Episode Monolog

“Aku lelah… teramat lelah.”

Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu, aku tak mengerti dari mana suara itu timbul. Dari bibirnya, atau dari hatinya. Aku sungguh tak tahu.

”Ben, hidup ini rasanya terlalu lama. Terkadang juga begitu singkat.”

Kali ini aku menoleh kepadanya, mencoba lebih fokus terhadap setiap ucapannya, ucapan yang biasa saja namun terkadang sulit untuk ku pahami. ”Mengapa demikian?”

”Lihatlah langit itu,” katanya sembari mengangkat dagunya berusaha menatap langit. ”Berapa lama ia telah demikian, menaungi bumi dan semesta. Apa tak terbersit bosan dihatinya?”

Ngaco! Terkadang dia memang begitu gila, sekarang dia menanyakan apakah langit tak bosan terus menaungi bumi. Benar-benar sinting!

”Kamu kenapa? Ada sesuatu yang membuatmu gusar? Katakan saja!” Aku mulai tak sabaran untuk terus mendengar ocehannya tentang filsafat basi.

Dia menoleh ke arahku, tergurat satu senyum namun rasanya tersimpan berjuta kesepian di sana, berjuta kejenuhan. Aku tahu, karena aku juga seperti itu. Rasa sepi dan jenuh yang tiba-tiba muncul tak mampu kukendalikan, terkadang rasa itu muncul saat semua sedang tersenyum, terkadang rasa itu hadir saat aku sedang benar-benar menikmati kehadiran sayangku, namun entah kenapa rasa itu tetap hadir. Rasa sepi dengan sejuta jenuh, rasa yang mungkin hasil evolusi reinkarnasi jutaan kehidupan dan kematian. Rasa yang begitu abadi. Rasa itu terpancarkan hanya dalam satu senyum tipisnya.

”Bahkan burung pun tak terbang sepanjang waktu. Mengapa langit tak meruntuh saja?”

”Kamu kenapa, apa kamu sedang mencoba memaki seseorang?” Tanyaku tak mengerti alur yang ingin disampaikannya. Aku hanya sekedar menduga-duga.

Dia menggeleng, ”Aku tak memaki siapapun Ben. Tidak sama sekali.”

”Lantas arah pembicaraanmu itu ke mana?” Tanyaku mencoba berusaha memahami.

”Aku hanya sedang bosan, aku hanya sedang jenuh. Aku penat!” Tekannya.

”Bukankah kamu memiliki Taman Surga? Mengapa tak mencoba berinteraksi dengan dia saja. Mungkin saja rasa jenuhmu itu hilang.” Aku mencoba memberikan solusi.

Dia menggeleng kembali, ”Aku tak pernah menjadikannya rasa tumpuan kesepianku. Aku mencintainya, bukan menjadikannya pelampiasan atas semua rasa sepi ini. Biarlah rasa sepi itu kutanggung sendiri, biarlah.”

”Apa dia tak berarti bagimu?” Entah mengapa tiba-tiba saja itu tercetus dari bibirku.

”Sangat berarti, amat sangat berarti dia dalam hidupku Ben. Andai engkau tahu.”

Langit hari ini cerah, rasanya tak pantas jika kita duduk sambil memakinya. Lihatlah awan-awan yang berarak, menciptakan khayalan tingkat tinggi. Dan saat air menjadi uap, uap mengembun, lantas menghitam. Saat panas bersatu dengan dingin, saat negatif menyentuh positif, saat badai mengalir, saat muson menjadi musim, saat petir mengguntur, dan plasma cahaya terbentuk, dan ketika rintik menjadi hujan. Semua adalah ekosistem, lantas apakah masih kita hendak memaki?

”Ben, andai engkau mengerti saat jenuh melanda. Sungguh energi yang dihasilkan melebihi trilyunan nuklir dalam diri ini. Melewati ratusan kali menyatuan inti seperti fusi pada matahari. Sungguh ia amat menekan, mencengkram, dan menyakitkan. Andai engkau tahu Ben!”

Aku tahu, namun terkadang aku tak peduli. Kubiarkan rasa itu datang dan pergi. Biarkan aku menjadi labirin terowongan tempatnya mengalir, aku membiarkan diriku menjadi jalan, hanya jalan tanpa memiliki sebuah halte untuk persinggahan.

Sosok itu mulai memudar, aku kembali menjadi aku. Dengan sejuta kesepian dan keheningan. Episode Monolog.

  • wah ini diposting pula di AFC kan?
    heuheu bagus sastranya 🙂

    salam kenal ya bang

  • admin

    sama-sama dek liezmaya

  • Pingback: Facebook()