Tuhan Tidak Sedang Bermain Dadu

Cari-cari di google.com eh taunya nyasar ke blogsnya mas hericz.net, lalu ada sebuah pemikiran yang indah di sana, disadur dengan menggunakan kisah. Judul aslinya Gusti Allah Tidak Sedang Bermain Dadu. Selamat menikmati!

Sebulan lebih aku nggak nulis, sudah begitu banyak hal yang terjadi di dunia ini. Kantorku sudah pindah, aku juga pindah rumah (tapi tetep ngontrak), aku sudah beli sepeda motor, Bush datang ke Bogor, dan sebuah pelajaran bahwa hujan durian di negeri tetangga yang tak seindah hujan air di negeri sendiri.

Tapi aku lagi tertarik sama kisah yang sinetron banget di negara alfabet.


Negara Alfabet

Kalau ini adalah negara Alfabet, maka mari kita sebut tokoh bernama A. Yang serba baik, pinter, alim, mampu menciptakan keluarga yang sakinah dengan 7 orang anak, menginspirasi semua orang untuk menjadi lebih baik, pengusaha sukses pula. Pokoknya nilainya serba A. Makanya dia disebut AA.

Di ujung negara yang lain, tentu saja namanya Z, ada orang yang juga pinter, baik hati, aktif di kegiatan kemahasiswaan hingga jadi ketua Umum organisasi mahasiswa islam. Sampai akhirnya beliau bisa memanjat pohon beringin yang mendudukkannya di kursi Senayan, naik motor 20 menit dari kontrakanku. Jadi posisiku dan dia bedanya nggak jauh-jauh amat sih. Pak Z ini sangat Yahud, maka diberi julukan YZ. *halah maksa*

AA ke YZ

Dunia tiba-tiba gempar. Mas AA menikah lagi, secara resmi di depan saksi. Istrinya yang baik, ramah, subur (lha anaknya 7 je), merelakan suaminya menikah lagi dengan seorang mantan model, cantik tinggi semampai.

Kemudian, Ibu-ibu demo, menteri ikut bikin pres rilis, pejabat lain mengajukan amandemen pengubahan undang-undang, presiden angkat bicara, infotainment dapat topik bahasan, tabloid-tabloid dapet berita.

Mas AA kembali menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di ujung dunia lain, video klip amatir mas YZ beredar cepat dari HP ke HP, lewat mahasiswa, karyawan kantor, tukang ojek, anak SMA, lewat milis-milis, sampai akhirnya masuk ke media massa.

Penasaran juga, memang sutradaranya siapa sih kok peredaran filmnya ngalahin gegap gempitanya Jiffest? Owalah, ternyata adegan mas YZ sedang ‘ihik-ihik’ dengan mbak ME, seorang penyanyi dangdut yang memang sudah malang melintang di pentas panggung politik -dalam arti harfiah-. (Eh, tapi walau sudah nikah,nonton begituan tetep dosa ya?)

Kemudian, gedung Senayan geger lagi. Om Permadi malah bilang “ah, lagi sial aja itu si YZ, sudah biasa di sini”. Hwarakadah, ini lagi ngomongin dewan yang terhormat lho, bukan ngomongin komplek prostitusi. Waktu bergerak cepat, lalu mbak ME masuk TV, infotainment dapat topik bahasan, tabloid-tabloid dapat berita.

Tapi untuk kasus ini, mas YZ tidak menginspirasi banyak orang. Lagipula, waktu itu beliau sedang ke luar negeri.

Poligami dan Selingkuh

Jadi begitulah, di satu sisi dunia ada manusia yang menyalurkan sifat manusianya dengan cara yang berbeda. Satu dengan jalan yang memang diajarkan dalam agama -yang entah kondisinya sesuai atau tidak di jaman sekarang-. Satunya lagi dengan jalan yang selalu hina di jaman dan kebudayaan manapun.

Anak SD: “Kenapa acara Smack Down nggak ada lagi di TV ?”
Bapak: “Karena anak-anak suka meniru gerakannya, jadi berbahaya”
Anak SD: “Lho, kalau James Bond yang suka berzina itu kenapa tetap diputer di TV dan Bioskop? Bukannya Bapak-bapak juga suka meniru? Wakil rakyat saja sampai ikut meniru”
Bapak : “Oh kalau itu tidak bisa dihapus, karena nanti ramai orang demo lagi di bunderan HI, kan mengganggu anak-anak yang mau sekolah”

***

Sementara itu, di sebuah blok di Rumah Susun Tanah Abang, sepasang suami istri yang baru sebulan menikah ngobrol santai sambil nonton TV.

Istri Menyun: “Wah, AA Gym kawin kok negara sampai mau mengubah undang-undang sih? Reaktif, kaya infotainment saja”
Suami Geblek: “Ya begitulah. Eh, kalo aku kawin lagi gimana ya?”
Istri Menyun: “Emang mau punya istri berapa?”
Suami Geblek: “Delapan belas?”
Istri Menyun: “Lah, istri satu saja njemput di kantor terlambat terus kok. Kalau istrimu 18 nanti apa nggak susah antar jemputnya?”

Lalu aku bersyukur punya istri yang bisa mengingatkan keterbatasan kemampuanku.

Dan karena Einstein saja bilang kalau “God doesn’t play dice”, “Gusti Allah mboten dolanan dadu”, aku yakin dua kejadian yang terjadi bersamaan ini tidak terjadi tanpa hikmah buat umat manusia. Paling tidak untuk manusia yang masih sempat lihat infotainment dan baca tabloid gosip.


Ket: Penggunaan Mas AA adalah redundan.

Incoming search terms: