Menjadi Lebih Baik

melihat lebih baik
sumber: mobavatar.com

Menjadi baik, apalagi secara dadakan, ternyata tidak mudah. Jauh hari, aku sudah membayangkan laku baik apa yang akan aku lakukan bulan ini. Seperti: berderma, ngaji, shalat tepat waktu, dsb. Tapi, mimpi tinggal mimpi.

Apa yang kita pikirkan, sering kali susah untuk ditunaikan. Terutama jika TIDAK memiliki tekad dan ketekunan. Sama seperti temanku, pernah suatu ketika mengatakan akan berhenti merokok di akhir tahun. Tapi, buktinya sekarang sebatang rokok sedang terselip diantara kedua bibirnya dengan asap putih yang naik dari api yang membara.

Berpikir menjadi baik dan bertindak menjadi baik, mungkin adalah hal yang berbeda. Sering sekali aku mendengar, beberapa berikrar menjadi baik setelah trigger tertentu terjadi, semisal akan berubah jika sudah berumah tangga. Bullshit!

Pikiran kadang menjadi candu, apalagi jika batas antara kemampuan dan khayalan menjadi begitu tipis. Pernah juga aku mendengar seseorang berbuat jahat dan terus melakukan kejahatan, hanya bermodalkan: kasih sayang Tuhan mendahului hukumanNya.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Lari

Berubah!

Tadi pagi saya kembali lari pagi di Saraga bersama Yura setelah sekian lama tidak lari. Kalau lagi duduk di depan komputer, kadang suka geli kalau lihat ke bawah, ini perut kok seperti manusia hamil 5 bulan. Hahaha, kacau!

Aneh tapinya. Awalnya saya masih sanggup keliling 4 putaran tanpa henti, sekarang kok cuma 2,5 keliling. Lha, sisa 1,5 lagi ke mana? Benar-benar makhluk lemah saya ini. Fufufu…

Dan kadang, kalau dipikir-pikir, saya lari segitunya, capek, eh setiap selesai pasti aja makan bubur ayam plus pocari sweet. Sama aja bohong ya, hahaha… Tapi ga bohong juga sih, karena bagi saya lari itu bukan buat kurus-kurusan dan membentuk tubuh, tetapi bagaimana bisa tetap bugar. Karena jika mau jujur, pola hidup saya sama sekali buruk. Terkadang, saya makan cuma sekali dalam sehari, atau dua kali sehari. Tergantung isi dompet 😉

Jika dilihat dari apa yang saya alami, maka benar adanya, jika hidup itu perlu dipaksa agar menjadi lebih indah. Memang, menikmati hidup itu menyenangkan, tapi pasti ada efek negatif ke depannya. Misal, saya suka sekali malas belajar, jadinya terus saya tertinggal jauh dari teman yang lain dalam berbagai hal. Saya memang menikmati kemalasan itu, tapi waktu yang terus berputar membuat kemalasan berbalik menjadi bumerang.

Beberapa hari ini saya coba paksakan diri untuk melakukan hal di luar kemalasan saya. Seperti: membersihkan kamar, 1 day 1 juz, membantu orang-orang, baca-baca buku kuliah, dan sebagainya. Sampai-sampai, kertas yang saya tempelkan di dinding saya baca ulang.

JIKA KAMU TIDAK SEBAIK MEREKA, KAMU CUMA PERLU BERUSAHA LEBIH KERAS UNTUK MENGEJAR MEREKA. ALLAH BERSAMAMU! 🙂

Baca Selengkapnya

Puzzle Manusia

Puzzle Manusia
source: pipitskulls.blogspot.com

Bagaimana seorang manusia dinilai? Apakah sebagai sebuah fragmen, atau sebagai satu kesatuan yang seutuhnya. Sebuah kumpulan tulang dibalut daging, berjalan dengan dua kaki, beberapa kali menggunakan otaknya, dan kita sebut mereka manusia.

Jujur. Semakin ke sini, ada rasa gamang yang menyelimutiku. Tentang cara pandangku dalam memandang makhluk bumi yang orang-orang sebut manusia. Atau, kegamanganku ini menjadi pertanda, sudah semakin rusaknya otakku bekerja dalam melihat segala hal. Segalanya.

Di sekelilingku hadir begitu banyak rupa manusia. Dan syukurnya, pandanganku tertutup untuk melihat segala hal tentang aib yang ditanggung mereka. Membuatku lebih mudah tersenyum untuk segala manusia yang hadir dalam seluruh kehidupanku. Siapapun itu.

Mata-mata yang aku pandangi, selalu berubah-ubah. Terkadang dalam diri mereka ada bersemayam iblis yang hendak dimuntahkan, dan sebagian ada yang bergelut dengan setan-setan yang menarik keras leher-leher mereka. Seperti budak-budak yang berjalan dalam gurun yang terik. Panas, letih, segala hampa yang bersemayam di dada, tidak mampu membuat mereka berontak. Seperti wadah yang kosong, cuma ada himpunan nol.

Baca Selengkapnya

Tombol Reset Kehidupan

Tombol Reset
sumber gambar: fullpotentialchiropractic.wordpress.com

Kadang saya berharap ada tombol RESET dalam kehidupan. Mengulang semuanya. Mengulang dari semula kala. Hingga tak tersimpan rekaman tentang saya yang sedang kacau, marah, atau kesal kepada seseorang.

Semakin lama hidup, pengalaman mengajarkan bahwa manusia tidak berlaku sesuai keinginan kita. Mereka cuma baik ketika di depan dan belajar menusuk dari belakang. Mereka cuma mengingat saat membutuhkan, dan langsung lupa saat dibutuhkan. Terkadang orang-orang berjalan di depan kita cuma karena keperluan mereka. Saat kita membutuhkan mereka, seperti angin, mereka hilang entah kemana. Bahkan, bau harum dari tetes liur mereka pun tak mampu kita baui. Mereka pergi. Tanpa jejak. Tanpa pesan.

Kita berharap orang-orang menjadi baik. Padahal kita sendiri belum tentu baik. Kita telah mencoba menjadi baik. Namun, laku setiap orang tidak sebaik apa yang kita citakan. Kita gagal akan pengharapan. Kita gagal dengan semua keinginan.

Sebagian manusia hidup dalam bentuk parasit. Mereka cuma hidup dari memanfaatkan sumber daya orang lain. Maka perhatikanlah olehmu teman. Di sekelilingmu. Mereka yang mengembangkan senyum saat mereka sangat membutuhkan peranmu, dan cepat menjadi masam ketika keinginan mereka diacuhkan. Mereka yang tiba-tiba hadir, entah dari mana, dengan basi-basi sebentar seadanya, lantas memintamu menolong mereka. Lantas sudah, mereka kembali hilang entah kemana.

Makanya teman, perlakukanlah manusia seperti kamu ingin diperlakukan. Jangan perlakukan mereka seperti kamu tidak ingin diperlakukan.

Baca Selengkapnya