Siapa Dia?

Aku bertanya kepada langit, siapa dia?

Hari itu, seperti yang sudah-sudah, langit masih sama. Langit memendam semua cerita. Menyimpan. Tak bersuara.

Kadang aku merasa tidak butuh langit, selain hanya sebagai tempat aku berteduh. Aku tidak berteduh dari hujan kawan, tapi aku berteduh segenap ataupun seganjil radiasi yang dihasilkan dari luar bumi. Kita, teramat kecil dan rapuh.

Hari itu, seperti yang sudah-sudah, aku untuk kesekian kali bertanya: siapa dia?

Tidak jarang aku bahkan berteriak. Membahana. Atau kadang aku memelas bercucur air mata, demi satu tanya yang belum juga usai dan aku tidak menemukan jawabannya: SIAPA DIA?

Baca Selengkapnya

Tidak Pernah Puas

Tiba-tiba aku merasa terkejut. Sangat terkejut. Bahwa pada kenyataannya aku ternyata sama dengan orang-orang. Aku selama ini berpikir bahwa aku berbeda. Namun, sekarang aku paham. Tidak ada yang beda. Aku pun seperti mereka. TIDAK PERNAH PUAS.

Hidup adalah rangkaian dari berjuta keinginan. Saling menjalin, mengisi, terkait, tertaut. Orang-orang merangkak dalam hidup tentang mimpi-mimpi mereka. Bahkan mereka yang telah bengkok punggungnya atau menjadi kering air mata.

Awalnya aku mengira, aku telah khatam dengan berbagai keinginan. Aku telah paham bahwa berjuta ingin yang melesak dari dalam diriku adalah segala hal yang akan menjadi semu, fana, dan habis pasti dimakan usia. Aku mengira bahwa aku telah paham tentang itu semua.

Baca Selengkapnya

Memeluk Ayah 2

Kadang aku merasa menjadi lelaki itu tidak menyenangkan. Seorang lelaki tidak dengan bebas memeluk lelaki lain. Tidak seperti wanita, mereka bebas dengan ragam ekspresifnya. Seorang perempuan, memeluk perempuan yang lain, orang tidak akan salah duga. Beda dengan lelaki, mungkin banyak yang akan mencibir, atau bertanya: mungkin lelaki yang sedang berpelukan itu bukanlah seorang lelaki dengan orientasi seksual yang berbeda.

Aku iri dengan wanita. Mereka hidup dalam dunia penuh cinta. Orang tidak akan risih, dengan semua air mata yang tumpah dari mata seorang wanita. Beda dengan lelaki, jika seorang lelaki menangis, banyak orang mengira dia banci.

Ada seorang lelaki yang selalu ingin aku peluk. Tetapi, semakin aku dewasa, aku semakin malu untuk memeluknya. Seperti ada rasa janggal, seorang lelaki memeluk lelaki lainnya. Kadang, aku cuma bisa membayangkan, saat-saat dulu, saat aku dipeluk dari balik punggungnya.

Baca Selengkapnya

Berbagi Hati

Hatiku untukmu seperti hatimu yang kau berikan untukku. Cinta menembus segala batas, bahkan melewati sebelas dimensi. Sebuah pertemanan aku coba ukir, agar setiap kita bisa menyebutnya: ABADI.

berbagi hatiSuatu hari aku berkata, “hatiku sedang retak.

Dia gaduh. Bertanya. Memintaku buka suara. Aku heran, kenapa malah dia yang menangis. Dia yang membuang semesta air mata dari kedua bola matanya yang indah. Memintaku untuk bersuara, ada kisah apa di balik hati yang menjadi bongkah.

Aku diam. Bungkam. Memilih untuk menyimpan.

Dia masih menangis. Aku tidak kuat. Terutama saat bilang benci. Dia benci saat aku terluka, mungkin lebih besar dari perasaanku yang senang saat melihatnya bahagia. Aku pun tak kuat. Melihatnya menangis aku luluh. Aku masih menyimpan, namun aku katakan kepadanya, “aku butuh hati.

Untuk apa?” Tanyanya heran.

Agar hatiku telah rongsok bisa aku buang,” jawabku.

Lalu, aku bagaimana?” Dia heran.

Kita berbagi hati.” Cuma itu yang bisa aku jawab.

Baca Selengkapnya

Yes Man!

Yes ManJika ditanya orang, film apakah yang paling inspiratif menurutku? Maka dalam hitungan 1 detik aku akan menjawab: YES MAN!

Seminggu yang lalu, karena aku bekerja sebagai pengangguran, disela kesibukanku yang sangat lowong aku menyempatkan diri untuk menonton film Yes Man! untuk kedua kalinya. Luar biasa! Biasanya, aku cukup menonton film sekali dan untuk menonton yang kedua kali akan akan merasa sangat bosan.

Film Yes Men! menurutku sangat inspiratif. Bahkan walau diperankan oleh seorang Jim Carrey yang mungkin lebih kita kenal sebagai aktor komedi. Yang jelas, film Yes Man! sedikit tidaknya telah membuat aku berubah dalam cara memandang kehidupan.

Aku hidup sebagai seorang pengecut. Bahkan untuk “menembak” seorang cewek saja aku tidak berani, walau pun setiap cewek yang “menembak” juga selalu aku tolak. Aku sering sekali menolak untuk mengerjakan sesuatu, ketakutan selalu hadir di dalam pikiranku sebelum aku melakukan apapun. Aku takut salah. Aku takut orang-orang akan membenciku. Aku takut tidak mampu membahagiakan setiap orang. Selalu ada TAKUT di dalam diriku yang membuat aku tegas untuk terus berkata TIDAK dalam setiap kesempatan.

Jika dilihat dari kebiasaan hidupku, bisa dipastikan umur 40 aku akan terkena stroke. Karena aku hidup dengan selalu dibayangi oleh ketakutan-ketakutan. Kata orang: kenapa orang jaman dahulu itu tidak pernah stroke adalah karena mereka tidak memikirkan hidup, namun menjalani kehidupan.

Baca Selengkapnya