Budaya Hening

Lantas apakah hening?

Adakah sembilu menusuk relung? Atau kehampaan dalam jiwa?

Sumpah aku tak mengerti, mungkin belum mengerti, mungkin tidak untuk saat ini.

Rasa sepi itu begitu pekat terasa dan tak ada seorangpun yang mampu menggugatnya, tidak bidadari, tidak sang puteri, dan tidak juga kamu sayangku. Rasa yang begitu hampa yang tidak akan pernah kuceritakan yang menjadi bagian 50% seluruh kehidupanku hingga saat ini.

Lalu apakah makna suara tawa yang membahana dalam tiap detik waktuku? Tak akan bermakna ia hanya menjadi sebagai pemanis bibir. Sungguh sayang, aku amat begitu kesepian.


Pantaskah engkau untuk mengerti, akan amat sangat pantas!

Sayang, begitu sepi ia menusuk dalam hidupku. Sungguh aku ingin membuyarkan rasa sepi ini, namun mengapa kau selalu menindihku dalam pekat yang semakin tidak ku mengerti. Apa salahku?

… dan keheningan menjadi saksi absolut sebuah peradaban …

Lihatlah nadi yang terus berdetak, dan jantung yang selalu memompa. Dengarkanlah suara tiap degub, dengarkan bait-bait nafas yang memburu. Di ujung ufuk langit bersekutu bumi. Dan yang hitam ternyata tak hitam, cahaya yang bagai mawar yang mencerahkan langit, dan sepenuh bintang yang mengelilingi galaksi, bintang terang dari yang paling terang. Sayang, aku sungguh kesepian.

Pantaskah engkau untuk mengerti, akan amat sangat pantas!

Aku bagai lautan yang tak bermuatan, tak bermassa dan tak bervolume. Menjadi tiada dalam ketiadaan dan tak akan pernah ada dari ketiadaan. Manifestasi sebuah anti-materi yang menjadi asal mula ledakan kehidupan, dari suatu yang padat yang bervolume tak terhingga lalu terledakkan menjadi semuanya ada dalam ada lalu mengembang menjadi besar dan akan kembali menciut, lantas Tuhan berkata matilah engkau yang seharusnya mati dari tiada engkau Aku ciptakan maka menjadilah tiada dan hanya Aku yang Mahaada. Sungguh keheningan itu lebih tiada dari yang aku ucapkan, amat sangat terasa ia di dalam hati namun serasa ia tiada. Anomali sebuah perasaan!

Sayang, mengertilah tentang diriku. Diri sepi dalam keabadian hening, sebuah titik rasa yang begitu mengigit urat-urat jantung, memaksa ia menyempit lalu terjadi ledakan itu hingga degub pun berhenti, atau saat aliran yang seharusnya terjadi menjadi hambat dan memaksa udara menjadi henti lalu seketika diri lumpuh menjadi tak berarti. Sungguh sayang, perasaan sepi itu lebih hebat dari yang pernah dan akan aku ceritakan, sungguh ia begitu terasa namun seolah dia hampa.

Sayang, tolong mengerti aku.

Pantaskah engkau untuk mengerti, akan amat sangat pantas!

… bumimu bukanlah bumi, tanahmu tak perlu dijejak, hatiku bukan milikku …

Tak perlu engkau mengerti sayang bagaimana kata-kata kacau terucapkan. Aku amat sangat mengerti bahwa dirimu tidak akan pernah mengerti, betapa sulit ia terucapkan seperti engkau berbicara tentang sesuatu yang belum pernah engkau lihat, engkau dengar, engkau sentuh, dan engkau pikirkan namun ia ada dan harus ada yang entah mengapa dia seolah harus menjadi tiada. Sungguh hening di dalam hati ini amat begitu menyakitkan, lebih sakit berjuta lipat dari hanya sekedar patah hati, teramat sakit milyaran lipat daripada hanya sekedar tergores belati, teramat sakit trilyunan-milyaran-jutaan-ribuan-ratusan-satuan kali lipat daripada engkau mengamputasi seluruh tubuhmu tanpa anastesi dimana saat engkau mengamputasinya engkau memulainya dari kulitmu, mengulitinya hingga sampai titik ia tidak terasa lalu kulit itu dijadikan kembali lalu engkau mengulitinya lagi, lagi, dan lagi. Sungguh sayang, amat sangat ia terasa di dalam hati. Bahkan aku berani sumpah!

Sayang, semoga engkau mengerti.

Ini bukan artikel tentang cinta sayang, sama sekali bukan. Ini cuma sebuah tulisan tentang kesepian, tentang keheningan. Suatu rasa di dalam hati yang begitu mutlak: Budaya Hening.