Lagi-lagi Tentang Kentut

dilarang kentutMasih ingat kisahku tentang kentut?

Jadi begini, ternyata setelah aku menuliskan tentang hal yang memalukan kentut kemarin, kentutku tetap saja tidak berkurang. Faktanya, bahkan kentutku semakin sering saja keluar dengan bunyi yang nyaring. Masalah bau kentut, walau memang mengganggu, bagiku tidak begitu masalah asalkan tidak ada bunyinya. Jika aku kentut namun tidak bunyi, aku bisa saja mengelak bahwa ada orang lain yang kentut. Namun, jika kentut sudah berbunyi, kuping siapa yang harus ditulikan? Terlebih, semua orang punya mata untuk melihat, refleksi dari pendengaran mereka kepada sumber suara dengan bunyi nyaring yang mungkin saja sebentar lagi akan segera membusukkan ruangan.

Yah. Kentut memang sebuah dilema, terutama jika dia berbunyi.

Aku heran. Dulu, aku kentut bisa tanpa suara juga tanpa bau. Seperti orang buang napas, segalanya terjadi dengan indah tanpa harus membuat jantung berdetak lebih cepat. Sekarang, jika ingin kentut, aku harus lihat kiri-kanan jika-jika ada orang di sekelilingku. Parahnya adalah, kentutku itu seperti nervous system, muncul tiba-tiba tanpa aba-aba bahkan aku baru sadar setelah bunyinya hadir.

Baca Selengkapnya

Berburu "Memoar"

Memoar Hasan Al BannaMinggu lalu, saya ikut pengajian mingguan. Biasanya, setiap pengajian, kami dibagikan rapor mingguan tentang peningkatan ibadah harian. Rapor saya sangat buruk. Amalan harian saya jauh sekali dari target normal yang seharusnya. Tilawah saya jarang, shalat jamaah pun kurang.

Saya paham. Guru ngaji saya mengkel melihat hal yang demikian. Kemudian, karena ternyata minggu itu teman-teman saya juga melakukan hal yang serupa dengan saya, guru ngaji saya bertanya, “sudah berapa lama ikut pengajian?”

Tidak ada yang berani menjawab. Semua pandangan tertunduk ke bawah. Mungkin cuma saya seorang yang tidak paham malu di kelompok pengajian saya, malah saya memesan burger untuk mengganjal perut saya yang sangat-sangat lapar ketika itu. Kami saat itu memang mengadakan pengajian di sebuah kafe. Malah, saat kami mengaji, suasana kafe lumayan riuh. Sepertinya sedang ada konser mingguan di sana.

Saya merasa beruntung. Guru ngaji saya itu orang yang open minded. Terkadang, di kelompok pengajian yang lain, hal yang sama mungkin jarang terjadi. Saya cenderung polos, tidak paham situasi. Jadinya, kadang saya bertanya hal-hal yang mungkin menurut orang lain tidak perlu ditanyakan, namun tetap saya tanyakan. Setahu saya, pada beberapa kelompok yang lain, orang-orang seperti saya mungkin sudah dihindari. Begitu yang saya dengar dari selentingan berita yang beredar.

Oh ya, kembali ke persoalan semula. Karena amalan harian kami sangat kacau balau, mengingat telah lamanya kami ikut mengaji namun seperti tidak berbekas, bahkan belum 1 juz pun ayat-ayat suci Quran yang kami hapalkan, guru mengaji kami meminta kami melakukan sesuatu: beliau meminta kami mencari buku dengan judul “Memoar Hasan Al Banna“.

Baca Selengkapnya

Perempuan dan Jilbab

Pertama sekali dalam hidupku, aku mendengar seorang perempuan menangis karena sebagian rambutnya terlihat. Padahal, semua itu terjadi di luar kesengajaannya. Hal kontras yang lain terjadi, perempuan, rela melepaskan jilbabnya demi karir, ambisi, atau cuma karena ingin dibilang cantik. Aku miris.

Awalnya begini. Tanpa sengaja, aku melihat sebuah foto yang aneh dari album seorang temanku. Awalnya aku tidak “ngeh”, aku merasa, oh mungkin saja itu foto adiknya. Tetapi, setelah aku perhatikan lebih baik, bukan, itu bukan foto adiknya. Itu foto seorang temanku. Melihat itu, aku pun segera menghubunginya, sekedar bertanya, “apa kamu sekarang sudah melepaskan jilbab? Ada fotomu tanpa jilbab di facebook.”

