Sujud

Menatap Ke Dalam

Mungkin aku adalah manusia paling buruk yang pernah hadir di dunia ini. Tentang langkah yang semakin hari semakin pengkor, tertatih menyusuri seluruh duri dan kerikil yang tersebar. Belum lagi tentang lumpur yang melekat dan menjadi liat, juga lumut yang melicinkan seluruh jalan. Berkali aku tergelincir. Berkali pula aku mengulang seluruh kesalahan oleh langkah yang tergesa. Aku adalah manusia yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

Hatta, masih saja aku mengurusi jalan orang lain. Meneriakkan mereka tentang buta yang menutupi. Membisikkan mereka tentang kerikil-kerikil yang menjelma duri.

Aku belum lagi khatam menatap ke dalam, lantas mengapa aku harus membaca yang lain. Seperti engkau membuka beberapa bab sebuah novel lantas mencampakkan dan mencari lembaran baru dari novel yang berbeda. Akhir yang kau cari tak juga ditemukan.

Pertanyaan — tentang siapa aku — terus saja mengalun tanpa henti. Pertanyaan tentang akhir yang dinanti atau tentang tujuan dari semua kisah hidup ini. Sebenarnya, apa yang sedang aku cari?

Baca Selengkapnya

Memberontak Kesendirian

Memberontak Kesendirian

Suatu siang, dalam sebuah percakapan, temanku tak percaya saat kukatakan bahwa aku jarang melakukan segala sesuatu dalam kesendirian. Aku tidak berbelanja sendiri, tidak ngopi sendiri, tidak ke dokter sendiri, apapun itu — aku tidak sendiri.

Dia tidak percaya. Dia selalu merasa bahwa aku adalah sosok seorang introvert — mereka yang nyaman dalam kesendirian, pemalu, dan berpikir sebelum berbicara. Maka ketika aku engan melakukan segala sesuatu tanpa seorang teman, segala sosokku dalam benaknya serasa dijungkar-balikkan.

Kemudian selanjutnya aku bertanya, mengapa dia bisa begitu mudah melakukan segala hal dalam kesendirian? Seperti berjalan sendiri tanpa ada yang menemani, berbelanja sendiri, menonton sendiri, menikmati secangkir kopi sendiri dalam hiruk manusia yang tidak alpa berbicara. Dan seperti yang aku tebak, dia pun tidak mengerti mengapa dia bisa melakukannya. Hanya sebuah alasan bahwa, “ya bisa saja, kenapa tidak.” — hanya itu.

Maka kemarin, aku mulai mencoba berontak. Mencoba menguji apakah aku mampu tegas dalam kesendirian. Akupun mencoba berjalan sendiri mengelilingi separuh kota saat subuh berganti pagi. Duduk di sebuah warung kopi ketika orang-orang bahkan belum lagi beranjak dari pintu rumahnya untuk pergi.

Baca Selengkapnya

Steve Jobs Close Up

Tidak Suka Steve Jobs

Banyak orang mengagumi Steve Jobs, namun aku tidak.

Terkadang aku melihat banyak kemiripan antara Steve Jobs dengan Hitler pada beberapa kondisi. Terutama, tentang sosoknya yang fasis, ego sentris, hanya memikirkan diri sendiri, kekanakan, dan terlalu memeras orang lain. Jujur, bagiku sosok yang lebih layak dikagumi adalah Steve Wozniak, paling tidak, orang itu lebih dekat karakternya dengan sosok manusia.

Ketidaksukaan pada Steve Jobs pun semakin menjadi setelah aku membaca buku biografi tentangnya yang ditulis oleh Isaac Walterson. Sebagian sisi kelam Jobs pun terkuak di sana, yang bahkan tanpa hati mempatenkan karya Jonathan Ive sebagai karya miliknya. Namun aku yakin, walau demikian tetap saja ada jutaan orang yang mengaguminya sebagai sosok inovatif dengan segudang karyanya yang ciamik, di luar sisi manusianya tersebut. Sosok yang bahkan tega membuang anak biologisnya sendiri.

