Lakon Manusia

Aku selalu tersenyum dengan orang-orang sekelilingku dengan segala tingkah mereka. Aku melihat cahaya-cahaya kebanggaan dari mata mereka, betapa mereka meninggi, terus tinggi hingga seperti tidak pernah mengenal bumi.

Orang-orang bilang itu membual, tetapi aku sebut dengan impian. Entah kosong atau khayalan basi aku tak peduli. Apa yang orang-orang kata adalah bagian-bagian dari keinginan mereka mereka, mungkin yang belum tercapai. Ketika mereka berbicara tentang jenjang pendidikan mereka, kesuksesan-kesuksesan hidup mereka, betapa indahnya kota-kota yang pernah mereka lalui atau sempurnanya hidup mereka, bahkan tentang betapa sucinya keluarga mereka.

Sebagian perkataan itu tidaklah mutlak salah. Kebanyakan benar dari bibir-bibir manusia yang jujur. Dan aku senang dengan itu. Aku menghargai. Aku memaklumi.

Sayangnya, sebagian manusia tidak mudah untuk menerima kebaikan yang tidak terjadi pada diri mereka namun malah terjadi kepada orang lain. Mereka kata, perkataan-perkataan jujur itu adalah bagian dari kesombongan, mengangkat-angkat nama, atau entah apalah. Mereka pun tak salah. Mereka cuma ikut apa ingin mereka.

Kaum yang menambah-nambah. Untuk mereka aku juga tersenyum.

Baca Selengkapnya

Kangen Bang Pmen

Aku udah hampir sebulan lebih ga ketemu dengan Bang Pmen. Biasanya kami bertemu di Yahoo! Messenger.

Bang Pmen adalah temanku yang bekerja di Afrika Selatan. Darinya aku belajar banyak hal, yah ga banyak-banyak juga seh cuma aku sering curhat aja ke dia. Kadang dia suka nyebutin aku: “beben kacrut

Aku lupa kapan awal berkenalan dengan dia, namun ujungnya kami akrab. Dia salah satu coder untuk website list backdooring #kartubeben dulu di http://nkakashi.6te.net.

Baca Selengkapnya

Apa Kamu Tidak Malu?

Ben, apa kamu tidak malu menulis di blogmu tentang hal-hal pribadi tentang kamu?

Seorang teman pernah bertanya demikian padaku. Aku menjawab santai dengan tidak lupa memberikan senyuman khasku. “TIDAK!” Jawabku.

Hal-hal yang kuberitakan di blog ini bukanlah suatu berita besar, cuma beberapa kisah cinta, patah hati, dan hal-hal lebay lainnya yang memang aku membutuhkan aktualisasi diri. Tak mungkin aku pendam semuanya. Sebagian yang aku pendam cenderung terlupakan.

Aku tidak pernah membuat suatu diary khusus. Aku cuma memiliki sebuah blog, yang di sana aku menulis perjalanan hidupku, menulis kisah-kisah cintaku karena itu adalah bagian yang paling ingin aku kenang. Mungkin dengan berlebay-lebay bercerita di blog ini, pada suatu masa nanti aku akan kembali menelusuri setiap lembaran yang pernah aku ceritakan.

Andai temanku itu tahu, aku pernah kehilangan cinta karena blog ini.

Baca Selengkapnya

Jantung Hatiku

Tak mudah tuk akui
bahwa engkau begitu berarti
tak juga ku pungkiri
ternyata kaulah yang selalu di hati

kurasa ku sampai di ujung jalanku
tempat ku berhenti dan ber.. nya.. nyi

Reff: Jantung hatiku, kuletakkan di jantung hatimu
ku rekatkan erat di nadimu, mengalir di darahmu
dan terbelenggu takkan pernah lekang oleh waktu
semakin melekat di pelukmu, hingga akhir aku…

back to reff (3x)

Baca Selengkapnya

Sebatas Kemampuanku

Kawan, lama aku tak bercerita di blog ini. Lebih senang aku menulis status-status palsu di dinding facebookku. Sesuatu yang kureka-reka saja tanpa ada maksud, biarlah orang lain yang menilai. Aku sungguh tak peduli, karena itu bukan aku sebenar-benar aku.

Lama kita tak bercerita. Baiklah, duduklah sejenak. Bacalah pelan-pelan bait-bait kata yang akan kuceritakan berikut ini. Jangan beranjak dahulu, tangguhkanlah jejak langkahmu sejenak. Mari membaca, cerita-cerita yang mungkin engkau anggap tidak penting, namun bagiku begitu berharga.

Engkau tahu kawan, kadang aku merasa Tuhan beberapa minggu terakhir ini memberiku cukup banyak waktu. Dia melepaskanku dari segala rutinitas. Tak dibuatnya pikiranku terombang-ambing dengan perasaan hati, tak dibuatnya aku sibuk dengan urusan ini-itu. Semuanya berjalan dengan demikian santai, dan aku menjadi terlalu santai. Mungkin Tuhan ingin ucap, “kerjakanlah tugas pokokmu.” Mungkin demikian Dia ingin kata.

Namun sejuta waktu tidak akan cukup. Ada satu kekurangan dalam diriku yang sangat fatal: KEMAMPUAN BERPIKIR.

Baca Selengkapnya