Kesombongan dan Kekanakan

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat keponakan-ku begitu ceria. Abi-nya baru pulang dari Medan, membawakan oleh-oleh. Dan yang paling dia suka adalah komputer mini yang akan menyuarakan huruf saat tombol ditekan dan baju-baju baru untuk lebaran nanti. Kebetulan, dua sepupu-ku juga sedang ada di rumah. Keponakan-ku, Khansa, memamerkan seluruh barang barunya itu kepada keduanya. Begitu bahagia. Begitu ceria.

Melihatnya bahagia, penuh bangga memamerkan barang-barang barunya, membuatku berpikir: Apakah kesombongan itu telah ada pada benak manusia sejak dahulu kala? Atau, kesombongan hanyalah bagian dari jiwa kekanak-kanakan manusia yang masih bersisa.

Tidak jarang kita melihat manusia begitu bangga dengan barang-barang barunya atau sesuatu yang dianggapnya wah. Entah itu barang baru, pengetahuan baru, atau mungkin, seorang teman baru. Maka duga-ku, ini alasan kenapa fenomena selfie menjamur bak cendawan di musim hujan. Orang-orang butuh sesuatu untuk dibanggakan, berbeda dengan orang dahulu, mereka berfoto untuk merekam momen melawan lupa.

Pernah tidak, melihat anak-anak dengan sombongnya memamerkan segala sesuatu di depan kita. Membanggakan apa yang dimiliki dan berharap tidak dimiliki oleh selain dirinya. Kita cuma tersenyum melihat tingkah-pongah mereka. Namun terasa berbeda ketika orang-orang dengan balutan waktu di usia mereka melakukan hal yang sama, kita menjadi jenggah.

Aku lebih sering terdiam sambil tersenyum, ketika mendengarkan orang-orang berbicara tentang hal-hal yang mereka ketahui dan merasa tidak aku ketahui. Bahkan ketika mereka mulai melebih-lebihkan apa yang bersarang di kepala mereka untuk diutarakan. Rasanya jengah. Namun aku berpikir, — ah, sudahlah — toh mereka hanya sedang merayakan apa yang jiwa kekanakan mereka inginkan.

Namun, terkadang manusia bertindak dengan sedemikian parah. Mereka menjadikan apa yang mereka sombongkan itu sebagai senjata. Merasa bahwa orang lain adalah bidak catur yang kelasnya tidak lebih tinggi daripada sebuah pion. Berjalan selangkah, tertatih, berlarut seperti seekor kura-kura, sedangkan dirinya adalah dia yang telah terbang di antara awan-awan yang digerakkan oleh angin. Untuk tipe seperti ini, aku merasa sangat muak sekali. Namun, aku masih memilih diam di atas segalanya.

Rasa muak itu menjadi semakin parah, ketika aku mulai merasa bahwa aku pun demikian. Merasa bahagia ketika aku mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui. Jiwa kekanakanku seperti berpesta-pora, merayakan dengan segenap dansa yang berputar di ballroom. Patutkah seorang manusia yang begitu kecil menjadi seperti ini? Padahal, tidak ada sesuatu yang baru di bawah sinar mentari.

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

— Q.S. Al-Isra : 37

Aku berharap menjadi aku yang dulu. Ketika mataku tertutup, telingaku tuli, dan pikiranku adalah sesuatu yang tidak mampu bergerak. Sehingga, kekanakan yang mengenaskan itu pun terjatuh ke dalam jurangnya. Sehingga, aku merasa betapa aku adalah manusia paling tolol di hamparan bumi ini.