Waktu Yang Terulang

Sang puteri hari ini berulang tahun. Sumpah dari kemarin aku sudah memikirkan sebuah hadiah yang pantas untuknya, namun aku memang terlalu bodoh dan idiot sehingga aku tak akan mengerti apa yang diinginkannya.

Jauh hari aku memikirkan bahwa tepat di hari ulang tahunnya aku akan mengirimkan hadiah ke rumahnya, tepat jam 00.00 WIB aku akan menelepon dia, namun semua itu terasa buyar… amat sangat tidak tepat. Bahkan aku merelakan kesempatanku yang telah kusiapkan jauh hari untuk mengikuti lomba merancang sepeda hilang begitu saja demi dia. AKU MEMANG TOLOL!

Aku memang tak akan pernah peduli apakah ia akan juga sepertiku, mengingat hari jadiku. Aku memang tak akan pernah peduli apakah ia akan mengirimi aku hadiah atau tidak karena aku amat sangat mengerti memang aku tak pernah hadir dalam kamus hidupnya, tetapi paling tidak aku ingin melakukan sesuatu yang kuanggap pantas untuknya.


Aku sedang tidak berpuisi atau berbicara dengan bahasa sastra. Aku hanya sedang ingin curhat. Aku hanya ingin mengeluarkan segala emosi yang telah lama terpendam. Aku ingin segera melupakannya. Aku benci dengan keadaan ini, AMAT SANGAT KU BENCI.

Aku ingin memberikannya satu hadiah, sebuah hadiah yang membuat hatiku sedikit lapang, sebuah hadiah yang akan terus dia kenakan. Aku cuma ingin dimengerti, tidak lebih. Jauh hari aku sudah memikirkan itu, memberikannya hadiah itu. Aku ingin dia terus mengenakannya, paling tidak dengan itu aku merasa telah memberikan sesuatu yang berarti baginya. Aku cuma ingin itu, tidak lebih.

Barusan, aku juga mencoba menghubunginya. Lagi-lagi hanya ada nada sambung yang menemaniku. Aku hanya ingin mendengarkan suaranya yang bahkan tidak kudengar lebih dari dua kali dalam setahun, itu saja… tidak lebih.

Apakah engkau tetap menganggapku berharap terlalu banyak? Apakah masih terlalu banyakkah itu?

Aku tak akan menggugatmu puteri, aku tak akan pernah.

Aku akan selalu mendukungmu walau aku tak mengembangkan tanganku untuk merenguhmu. Tetapi yakinlah, doa ku tak akan luput untukmu.

Puteri, selamat ulang tahun. Semoga perpanjangan umur ini akan membuat aku dan kamu semakin dewasa. Semoga jejak pengalaman mampu menjadi guru yang baik bagi kita dalam memandang hidup ini.

Tak selamanya A adalah A.

Sekali lagi; selamat ulang tahun puteri. Sebuah doa setiap hari akan selalu kuukir untukmu, hingga hati ini benar-benar bebas dalam jajahanmu, hingga aku mampu kembali terbang ke langit untuk menemui Tuhanku. Namun sebelum waktu itu tiba, aku akan tetap berdoa untukmu.

Puteri, akan tak akan berdoa agar umurmu panjang, aku cuma akan berdoa agar kau lebih memaknai sisa-sisa umurmu ini. Sebuah kado istimewa dari Tuhan tentang hidup telah diberikan, mungkin kadoku tidak akan berarti apa-apa.

Apapun yang akan kuberikan, tolong terimalah itu. Karena aku cuma seorang Baiquni, tidak lebih.