Ada Hantu di Sini

Ternyata di rumah pamanku ini ada hantu.

Begini ceritanya, tadi malam waktu aku pulang, nenek yang membukakan pintu. Nenek tanya, “Lho, kok kamu baru pulang, terus waktu maghrib yang di atas siapa?”

Deg. Jantungku mulai tak karuan. Ditambah, mamak juga menyinggung hal yang serupa bahwa dikira aku itu ada di rumah, karena tadi Maghrib di kamar atas seperti ada orang berjalan kaki, tingkahnya sama sepertiku.

Masuk ke kamar tidur, aku checking di foursquare, sebuah sosial networking berbasis tempat. Isi pesannya: Ada hantu di rumah. Pesan serupa langsung terkirim juga ke facebook dan twitter secara otomatis.

Baca Selengkapnya

Berhenti Membaca

Aku TIDAK memiliki tekad untuk BERHENTI membaca, namun membaca membuat aku semakin sesak. Jantungku selalu berdebar lebih kencang saat membaca, suatu fase yang aku sendiri tidak paham.

Buku-buku semakin aneh. Aku bingung dengan laku yang diceritakan pada setiap buku. Aku semakin tak paham, tak juga mampu tuk dimengerti. Kadang kisah dalam buku adalah kisah-kisah yang indah, namun mengapa sekarang aku membaca kisah yang pilu. Aku belum sanggup untuk menanggung semua derita, derita dari setiap buku atau aku yang menderita karena buku.

Aku cuma seorang pembaca. Membaca apapun yang terserak.

Hati-hati manusia itu seperti buku. Agak sulit membaca banyak buku dalam waktu beriringan. Sebelum satu buku khatam, engkau membuka lembar lain dari buku yang berbeda. Ejaan perasaan, tekad, kesabaran, cinta, usaha, kegigihan, dan keterpurukan. Semua aksara telah dengan jelas diguratkan pada lembaran-lembaran kisah, namun pada aksara mana kita menulis.

Baca Selengkapnya

Ubud Writers Festival

Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan notifikasi email di facebook. Kata ada kiriman surat di facebook untukku. Ternyata yang mengirim adalah Winda, teman sekelasku waktu smu dulu. Dia mengabarkan bahwa dia sedang mengikuti kontes flash fiction di Ubud Writers Festival dan meminta kami mem-vote-nya.

Penasaran, aku membaca ceritanya dan kesanku adalah bagus. Ceritanya bagus, lebih bagus daripada cerita-ceritaku.

Aku pun merasa tersindir, karena seperti yang orang-orang tahu, yang lebih sering menulis adalah aku. Maka aku pun ikutan juga, aku mencoba membuat sebuah fiksi mini di ajang Ubud Writers Festival tersebut, judulnya Anak Haram.

Judul link tulisanku itu ada di http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/09/anak-haram/ TOLONG DI VOTE YA !!!

Baca Selengkapnya

Benci

Entah mengapa, aku tidak suka jika seseorang menyimpan energi kebencian di dalam dirinya. Sama seperti tidak sukanya aku kepada dia yang telah membenci diriku. Dan aku pun tidak suka kepada diriku sendiri yang membenci seseorang yang memang patut untuk dibenci.

Dan seseorang yang sedang aku cintai ternyata sedang memendam sebuah kebencian, kepada seseorang yang dia ceritakan kepadaku barang tempo hari.

Sungguh aku ingin katakan, “tolong jangan pernah membenci

Terlebih, terhadap kebencian-kebencian yang tidak beralasan. Dan jangan mencari-cari alasan untuk membenci. Bencilah sesuatu yang memang seharusnya dibenci, seperti engkau membenci kemungkaran sebagaimana engkau dibenci dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Kadang benci timbul akibat efek rindu. Semakin benci engkau, sesungguhnya semakin rindu pula dirimu. Engkau yang rindu untuk membencinya atau engkau benci dengan kerinduan yang engkau ingkarkan itu.

Baca Selengkapnya

Parcel

Di rumah Cekpi ada satu kiriman parcel. Tadi pagi, waktu kami sahur parcel itu dibuka. Sudah beberapa bulan ini aku tinggal di rumah Cekpi karena rumahku sedang direnovasi. Semua rumah dibobok, serta hendak dinaikkan jadi lantai 2 (dua). Padahal, arsiteknya sudah mengatakan ongkos untuk membobok dan renovasi rumah serta menaikkan menjadi lantai 2 ongkosnya lebih mahal daripada membuat sebuah rumah baru, tetapi karena mamak sudah kerasan tinggal di lingkungan Kuta Alam, maka alternatif yang lain tidak diambil.

Berbicara tentang parcel, ingatanku terbang ke beberapa tahun yang lalu. Dulu, aku suka sekali yang namanya hari raya. Mengapa? Karena jika sudah hari raya dapat dipastikan rumah kami akan kebanjiran puluhan parcel dari orang-orang. Parcel yang paling aku suka dan kutunggu adalah dari cabang Aceh Utara atau Lhokseumawe, berkotak-kotak minuman bersoda seperti Fanta, Coca-cola, dan Sprite dikirim dari sana.

Dulu, ketika ayahku masih menjabat sebagai direktur bank di Bank Pembangunan Daerah, hampir setiap hari raya rumah kami yang kecil dipenuhi parcel-parcel. Hari raya juga berarti bahwa kami harus menyiapkan rumah dengan ekstra keras, karena ada satu tradisi dari keluarga BPD, yaitu mereka akan berbondong-bondong berombongan datang ke rumah para pucuk pimpinan tertinggi institusi tersebut.

Menyenangkan sekali rasanya mendapatkan parcel-parcel dari kantor-kantor cabang ke rumah, itu belum lagi kiriman dari pihak personal. Dulu, sama sekali tidak ada larangan untuk mengirimkan parcel. Parcel menjadi salah satu gaya hidup, bukan sesuatu yang dianggap sebagai suap.

Baca Selengkapnya