Dilarang Boker!

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian yang baru saja saya alami.

Rumah saya berlantai 2 dan saya kebetulan kena jatah kamar di lantai 2. Sesuai hukum fisika, air tidak bisa bergerak ke atas karena dicegah oleh gaya gravitasi. Agar air bisa naik ke atas, maka fluida (air .red) harus diberikan gaya maka diperlukan alat bantu yang bernama pompa: suatu alat yang mengubah energi mekanik menjadi tekanan untuk mendorong. Oleh karena itu setiap hari di rumah saya, pompa air selalu dihidupkan.

Di Aceh, ada sebuah problem dalam pendistribusian air. Air dari PDAM kadang suka mampet sehingga banyak orang menggunakan tambahan pompa agar air tersebut mengalir dengan lancar. Sialnya, mereka yang tidak menggunakan pompa otomatis tidak akan kedapatan air.

Pengalaman buruk tersebut membuat Ayahku berpikir. Dia tidak ingin menyulitkan orang yang tidak ada pompa harus kesulitan dalam kebutuhan airnya di siang hari, maka akhirnya Ayah memutuskan untuk membuat bungker di rumah.

Baca Selengkapnya

Adsense Di Banned

adsense logoPadahal baru kemarin lusa aku cek iklan adsense masih bertengger dengan nyaman di blog ini. Dari sekitar 10.000 views iklan, dengan klik sekitar 80 ~ 100 dari IP Address Indonesia, per hari melalui blog ini aku bisa berpenghasilan $2 ~ $5. Sayangnya, sekarang sayangnya hal itu tidak terjadi lagi.

Aku tidak tahu alasan Google melakukan punishment terhadap iklan Adsense di blog aku ini sehingga aku di banned. Padahal aku tidak pernah meng-klik iklan aku sendiri, juga tidak pernah melakukan hal yang macam-macam. Hal yang aku lakukan untuk meningkatkan click through di blog ini cuma dengan mengubah beberapa penempatan iklan. Tidak ada trik sama sekali.

Pertama sekali aku mendapatkan MTCN dari Google untuk mengambil uang di Wastern Union (WU) aku sangat bahagia. Uang itu bisa aku gunakan untuk memperpanjang alamat domain blog ini juga untuk membayar tagihan VPS setiap bulannya. Sisanya bisa aku gunakan untuk jajan.

Sekarang hal itu tidak terwujud lagi. Google telah membanned adsense di blog ini, beruntungnya Google tidak memblokir akun Adsense-ku, hanya saya membanned website ini sebagai advertiser Google.

Aku tidak seperti beberapa temanku yang memang hidup dari penghasilan dunia maya. Aku tidak mengerti teknik-teknik yang mereka gunakan dan bicarakan. Aku cuma tahu menulis, dan tidak ada yang aku otak-atik terkecuali beberapa penambahan plugins wordpress yang mereka sarankan kepadaku.

Sedih sekali rasanya melihat earning yang biasanya antara $2 ~ $5 di akun Adsense aku akhirnya cuma menjadi $0. Ini pertama kalinya aku mengalami hal ini. Semoga kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Amin

Baca Selengkapnya

Pertemuan Pertama

Walau aku tidak lulus tes di PT Chevron Pacific Indonesia, namun aku tetap merasa beruntung. Pada hari itu aku beruntung telah bertemu untuk kali pertama dengan seseorang yang aku sebut “Bidadari Ketiga“. Seseorang yang selama ini cuma aku lihat di internet, cuma saling bertegur sapa lewat alphabet, sekarang juga bisa aku dengarkan suaranya ketika berbicara dan bisa aku lihat secara live bagaimana cara dia tersenyum.

Jauh hari sebelum tanggal 10 Desember 2011 itu, aku sudah kabarkan bahwa aku akan ke Jakarta untuk mengikuti tes Chevron itu, bahkan dia salah satu pemeran pengambil keputusan apakah aku akan ke sana atau tidak? Ada banyak kendala, pertama seperti yang sudah diprediksi sejak awal: aku belum tentu lolos dalam tes perusahaan berskala internasional tersebut, kedua biaya yang besar untuk akomodasi aku ke sana, dan masih banyak pertimbangan yang lain.

Namun akhirnya, aku putuskan untuk berangkat ke sana setelah mendapatkan sebuah email yang masuk ke inbox-ku pada tanggal 8 Desember 2011, dan aku mencari tiket pesawat ke Jakarta pada tanggal 9 Desember 2011.

Mungkin tes Chevron itu bisa dikatakan adalah jalan, sebuah jalur lain yang disediakan Tuhan agar kami sama-sama mengenal satu dengan yang lainnya. Supaya aku mampu melihat bagaimana kondisi real seorang yang sebut bidadari itu dengan sebenarnya.

Baca Selengkapnya

Malaysia I Am Here

Terhitung sudah 4 hari aku di Malaysia, setelah mendarat pada hari Minggu di Bandara Internasional di Kuala Lumpur. Malaysia menurutku indah, untuk sebuah kota besar namun dengan tingkat kemacetan yang rendah jika dibanding dengan Jakarta dan suasana jalanan yang sangat mendukung orang untuk bebas bepergian dengan kaki.

Di Kuala Lumpur, aku melihat banyak orang yang patuh dengan lalu lintas. Itu yang membuatku salut. Traffic light yang telah maju serta aturan jalanan yang luar biasa. Di sini bahkan aku ada melihat jalur khusus untuk sepeda motor, orang-orang sini menyebutnya dengan “motor sikal”.

Menariknya lagi, stasiun bus pun hampir mirip seperti Bandara, sangat jauh berbeda dengan yang aku lihat di Indonesia. Mungkin itu khusus untuk Kuala Lumpur, karena di Penang waktu mau menyeberang ke Ipoh, stasiun bus juga tidak seindah di KL, tetapi masih lebih tertip dan terata rapi.

Lebih menarik lagi adalah, jalanan di sini bersih, tidak macet, orang-orang tertip dan mentaati peraturan, juga aku tidak takut akan di-tokoh-i atau ditipu di sini. Hal ini tidak aku dapatkan di Jakarta.

Baca Selengkapnya

Cinta Tanpa Rupa

Nama-nama hadir, karena manusia terus meminta. Manusia tidak mampu mencintai tanpa wujud, mereka telah hidup dalam berbagai rupa, mencintai dengan banyak rupa. Manusia butuh wujud, mereka butuh nama. Manusia bingung dengan sesuatu yang abstrak, mereka tidak akan pernah khatam tentang cinta. Nama datang karena manusia meminta untuk dia yang tidak terjelaskan.

Nama-nama, dari langit sana, didatangkan dengan beragam. Dia yang tanpa wujud telah menghadirkan 99 nama. Satu nama tunggal untuk bisa manusia ucap dalam setiap doa mereka.

Dia mencintai manusia. Dia paham betul, manusia akan kebingungan dengan cinta tanpa rupa. Dia telah awal mengerti, manusia butuh nama dalam cinta.

Tidakkah engkau diperlihatkan, betapa banyak nama-nama hadir di dalam hati manusia untuk menjadi simbol untuk satu jiwa. Nama yang kadang terus hadir dan terukir, sebagian menjadi abadi, dan sebagian yang lain hanya menjadi sampah hati. Semua terwakili oleh nama, dan dalam wujud rupa.

Aku ingin mencintai, tanpa nama, tanpa rupa.

Baca Selengkapnya