Aku Tak Peduli

Bagiku, kamu adalah puteri. Tak peduli telah berapa sering dan berkali-kali kamu berganti lelaki. Bagiku kamu tetaplah sang puteri. Aku memang tak pernah peduli.

Maafkan aku puteri, jika kebisuanku membuatmu ragu bahwa betapa cinta aku pada dirimu. Maafkan aku.

Sungguh aku ingin melepaskan tabir lisan ini, namun aku tidak ingin menjadi mereka yang kalah perang oleh cinta. Lalu aku pun menjadi ragu untuk mengungkapkannya.

Puteri, aku telah menjadi iblis…

Aku sudah tidak sesuci dulu lagi, mataku telah ternoda, hatiku telah menghitam. Hanya jasadku yang belum meng-iya-kan apa yang kuinginkan. Aku memang sudah tak pantas untuk bersanding dengan bidadari, aku sudah tak kuasa untuk mempersunting bidadari, namun jangan kau pungkiri aku karena bagiku kau bukan lagi bidadari, kau hanya sang puteri, tidak lebih.


Puteri, lama sudah aku tak menganggapmu sebagai bidadari.

Puteri, tahukah engkau? Jika aku melewati lorong-lorong kampusku yang ingin kutemui adalah dirimu. Jika aku mendengar ocehan para wanita, entah mengapa aku merasa ada dirimu di sana. Jika aku menundukkan pandanganku, seolah-olah engkau sedang memperhatikan aku sehingga membuatku semakin tertunduk. Puteri, tahukah engkau? Betapa tersiksanya aku.

Jika boleh, aku tidak pernah ingin jatuh cinta. Cukup sekali dia menyapaku saat-saat SMU yang membuatku begitu menjadi penggila. Bahkan hingga saat ini, dia yang pertama bagiku masih menghiasi mindala untuk terus terucap dalam lisan ini. Dan tahukah engkau puteri, aku mencintaimu karena aku merasa engkau seperti dia. Aku menganggap kau merupakan reinkarnasi cintanya.

Puteri, namun angkuhmu dan acuhku membuat aku semakin bingung dengan perasaanku atau juga perasaanmu. Benarkah diriku memang tak pernah ada dalam satu sketsa hidupmu, atau dirimu sama seperti aku; terlalu angkuh dan acuh untuk semua pengakuan rasa itu.

Puteri, kadang aku merasa kau telah mencintai aku, namun sikapku yang acuh dan menghindar darimu membuatmu ragu akan diriku padamu atau tentang perasaanmu itu. Dan membuatmu semakin ragu namun kau tak kuasa memahaminya hingga saat-saat mata kita bertemu kita menjadi saling tertunduk kaku dan malu lalu mulai menyisir jalan masing-masing di antara kita dan hanya ada segempal hati yang saling tertaut namun mencoba bertanya-tanya dalam ragu adakah hati ini saling tertaut.

Puteri, seberapa ragukah dirimu tentang cintaku? Apakah sebesar rasa angkuh dan acuhmu itu? Ataukah dirimu sama seperti aku; semakin mencintai seseorang membuatku semakin mengatur jarak dan mencoba berlari darinya. Sungguh puteri, tak tahukah dirimu betapa dalam tiap detik episode hariku, aku selalu memikirkanmu. Saat ada peristiwa-peristiwa yang membuatku gundah, dirimu adalah manusia pertama yang kuhubungi tentang keadaanmu. Bahkan aku mulai berani menyapamu setelah peristiwa besar yang menjadi sejarah dunia itu. Sungguh puteri, aku selalu mengkhawatirkanmu.

Lalu pertanyaannya; adakah kamu sepeduli itu padaku?

Aku dari dulu memang tidak pernah peduli “APAKAH ENGKAU MENCINTAIKU?” Karena bagiku cinta adalah sebuah pengorbanan dan pengorbanan yang paling besar bagiku untukmu adalah mengorbankan perasaan ini demi melihatmu terus tersenyum dengan seseorang yang akan membuatmu bahagia oleh pria manapun. Aku memang tidak peduli, itu karena aku begitu mencintaimu.

Sungguh puteri, AKU TIDAK PEDULI!

Biarkan saja aku terus menangis, biarkan saja aku terus meratap, biarkan saja darah cinta mencabik diriku dan aku berharap kau tidak akan pernah peduli tentang semua itu. Biarkan aku sendiri yang menanggung sesak ini. Puteri, tetaplah tersenyum walau kau tidak pernah tersenyum untukku.

Puteri, kepakkan sayapmu lebar lalu terbanglah mengitari bumi-langit hingga ujung titik hampa, namun jangan pernah melihat ke belakang. Yakinlah aku akan terus tersenyum untukmu, yakinlah aku akan terus mengalungkan doa dalam tiap tahajudku untukmu.

Puteri, jangan pernah peduli karena AKU TIDAK PEDULI!