Terkapar Rindu
Lelaki terkapar. Memandang langit. Berusaha melukis rindu.
Badai ini tidak datang untuk pertama kali. Mengapa tidak mengeja masa lalu, ketika badai yang sama terbit dan bagaimana engkau mengeja langkah. Meminta jejakmu tetap tegak dengan kaki kokoh menopang segenap gundah.
Semalam, gundah semakin gulana. Berpuluh-puluh lembar mushaf terbuka, namun gundah belum juga hilang. Lelaki seperti hendak gila.
Mungkin beginilah Majnun, ketika digilakan oleh Layla. Atau beginilah Zulaikha yang begitu rindu kepada Yusuf pujaannya.
Keputusan Besar
Adakah yang lebih indah daripada engkau mencintai seseorang dan orang tersebut juga mencintai dirimu? Sungguh aku sedang mencintainya dan aku pun merasa dia sedang mencintai diriku. Dan dia serius dengan cintanya ketika gamangnya dia hendak bertanya kepada siapa tentang aku. Aku seutuhnya. Aku sejujurnya.
Tetapi cinta juga harus dibarengi dengan konsekuensi. Cinta harus pula memikul tanggung jawab. Kedua kami belum lah lagi mampu untuk itu.
Pertama sekali sebuah email tentang rasa masuk ke dalam inbox-ku, aku seperti melayang ke surga. Aku menangis. Aku tidak mampu mengukir kata untuk menjawabnya. Aku cuma bisa kata: “aku juga.”
Kilatan mimpi-mimpi terbang menembus awan. Orang-orang bumi sering mengatakan: itu kebahagiaan. Aku merasa sangat bahagia dengan hari itu. Aku merasa mimpi-mimpi yang aku kalkulasikan akan segera menjadi nyata.
Bagiku, mencintai dan dicintai bukanlah sebuah beban. Bukan sesuatu yang harus dibenci dan diasingkan. Adalah bagaimana kita bisa mengontrolnya.
Semakin Membadai
Duhai pagi, mengapa jantungku masih berjalan dengan tiada detak yang seragam.
Semalam engkau bermimpi apa?
Aku lupa. Aku cuma ingat, aku takut bangun ketika pagi tiba.
Mengapa?
Seperti semalam. Aliran rindu datang tak kunjung jemu.
Apakah tentang bidadari ketiga?
Cuma Nama
Ah malam, mengapa membuat jantungku berdetak dengan sedemikian kencang.
Baiquni kenapa?
Angin malam menusuk dadaku. Memompa jantungku dengan tasbih degub yang tiada berjalan beriringan.
Apa yang telah kau sentuh?
Cuma 2 botol Tebs dan sepotong burger yang over sambal.
Lantas mengapa angin dan apa yang kau sentuh meminta jantungmu berdetak lebih kencang?
Apa mungkin karena rindu? Mungkin benar ini karena rindu. Mungkin benar ini karena rindu. Sungguh benar ini karena rindu.