Taman Surga

Sayang, apa yang engkau takutkan? Bukankah aku telah berjanji tidak akan poligami! Apakah itu tidak cukup bagimu?

Sayang, bukankah aku telah katakan padamu bahwa aku memilihmu bukan karena aku diterima atau ditolak oleh sang puteri, sama sekali bukan. Posisimu absolut di dalam hatiku, bukan sebuah perasaan hasil reinkarnasi masa lalu atau sebuah rasa yang tercipta oleh kenangan masa lalu. Sungguh sayang, aku tidak mencintaimu karena aku pernah mencintai seseorang yang mirip denganmu! Tidak juga aku membandingkanmu dengan sesuatu yang lain! Bukan karena kamu mirip chinese atau memiliki wajah yang polos, bukan itu sayang. Posisimu mutlak seperti saat aku mencintai cinta pertamaku.

Sayang, aku harap kamu mengerti. Kelak…
Baca Selengkapnya

Budaya Hening

Lantas apakah hening?

Adakah sembilu menusuk relung? Atau kehampaan dalam jiwa?

Sumpah aku tak mengerti, mungkin belum mengerti, mungkin tidak untuk saat ini.

Rasa sepi itu begitu pekat terasa dan tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya, tidak bidadari, tidak sang puteri, dan tidak juga kamu sayangku. Rasa yang begitu hampa yang tidak akan pernah kuceritakan yang menjadi bagian 50% seluruh kehidupanku hingga saat ini.

Lalu apakah makna suara tawa yang membahana dalam tiap detik waktuku? Tak akan bermakna ia hanya menjadi sebagai pemanis bibir. Sungguh sayang, aku amat begitu kesepian.
Baca Selengkapnya

Jangan Pernah Curhat

JANGAN PERNAH CURHAT!

Yah, jangan pernah curhat dengan seorang wanita, terutama wanita yang memiliki hubungan dekat dengan teman-temanmu, atau saudara-saudaramu. Jangan salahkan aku kalau kau tetap curhat dengan mereka, jangan pernah salahkan aku jika isi curhatanmu akan tersebar seperti api menggumuli minyak. Jangan pernah menyesal.

Harusnya aku mengambil pelajaran dari yang dulu-dulu. Dulu aku pernah curhat dengan kakak kandungku soal wanita yang menjadi cinta pertamaku, seorang wanita chinese yang anggun namun sayang dia non-muslim. Hampir bisa dipastikan semua keluargaku tidak setuju. Awalnya aku kira kakakku akan menjadi tong sampah yang aman, namun ternyata tidak! Sama sekali tidak! Isi curhatan menyebar secepat air meresapi kapiler-kapiler kasa.
Baca Selengkapnya

Waktu Yang Terulang

Sang puteri hari ini berulang tahun. Sumpah dari kemarin aku sudah memikirkan sebuah hadiah yang pantas untuknya, namun aku memang terlalu bodoh dan idiot sehingga aku tak akan mengerti apa yang diinginkannya.

Jauh hari aku memikirkan bahwa tepat di hari ulang tahunnya aku akan mengirimkan hadiah ke rumahnya, tepat jam 00.00 WIB aku akan menelepon dia, namun semua itu terasa buyar… amat sangat tidak tepat. Bahkan aku merelakan kesempatanku yang telah kusiapkan jauh hari untuk mengikuti lomba merancang sepeda hilang begitu saja demi dia. AKU MEMANG TOLOL!

Aku memang tak akan pernah peduli apakah ia akan juga sepertiku, mengingat hari jadiku. Aku memang tak akan pernah peduli apakah ia akan mengirimi aku hadiah atau tidak karena aku amat sangat mengerti memang aku tak pernah hadir dalam kamus hidupnya, tetapi paling tidak aku ingin melakukan sesuatu yang kuanggap pantas untuknya.
Baca Selengkapnya

Aku Tak Peduli

Bagiku, kamu adalah puteri. Tak peduli telah berapa sering dan berkali-kali kamu berganti lelaki. Bagiku kamu tetaplah sang puteri. Aku memang tak pernah peduli.

Maafkan aku puteri, jika kebisuanku membuatmu ragu bahwa betapa cinta aku pada dirimu. Maafkan aku.

Sungguh aku ingin melepaskan tabir lisan ini, namun aku tidak ingin menjadi mereka yang kalah perang oleh cinta. Lalu aku pun menjadi ragu untuk mengungkapkannya.

Puteri, aku telah menjadi iblis…

Aku sudah tidak sesuci dulu lagi, mataku telah ternoda, hatiku telah menghitam. Hanya jasadku yang belum meng-iya-kan apa yang kuinginkan. Aku memang sudah tak pantas untuk bersanding dengan bidadari, aku sudah tak kuasa untuk mempersunting bidadari, namun jangan kau pungkiri aku karena bagiku kau bukan lagi bidadari, kau hanya sang puteri, tidak lebih.
Baca Selengkapnya