Tina Toon dan Blogger

Dari kemaren aku buka blogdetik, yang pertama nampang itu wajahnya Tina Toon. Itu loh yang terkenal dengan lagunya: “Baiquni bolo-bolo, gantengnya bolo-bolo, sumpah mati bolo-bolo…” (lagu diedit secara maksa tanpa mengenal etika. Jangan ditiru!).

Aku buka blog na dia eh cuma nampang 1 postingan, ada fotonya dia, trus beberapa ucapan singkat yang intinya dia itu mantan pacarku perkenalan gitchu deeh… Tapi ya Tuhan, itu komentar banyak banget. Padahal kalo mo narsis, aku mah lebih narsis, lageee…

Aku jadi pengen jadi seleb kek na. Biar blog aku banyak yang komentar.

Baca Selengkapnya

Negeri Letih

Sebuah negeri diciptakan Tuhan di hati-hati tiap manusia. Manusianya menyebutkan letih, lelah, penat, capek walau dengan berbagai bahasa disimbolkan namun tujuan penjelasan makna tetap sama: Letih.

Tak ada manusia yang tak pernah merasakannya. Bahkan diujung kesabaran seorang nabi pun, letih telah hinggap. Keletihan seorang rasul dalam mengembalikan umatnya ke jalan yang lurus akan menyebabkan umatnya yang durhaka terserang bala. Demikian mengerikan efek suatu keletihan, namun tak ada yang pernah menduga.

Negeri letih itu sekarang menghinggapiku. Membuatku seujung kuku daripada batas menjadi gila. Sungguh, aku kelelahan.

Bagaimana jiwa ini mampu terus menahan dari godaan-godaan iblis, setan, dan kroco-kroconya yang terkutuk. Bahkan manusia pun ada yang menjadi iblis, belum lahir hatiku yang berontak ingin juga menjadi iblis. Mungkin cuma imanku saja yang terus menerus menutup pintu agar tak lemah aku dalam pertempuran tanpa pemenang ini.

Bagaimana manusia menghadapi gempuran dari negeri letih? Tak ada yang menduga.

Baca Selengkapnya

Tuhan, Aku Lelah

Tuhan, Aku lelahTerkadang aku menjadi begitu lelah, terutama dalam menata hati. Ada banyak bagian yang begitu susah kumengerti, ntah bagaimana Tuhan menjadikannya hingga begitu rumit untuk kupahami.

Bukan hanya perasaan cinta yang harus kutahan agar tak menggebu, atau perasaan sedih yang harus ku urai agar tak menyepi aku dalam lubang hitam pekat tak bermassa. Banyak hal yang masih tak kumengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu dua puluh tahun belum cukup bagiku memetakan sifat-sifat dasar manusia.

Lelah, aku begitu lelah. Ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, namun rasanya akan sangat sulit. Berbaring hibernasi puluhan abad pun tetap tak akan mampu mengangkat rasa letih ini. Rasa yang begitu membuatku menghela nafas panjang. Aku capek!

Tuhan, aku lelah. Aku merasa Engkau mengerti, namun mengapa terus menunda mencabut akar jiwa ini? Tugas apalagi yang belum tuntas?

Baca Selengkapnya

Segala Suntuk

Suntuk itu hadir kembali.

Terus menerus menggempurku. Melelehkan cinta dan empati seolah aku tidak pernah peduli dengan semua itu, tidak pernah peduli!

Mereka keheranan, “Ben, bagaimana engkau bisa berubah demikian cepat? Bahkan cinta tak membuatmu berpaling.

Suntuk membuatku tak menghiraukan mereka. Terlalu lelah aku, telah terlalu lelah. Suntuk telah menyita segala ruang hati, bagai lubang hitam yang menghisap apapun.

Tuhan, bagaimana bisa engkau ciptakan satu rasa dalam diriku yang seperti sedemikian ini!

Dan aku pun berlari mengitari sahara, mengitari semua kutub dan benua. Membawa obor kegelapan dari jutaan tempaan hening. Dan kesunyian menjadi begitu nyata… TAK TERGUGAT.

Tuhan, sampai berapa lama rasa ini tetap ada?

Cinta datang menyembah kepadaku, “gantikan aku dengan rasa sepi itu,” pintanya.

Andai aku bisa,” jawabku.

Dan keheningan telah mengkanker ganas dalam diri ini. Berdiri kokoh dengan status quo-nya.

Segala Suntuk! Sungguh itu ada

Baca Selengkapnya

Surat Untuk Yang Tersakiti

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.

Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.

Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.

Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?

Baca Selengkapnya