Kemudian aku berpikir. Manusia dihargai karena kecintaannya kepada sesama manusia, atau karena apa yang telah dihasilkannya. Karena, keduanya memiliki segmen tersendiri. Misal, andai kata manusia cuma dicintai karena karyanya, maka kenapa para Santo dikenal dan dicintai. Sebaliknya, jika manusia dikenali karena kebaikannya, kenapa mereka yang berkarya namun tidak punya hati begitu dielukan.

Hal yang sama juga seperti Stalin, jutaan yang terbunuh tidak membuat perannya begitu hancur seperti Hitler. Atau tentang Soekarno yang memenjarakan lawan-lawan politiknya dan Soeharto terhadap dosanya membunuh jutaan orang yang diduga sebagai antek PKI.

Baca Selengkapnya

Hantu Lab

Lab Untold Story

Masih ingat dengan kisahku soal hantu lab di tulisan ini. Nah, beberapa hari yang lalu aku mulai menemukan bukti bahwa di labku itu memang benar ada hantunya. Ini seperti, misteri yang tersimpan selama berabad-abad mulai terkuak.

Jadi ceritanya begini, beberapa hari yang lalu saat aku baru sampai di lab, tiba-tiba salah seorang staf lab mendekati aku dan Fadli, sambil berbisik pelan, “mas, tadi ada interaksi.” — seperti acara di dunia lain

Aku dan Fadli kebingungan. Interaksi apa?

Ternyata interaksi yang dimaksud oleh staf lab tersebut adalah tentang makhluk halus yang menjadi penghuni lab. Nama hantu tersebut adalah Nina. Ngakunya, hantu tersebut adalah jiwa yang belum mendapatkan kedamaian karena kehilangan sebuah cincin yang hilang entah ke mana pada saat kematiannya. Akunya lagi, hantu tersebut mati karena kecelakaan dalam keadaan hamil dua bulan, di luar nikah. Makin aneh saja cara jin menipu manusia.

Jadi, di lab ada sebuah kursi roda hasil perancangan mahasiswa di sini dan ternyata sepeda itu adalah barang mainan si Nina itu. Terus, dia ngotot agar jangan pernah sampai memindahkan kursi roda itu keluar dari ruangan lab. Dan tempat ngetem si Nina itu setelah magrib adalah di ruangan mushala dan di ruangan mengajar.

Baca Selengkapnya

danbo

Gelisahmu

Aku tidak tahu apakah ini kutukan. Seseorang pernah mengatakan padaku tentang ketidaksetiaannya. Aku menyanggah, mencoba buyar kan segala apa yang dikatakan orang tersebut walau kemudian akhirnya aku menyerah dengan segala apa yang hadir di depan mata. Dari dulu, aku selalu duduk dalam posisi mengawasi, bersabar dalam keadaan untuk terus melihat apakah dia akan kembali. Tapi yang aku dapatkan, dia terus mengulangi.

Saat dia ingin pergi, selalu aku katakan: nanti engkau kehilangan tempat untuk kembali. Mungkin karena alasan itu dia menjadi resah. Ingin bebas namun ingin juga merasa aman seperti dalam sangkar. Maka dia pun urung untuk melebarkan sayapnya untuk terbang tinggi, urung meninggalkan aku yang sendiri di dalam gua dalam tubuh penuh luka. Maka aku bersyukur tentang hal itu.

Walau aku terus melihat gelisah. Tentang jiwa yang ingin berkisah, tidak cuma terapung dalam danau dangkal lagi keruh. Jiwa yang ingin segera bebas, menembus langit tinggi dan cakrawala. Jiwa yang geram dengan semua yang hadir dalam mayapada.

Mungkin sebenarnya aku hanya ingin menghibur diri. Tentang takdir yang aku rasa berhak untuk aku miliki. Tentang jiwa yang aku kurung kebebasannya untuk terbang tinggi, agar tidak lagi aku sendiri di dalam gua lagi gelap dan sempit ini. Ya! Aku hanya menghibur diri.

Baca Selengkapnya