Delik Pembelaan

Berikut ini merupakan sebuah Delik Pembelaan tentang karyaku yang berjudul Melata Seperti Sundal yang dibedah pada tanggal 25 Oktober 2009 di FLP Aceh. Pembedahnya adalah kak Ega dan Liza.

Sebenarnya pembedahan karyaku tersebut di luar jadwal seharusnya. Jadwal bedah karya episode 25 Oktober 2009 adalah karya Riza Rahmi dengan judul Jangan Khianati Abu dan karya Lisma Linda alias Ling dengan judul Bocah Itu ???

Melihat betapa fenomenalnya dan beragam kritikan, hujatan, serta ketidak tahuan akan latar belakang mengapa Melata Seperti sundal ada, maka pledoi ini saya siapkan. SELAMAT MEMBACA !!!

Baca Selengkapnya

Another Blog

Hallo kawan-kawan, Baiquni punya blog baru lho, alamatnya di http://blog.baiquni.net

Rencananya blog.baiquni.net akan berbeda konsep dengan baiquni.net. Jika baiquni.net lebih kepada bentuk tulisan berupa apa yang kualami, apa yang kurasakan dan kutuangkan dalam bentuk puitis, maka blog.baiquni.net adalah suatu bentuk tulisan yang apa adanya. Tanpa puisi-puisi.

So diharapkan kepada kalian, fans berat baiquni.net sudi kiranya juga mengunjungi blogku yang satu lagi di http://blog.baiquni.net. Dan jangan lewatkan sedikitpun berita dari sana, karena apa yang akan kutulis di sana aku harap berbeda warna dengan apa yang akan kutulis di sini.

So, cekidot !!!

Bagaimana Dengan Bidadari

Lelaki itu berdiri di depanku. “Bagaimana dengan bidadari?” tanyanya membuka kata.

Aku terhenyak, baru-baru datang dalam ruang tanpa dimensi, dia malah bertanya itu. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Bagiku, jawaban atas pertanyaan itu bukanlah sekarang, ketika akupun belum dapat menentukan sosok bidadari itu.

“Mengapa diam?” desaknya.

Bidadari terakhir bagiku adalah “dia“, namun kami telah lama tidak saling berkirim kabar. Aku yang memulai atau dia dalam episode diam itu. Teramat lama hingga akupun lupa.

Baca Selengkapnya

Pagiku Segelap Malam

Orang-orang kata, pagi itu adalah cerah tetapi bagiku pagi tak ada beda dengan malam. Pagi bagiku tetap sama kelam dengan malam yang hitam tanpa bulan dan bintang.

Aku hadir ke dunia dengan tangisan. Sebuah penolakan awal untuk dilahirkan, namun manusia bersorak, mereka bergembira. Kau tahu mengapa? Karena mereka menertawakanku, mereka menikmati aku pada suatu ketika, saat kesepian hadir lebih mengkekalkan daripada bayang-bayang manusia tentang tsunami atau ledakan krakatau yang memisahkan Sumatera dan Jawa.

Aku menghela napas. Mampu kurasa aliran-aliran kesunyian, sepi, hampa menjalari pelosok pori-poriku, menggatali sekujur epidermis dan menggoyang-goyang bulu-bulu kulitku. Demikian kekal adanya, tak akan mampu tersangsikan.

Sekujur pagi aku meringguk. Membalutkan lenganku pada kedua ujung lutut yang kuangkat dalam posisi jongkokku. Kepala tunduk dalam kesendirian. Mengertikah engkau bagaimana pekatnya gelap? Lebih pekat daripada hitam saat malam tak berbulan dan berbintang.

Baca Selengkapnya