Kategori: Sampah Hati
Mungkin Salah Sangka
Si Nidya, alias suka kolah alias patkai, alias tukang ngepet lagi online. Beberapa minggu terakhir ini dia suka sekali online malam, ntah kenapa. Beberapa waktu yang lalu aku sempat telepon dan sms dia tetapi enggak dibalas.
Waktu dia online tadi, langsung kuserobot: “napa telepon ama smsku ga kowe balas?”
“Hp ku dipake ma mama aku,” begitu katanya dengan mukanya yang bego.
Akhirnya akupun curhatlah ke dia soal bidadari ketiga. Aku bilang ke dia, “ternyata memang benar bukan aku yang “dia” suka. Aku salah paham selama ini“. Gitu aku ngomong ke dia.
Bertubi Rindu
Aku rindu dia. Bidadari ketiga.
Lama tak ada kabar, sudah dua hari lebih tak saling sapa. Aku rindu. Bertubi rindu. Rindu sekali.
Aku ingin bilang bahwa “aku suka dia“: tapi tak berani.
Aku belum mampu. Belum lagi tangguh, dan tegak punggungku berdiri.
Namun hati ini juga sakit. Awalnya kukira rasa yang tersimpan dalam hati ini memiliki celah untuk sebuah balasan, namun diagnosaku salah. Bukan aku yang sedang ada di dalam hatinya.
Aku tak peduli. Tak peduli dia cinta padaku atau tidak. Aku cuma mencintainya, cukuplah itu, telah tertulis hal tersebut dalam buku catatan takdirku.
Bertubi rindu. Menunggu balas, entah kapan tiba. Aku rindu.
Ayo Bersabar !!!
Mempelajari kesabaran itu serta keikhlasan memiliki kedalaman seluas lautan. Kesabaran tidak mengujimu dari seberapa berat penderitaanmu, namun juga menguji seberapa sanggup engkau menerima sebuah kenikmatan. Kebanyakan yang diuji dengan kesulitan berhasil lolos, namun ketika diuji dengan kenikmatan, betapa banyak yang jatuh bergelimpangan. Zuhud adalah jalan untuk tetap bersabar dalam kenikmatan.
Tuhan menguji kesabaranku dengan cinta. Dijadikan aku seorang lelaki yang pemalu. Tak pernah berani mengunggapkan cinta kepada orang-orang yang kucintai, sehingga akhirnya mereka-mereka yang kucintai itu satu per satu melangkah pergi, digandeng oleh orang-orang yang berhasil memperoleh cinta mereka.
Tuhan juga memberiku begitu banyak kecemburuan dalam hati, sehingga seseorang yang mencintaiku akan ditimpa ujian berupa kecemburuan yang sangat dariku. Mereka pun pergi karena tidak tahan dengan kecemburuanku dan berujung akulah yang harus kembali bersabar.
Ikhlas itu Sungguh Teramat Indah
Hari ini aku chatting dengan bidadari. Dia bertanya mengapa aku menghapus dia di akun facebooknya. Sebelumnya dia sudah sms aku, telepon juga sudah. Dia minta kejelasan dan konfirmasi, jangan-jangan aku termakan seseorang yang sedang mengganggunya. Dia takut jika aku lebih mempercayai orang tersebut daripada dirinya yang sudah lama berkenalan.
Jelas dia salah sangka. Aku memang telah menutup akun facebookku jauh-jauh hari.
Kami pun chatting. Dia bercerita bahwa dia akan menikah tahun ini. Kali ini jujur-sejujurnya. Aku pun bahagia, dan entah mengapa tidak ada perasaan yang mengganjal di hati. Dulu, jika dia berucap demikian, akan sakit sekali hati ini namun sekarang perasaan itu telah pergi. Aku mungkin telah belajar setetes embun dari ikhlas.