Baru tengah malam, aku mendapatkan telepon. Dia bertanya, apa aku tidak salah lihat?

Aku katakan, semoga saja salah. Jika memang benar, foto itu ada di album “mobile uploads”.

Beberapa saat kemudian, dia menangis, setelah mengetahui ada kebenaran dalam pertanyaanku. Sebuah fotonya tanpa jilbab hadir di sana, bersama beberapa foto kue pancake.

Aku tahu, itu di luar kesengajaannya. Dia tidak sengaja mengupload foto itu di antara beberapa foto kue yang disebarkannya lewat facebook. Aku membayangkan bola matanya yang mulai nanar, memerah bercampur air mata. Teringat jelas dalam telingaku, bagaimana sesegukan itu hadir lantas tumpah menjadi tangisan. Kekalutan, kebingungan, gundah, segalanya hadir. Semuanya itu penuh dengan penyesalan.

Baca Selengkapnya

Kegiatan Saat Tidak Ada Kegiatan

Hari ini aku membuka Winamp. Biasanya, jarang sekali aku mendengarkan lagu secara khusus. Bukannya tidak suka, namun aku tidak begitu hobi untuk mendengarkan lagu. Biasa, lagu-lagu yang aku dengarkan adalah lagu-lagu rekomendasi teman-temanku yang membuatku penasaran setelah mereka seharian membicarakannya. Setelah rasa penasaran selesai, ya sudah, lagu itu cukup aku tahu.

Kebetulan. Ini lagu-lagu bajakan diberikan saat aku membeli laptop baru. Oh ya, aku baru saja membeli laptop baru di pameran Acehcomtech (harga barang-barang komputer dan gadget di sana sama saja dengan harga toko, tidak ada murah-murahnya). Aku membeli laptop Asus N43SL-V2G-VX264D ditambah dengan RAM 4 GB menjadi total 8 GB seharga Rp 8.500.000,-. Aku tidak berencana membeli laptop baru jika saja laptop lamaku Acer Travelmate 6293 tidak bermasalah. Laptop Acer Travelmate 6293 punyaku bermasalah, jika dicharger maka dia akan selalu restart sendiri. Aku sudah menghabiskan uang 200.000 (dua ratus ribu rupiah) tetapi tidak menghasilkan apapun, laptopku tetap rusak.

Berbicara tentang Acer Travelmate 6293 punyaku yang bermasalah itu aneh sendiri. Awalnya aku kira karena laptop kepanasan, namun biasanya jika laptop memiliki problem dengan panas, laptop itu akan mati dan bukannya restart. Aku kira masalahnya terletak pada Windows, namun saat aku menggunakan GNU/Linux melalui live CD, hal yang sama tetap terjadi. Anehnya, jika aku masuk ke safe mode di Windows, hal tersebut malah tidak terjadi. Semakin membingungkan adalah jika masuk dalam mode BIOS juga tidak terjadi hal serupa, jadi kegiatan restart otomatis saat dicolok charger terjadi ketika aku masuk ke sistem operasi.

Baca Selengkapnya

Kentut!

Mungkin, jika dibuat suatu diagram statistik, maka laju pertumbuhan kentutku minggu ini melonjak dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya. Tidak tahu mengapa, beberapa hari ini aku sering sekali kentut, dan *maaf* kadang malah bersuara nyaring. Untung, hal itu terjadi di dalam kamar atau saat duduk-duduk bersama keluarga. Parahnya adalah saat aku di luar dan bersama teman-teman, saat “itu” hendak keluar aku harus ekstra hati-hati untuk mengeluarkannya dari pintu belakang.

Aku heran. Kenapa manusia benci dengan kentut? Seperti, merasa tidak sopan jika ada manusia yang lain kentut di depan orang-orang. Padahal, kentut itu manusiawi. Bahkan, saat orang baru selesai operasi, dokter sering bertanya suatu hal yang tabu, “sudah kentut?

Jujur. Aku tidak pernah ingin kentutku itu berbunyi nyaring, atau merusak konsentrasi orang-orang dengan baunya. Tetapi, kentut adalah sesuatu hal yang tidak bisa ditolak. Dia datang tanpa diundang, pergi tidak diantar. Bahkan, semua aneknot tentang cinta diumpamakan seperti kentut, “cinta itu seperti kentut, ditahan sakit perut, dikeluarkan bikin orang ribut.

Baca Selengkapnya