Aku Hanya Ingin Sendiri, Kembali Sepi

Aku hanya merasa cemburu, teracuhkan, dan tak diberi kepercayaan.
Semua yang dulu menggumpal, kuledakkan sekarang.
Aku hanya ingin sendiri, kembali sepi.

Ah, aku lupa bagaimana aku terlahir. Tiba-tiba saja seingatku, aku ada. Yah ada, lalu hari-hari kulalui dengan biasa. Tak ada keistimewaan, inilah aku.

Aku terlahir mungkin dengan sedikit teman yang ditakdirkan berjalan bersama melangkah bersamaku. Aku memang kurang pandai bergaul, yang berteman denganku malah sering aku cuekin.

Mungkin temanku mampu dihitung

Entah mengapa, ada beribu, berjuta, bermilyar kemarahan menjalari nadi darahku yang aku tidak tahu darimana asalnya. Ada sedemikian kebencian yang menjalar yang sewaktu-waktu siap untuk diledakkan.

Aku tidak mengerti hingga saat ini, sungguh mengapa, darimana, dan kemana seluruh aliran kebencian, kemarahan, dengki, dan sejuta, semilyar, sepenuh bilangan yin akan mengalir ?

Entah berapa hati tersakiti, entah berapa jiwa kuhancurkan, entah berapa orang yang tercuekkan.

Aku memang lebih buruk dari iblis…

Tuhan, siapakah seburuk-buruk makhluk di mata-MU ? Aku ?!

Ahhh…. andai aku tidak terlahir, atau… ahhh

Jangan Paksakan Langitmu

Dan jangan kamu memaksakan langitmu kepada langit mereka atau yang lain.

Bukankan telah diciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal.

Tak ada guna menyamakan ego dalam satu wadah, karena ego adalah sesuatu yang sangat amat liar adanya.

Maka lihatlah bintang, pandangi iya yang menghias langit. Langit itu tercipta bukan untuk satu kaum namun bagimu semua, lihatlah langit yang tak berbingkai.

Bergeraklah ke atas dan pandangi bawahmu kelak kamu akan mengetahui mana yang tepat adanya.

Dan semua bergerak sesuai sistem, jadi jangan takut. Sistem akan terus menuntunmu.

Bukanlah kebajikan menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat, namun kebajikan itu ialah menyembah Allah, percaya kepada Malaikat, percaya kepada Nabi, dan beriman kepada hari akhir dan memberi makan fakir miskin.

Marah

Marah itu perlu, namun bukan luapan yang diperlukan.

Marah itu juga harus melihat audients kita, jangan asal nyerocos (memang sulit).

Karena itu lebih baik menahan amarah itu.

Manusia memang bukan tong sampah yang mampu dijejal dengan semua sampah-sampah ego. Namun walau toh begitu, terkadang tong sampah juga memiliki ketahanan muatan maksimum.

So, coba dech mulai sekarang tahan amarah. Walau itu berat namun tidak ada salahnya mencoba.

Ada Apa dengan ISLAM ?

Ada apa dengan umat ISLAM dewasa ini ? Mengapa sebuah persatuan sulit sekali terbangun.

Kemarin malam saya melihat acara berita di TV, di sana terlihat anak-anak muda NU memblokir jalan Pantura melakukan DEMO.

Dalam poster mereka mengatakan “Ganyang FPI“.

Ahh, betapa miris hati melihat. Lalu saya berpikir andai Nabi yang melihat peristiwa ini, apa yang ada dalam benak beliau.

Saya sungguh tidak mengerti.

Saya bukan berasal dari kalangan pasantren, juga bukan mereka yang terlalu paham agama.

Memang dari MIN hingga MTsn saya di masukkan dalam sekolah yang menitik beratkan kepada Agama, namun itu belum secukup apa yang di dapat oleh mereka dari kalangan pasantren, terutama kalangan NU.

Entah apa yang terjadi, tetapi dewasa ini kaum yang dianggap sebagai pemikir umat malah begitu mengacaukan umat. Mereka menjadi begitu hedonis, menjadi begitu liberalis, menjadi begitu pluralis, hingga semua menyatu dalam sebuah titik evolusi yang begitu tidak saya mengerti.

Kebebasan telah menjadi keblinger dan begitu terlalu disalahpahamkan.

Teringat dengan majalah SABILI yang saya baca tadi sore; “Dosen IAIN Melecehkan ISLAM“.

Ada Apa dengan ISLAM ?!

Mungkin pertanyaan saya harus menjadi PR bagi kita semua.

Bukannya saya tidak menyukai Gusdur, awal ketidak sukaan saya pada dia dimulai saat dia berkata bahwa dirinya Nabi Orang Aceh. Amit-amit cabang bayi, darimana pikiran nyeleneh itu timbul, darimana ?!

Dan yang lebih membingungkan adalah, mereka yang saya anggap pemikir umat kok malah lantas membela.

Mari kita ambil garis…

Mana yang lebih anda bela, Nabi atau Gusdur ?!

Sesungguhnya hukum Allah itu pasti, sangat amat pasti. Saya hanya tidak ingin Allah menjadi murka terhadap kita semua.

Mungkin Allah harus memberikan tsunami pada kalian semua, mungkin Allah harus memperlihatkan tsunami tepat di depan mata kalian agar kalian sadar. Agar kalian paham letak titik dimana ketidakmengertian saya.

Pahamkah kalian ?!

Ijinkan Aku Tidak Berfilsafat Sehari Saja

Tuhan, ijinkan aku tidak berfilsafat sehari saja !!! Sehari saja… mungkin itu lebih dari cukup yang kubutuhkan.

Aku ingin tidak berpikir sehari saja, karena yang memenuhi seluruh mindalaku begitu menjemukan. Apa yang kupikirkan begitu memuakkan hingga aku terlihat menjadi tidak berpikir. AKU INGIN TIDAK BERPIKIR TUHAN, cukup untuk sehari saja.

Terkadang mereka berpikir bahwa berfilsafat adalah merenung, namun bagiku ada makna yang lebih luas dalam berfilsafat. Berfilsafat juga berpikir, bukannya berpikir seperti yang kita bayangkan, namun makna yang lebih luas dari hanya sekedar berpikir.

Aku ingin 1 hari saja hidup tanpa beban dosa dan pahala, tanpa keinginan surga dan neraka.

Aku ingin kau memberikanku sedikit kekuatan immortal, dimana aku bisa membunuhi diriku sepuas yang aku mau. Aku ingin tidak terbeban dengan dosa sehingga aku ingin berbuat dosa sesukaku. Aku ingin kau mengecahkan nama surga sehingga aku mampu menilai, sampai dimana letak keikhlasanku pada-Mu.

Ijinkan aku tidak berfilsafat

Ijinkan aku hidup bebas tanpa terlihat oleh-Mu

Wahai Tuhan, tolong tutup sehari saja mata-Mu terhadapku. Karena setiap laku yang kulakukan, selalu ada Kamu.

Aku malu Tuhan…

Atau lebih baik jadikan aku gila, hingga aku terlepas dari-Mu.

Atau benamkan saja diriku dalam diri-Mu.

Tuhan… kadang pikiran ini begitu bercabang, begitu menggunung iblis, begitu kacau.

Aku hanya ingin hidup, hidup tanpa beban…

Adakah ?