Langit-langit biru runtuh, tepat di mataku. Langit berganti rupa, hitam lebih pekat dari malam. Bintang-bintang pun padam. Matahari telah terhapus dari gugus galaksi. Bumi, negeriku, seolah padam dan tersedot lubang hitam. Segala hal suram, tak ada ruang bernapas. Bahkan oksigen pun menjadi sesuatu yang tak mampu diterima paru.
Ah cinta. Segala hal yang kusebut di atas semerta berubah warna. Bahkan cinta membuat polusi nuklir menjadi seindah pupuk kompos. Menghidupkan bunga segala bunga. Aku yang sepi terbangun. Bukankah cinta adalah anugerah?
Berapa lama lagi harus kutahan. Sangat hendak aku bilang: engkaulah segala napas mengapa aku tetap hidup, denyut-denyut yang tak terbantahkan mengaliri tiap pori kulitku. Warna dalam setiap dimensi hidup.