Di rumah Cekpi ada satu kiriman parcel. Tadi pagi, waktu kami sahur parcel itu dibuka. Sudah beberapa bulan ini aku tinggal di rumah Cekpi karena rumahku sedang direnovasi. Semua rumah dibobok, serta hendak dinaikkan jadi lantai 2 (dua). Padahal, arsiteknya sudah mengatakan ongkos untuk membobok dan renovasi rumah serta menaikkan menjadi lantai 2 ongkosnya lebih mahal daripada membuat sebuah rumah baru, tetapi karena mamak sudah kerasan tinggal di lingkungan Kuta Alam, maka alternatif yang lain tidak diambil.
Berbicara tentang parcel, ingatanku terbang ke beberapa tahun yang lalu. Dulu, aku suka sekali yang namanya hari raya. Mengapa? Karena jika sudah hari raya dapat dipastikan rumah kami akan kebanjiran puluhan parcel dari orang-orang. Parcel yang paling aku suka dan kutunggu adalah dari cabang Aceh Utara atau Lhokseumawe, berkotak-kotak minuman bersoda seperti Fanta, Coca-cola, dan Sprite dikirim dari sana.
Dulu, ketika ayahku masih menjabat sebagai direktur bank di Bank Pembangunan Daerah, hampir setiap hari raya rumah kami yang kecil dipenuhi parcel-parcel. Hari raya juga berarti bahwa kami harus menyiapkan rumah dengan ekstra keras, karena ada satu tradisi dari keluarga BPD, yaitu mereka akan berbondong-bondong berombongan datang ke rumah para pucuk pimpinan tertinggi institusi tersebut.
Menyenangkan sekali rasanya mendapatkan parcel-parcel dari kantor-kantor cabang ke rumah, itu belum lagi kiriman dari pihak personal. Dulu, sama sekali tidak ada larangan untuk mengirimkan parcel. Parcel menjadi salah satu gaya hidup, bukan sesuatu yang dianggap sebagai suap.
Baca Selengkapnya