak

Jujur, aku tidak tahu siapa penemu emailgram perak. Namun, jika dia seorang Islam kemungkinan besar dia akan masuk surga karena jasanya tersebut. Mengapa? Karena hampir setiap kita diberi keuntungan atas temuannya tersebut. Hampir setiap hari kita tidak lepas dari bercermin, dan emailgram perak berperan penting dalam proses tersebut. Emailgram perak adalah pelapis pada kaca sehingga kita mampu bercermin dengan sempurna.

Kadang aku sering mendengar orang-orang berkata berkaca diri. Artinya, setiap orang harus mengevaluasi apa yang terjadi pada dirinya agar menjadi lebih baik. Sayangnya, sering kali kita mampu mengevaluasi diri namun tidak juga menjadi lebih baik. Aku, contohnya. Aku kadang tahu di mana letak salahku namun agar berlaku kebaikan dari apa-apa yang aku tahu itu salah, aku belum lagi mampu.

Bercermin tidak harus melalui diri sendiri. Capek! Ada cara yang lebih mudah untuk menilai diri kita seobyektif mungkin. Caranya adalah dengan menjadikan orang-orang lain sebagai cermin kita. Cermin yang paling bagus adalah musuh kita, mengapa? Karena dengan egonya dia menilai kita secara “jujur”.

Baca Selengkapnya

Ayo Jadi Sapi

Sapi kamu!

Kontan, orang jika dikatai demikian pasti akan sangat marah. Reaksi paling respontif untuk menekan kemarahan adalah muka mereka memerah, namun ada juga yang tersenyum mendengar itu. Mungkin kebetulan mereka sedang tuli.

Kadang aku berpikir, menjadi sapi itu menarik. Aku melihat proses memamah biak yang dilakukan oleh sapi dan aku ingin menerapkannya di dalam diriku sendiri.

Pertama, sapi memakan rumput-rumputnya dan langsung memasukkannya ke dalam lambung, jika suatu ketika sapi sedang santai, dia akan memuntahkan kembali makanan itu untuk dikunyah pelan-pelan. Dengan santai sapi mengunyah rumput-rumput itu hingga halus dan memakannya kembali.

Aku berpikir, bagaimana jika hal tersebut aku terapkan di dalam proses pembelajaran?

Baca Selengkapnya

Aku Munafik

Beberapa hari ini aku merasa menjadi munafik. Mengapa? Karena ada banyak janji yang tidak bisa kupenuhi dan aku terus berjanji.

Sore kemarin, Ibnu telepon apa aku bisa bertemu dengannya di mesjid Oman selepas Ashar? Aku iyakan dengan menjawab iya. Namun apa yang terjadi? Karena terlalu asik menonton film “The Blind Side” aku terlupa untuk pergi ke mesjid dan shalat berjamaah di mesjid Oman. Film selesai dan aku melihat jam sudah pukul 16:00 lewat. Aku sadar namun aku menunda.

Sadar hal tersebut, selesai shalat aku menelepon Ibnu namun ternyata terjadi masalah jaringan. Telepon tidak diangkat dan terus bernada sibuk dan mengatakan bahwa Ibnu tidak dapat dihubungi. Baru setelah beberapa lama, setelah aku berada di Aceh IT Center, aku dapat menghubungi Ibnu.

Aku kecewa sekali dengan diriku sebagai seseorang yang tidak mampu menepati janji. Aku merasa, aku ini munafik.

Baca Selengkapnya

Cinta Tanpa Kelamin

Ya, aku mencintai lelaki itu. Jangan berburuk sangka bahwa ini adalah percintaan sejenis. Bukan, ini adalah cinta tanpa kelamin.

Lelaki yang kucinta itu adalah lelaki yang selalu kurindu. Aku teramat salah kepadanya. Cintaku yang membuta, menjadikan nasipnya nestapa. Aku terlalu cinta, tak kusadari telah terlalu jauh aku mengguncang pribadinya. Aku salah. Aku berdosa.

Cintalah yang menggerakkan aku agar dia mendapatkan cintanya. Namun, mungkin caraku dianggapnya salah. Namun, untuk segala prasangkanya itu kepadaku, dia juga salah. Tak pernah ada di dalam hatiku mencintai wanita yang sedang dicintainya. Tak pernah sekalipun.

Baca Selengkapnya