Kesombongan dan Kekanakan

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat keponakan-ku begitu ceria. Abi-nya baru pulang dari Medan, membawakan oleh-oleh. Dan yang paling dia suka adalah komputer mini yang akan menyuarakan huruf saat tombol ditekan dan baju-baju baru untuk lebaran nanti. Kebetulan, dua sepupu-ku juga sedang ada di rumah. Keponakan-ku, Khansa, memamerkan seluruh barang barunya itu kepada keduanya. Begitu bahagia. Begitu ceria.

Melihatnya bahagia, penuh bangga memamerkan barang-barang barunya, membuatku berpikir: Apakah kesombongan itu telah ada pada benak manusia sejak dahulu kala? Atau, kesombongan hanyalah bagian dari jiwa kekanak-kanakan manusia yang masih bersisa.

Tidak jarang kita melihat manusia begitu bangga dengan barang-barang barunya atau sesuatu yang dianggapnya wah. Entah itu barang baru, pengetahuan baru, atau mungkin, seorang teman baru. Maka duga-ku, ini alasan kenapa fenomena selfie menjamur bak cendawan di musim hujan. Orang-orang butuh sesuatu untuk dibanggakan, berbeda dengan orang dahulu, mereka berfoto untuk merekam momen melawan lupa.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Kemana Engkau Bawa Ilmumu?

Mungkin takdir. Entah mengapa aku lebih memilih membuka browser melihat tulisan mereka tentang Islam daripada belajar Mekanika Fluida atau Termodinamika. Aku melihat bagaimana mereka menulis, dan itu berarti juga bagaimana proses berpikir itu terjadi. Aku menebak-nebak, apa sebenarnya mereka.

Berbicara Islam. Mereka berbicara Islam dengan nada tinggi. Penuh referensi dan keilmuan. Lantas aku bertanya, apakah itu semua bermakna dengan keimanan yang ada di hati mereka?

Kata mereka, seharusnya Islam itu begini, Islam ini begitu. Lantas, apa yang terjadi dengan ke-Islam-an mereka sendiri. Islam yang ada di dalam hati mereka.

Bukannya aku melarang engkau para sahabat untuk membaca. Bukannya aku melarang engkau untuk menutup semua buku. Aku tidak akan pernah mampu melarang seseorang untuk terus memperbaharui keilmuannya. Namun, aku hanya bertanya apakah pengetahuan itu yang nanti akan engkau pertanggungjawabkan itu berarti bagi hatimu?

Ilmu itu, akan membuatmu lebih mendekatkan diri kepada Tuhan atau malah menjauhkan.

Baca Selengkapnya

Kesombongan Dan Penghargaan

Hidup baru saja memberi pelajaran baru padaku beberapa hari yang lalu, pelajaran; kesombongan dan penghargaan. Suatu pelajaran yang memang awalnya agak mengusik namun setelah kurenungkan mampu memberikanku pengalaman baru, konsepsi dasar manusia.

Jika manusia merasa statusnya meningkat, maka di sana akan timbul sikap ingin dihargai dan sekelumit kesombongan. Aku mengatakan sekelumit kesombongan karena aku sendiri tidak terlalu memahami sejauh mana kesombongan yang terdapat pada manusia-manusia seperti itu.

Jujur, penilaianku ini adalah generalisasi terhadap manusia walau kenyataannya apa yang kualami adalah hanya satu kisah nyata dan dilakukan hanya oleh satu manusia. Namun aku rasa wajar saja jika aku mengeneralisasikannya. Sah! Toh ini tulisanku.

Kisahnya terjadi pada hari minggu, 16 November 2008. Berawal dari kepulanganku ngopi setelah lelah mengadakan pelatihan blogging gratis untuk anak-anak SMU bersama kawan-kawan Aceh Bloggers.

Baca Selengkapnya