senja

Kemarahan

Sudah dua hari, seseorang cuek kepada saya. Jika dirunut, pasalnya sederhana, saya membandingkan Aceh dan Bandung. Saya merasa Bandung akhir-akhir ini panas sekali, bahkan ketika malam. Tidak ada beda dengan Aceh yang juga panas, baik siang maupun malam. Hanya saja, di Aceh, saat kepanasan saya memiliki sebuah AC di kamar untuk mendinginkan diri. Tidak di sini. Hal yang cuma mampu saya lakukan adalah membuka pakaian saya dan berharap kulit saya lebih cepat bertemu dengan angin.

Terakhir, saya mengirimkan sebuah surel (email .red) kepadanya, dengan sebuah judul “Permohonan Maaf“. Entah dia sudah membuka surel tersebut, entah surel tersebut masuk ke dalam SPAM Folder, atau entah langsung dibuang. Saya bukan cenayang, bukan mereka yang bisa melihat dari mata jin yang bergentayangan. Saya cuma manusia biasa. Tapi, sampai sekarang, surel yang saya kirimkan belum juga ada balasan.

Kemarin, saya mengirimkan video lucu. Karena tahu bahwa nomor WhatsApp di handphone-nya telah memblokir saya, maka saya mengirimkan video itu ke nomor yang lain, sebuah nomor WhatsApp yang ada di tablet-nya. Hasilnya, bahkan nomor saya di tablet juga ikut diblokir.

Baca Selengkapnya

Manusia Tingkat Rendah

monyet
Sumber gambar: innercircleofsrcm.blogspot.com

Tahukah kamu, salah satu tingkatan manusia yang paling rendah? Yaitu mereka yang merendahkan orang lain. Baik dengan perbuatan mereka, ataupun perkataan yang menyakiti dengan tujuan merendahkan harkat dan martabat orang lain. Maka, sekali-kali, janganlah kamu termasuk kaum yang demikian.

Sering sekali kita berjumpa dengan orang-orang yang demikian. Mereka yang terdidik untuk merendahkan, yang mungkin juga dididik dengan cara yang sama seperti demikian. Lihatlah, bagaimana sedari awal, para anak yang belum begitu mengenal kebaikan dan keburukan dibiarkan mem-bully teman-temannya yang lain. Kita menganggap itu sesuatu yang lucu. Sampai kemudian, kita menjadi kewalahan dengan segala sifat yang sedari awal kita biarkan terjadi sedemikian rupa.

Kadang kita menjadi rendah saat membenci dan marah. Kita begitu mudah memaki, merendahkan, berusaha menghancurkan martabat seseorang ketika sedemikian hingga kebencian dan kemarahan telah memaksa mengambil peran akal sehat. Maka tidaklah jarang kita melihat pemukulan, makian, sering kali hadir dalam emosi yang memuncak. Patutlah nabi meminta kita berwudhu: untuk mengalihkan perhatian saat marah, untuk mendinginkan hati yang meledak, dan menghindari ulah setan yang akan ikut hadir dalam segala tindak.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms: