Anak Ingusan

Well, hari ini aku menjadi anak ingusan. Anak ingusan dalam pengertian yang sebenarnya yaitu hidungku terus menerus mengeluarkan ingus dan mengeras. Agak aneh rasanya ketika hidungnya mengeras, aku menjadi merasa tidak mood untuk mengupil.

Tetapi ada yang aneh di sini. Ingusku tidak seperti ingus anak pada umumnya yang kental, berlendir, dan lengket. Ingusku ini cair, malah seperti air dan warnanya kuning. Jika aku menengadah ke atas dan mengesap ingus yang belum keluar itu kembali, kepalaku terasa saat pusing dan sakit. Sama seperti rasanya ketika tanpa sengaja kamu mengesap air melalui hidungmu. Parahnya lagi adalah, aku tidak mampu menghentikan ingus cair ini seperti ingus-ingus pada umumnya.

Aku baru tersadar bahwa aku beringus pagi tadi. Saat aku terbangun dengan terpaksa karena aku mengesap ingus tanpa sengaja yang membuat kepalaku seperti kemasukan alien. Saat aku bangun, ingusnya belum keluar. Baru saat aku membaca beberapa journal yang sudah aku print, tanpa kusadari ada air yang keluar dari hidungku dan menetes di lembaran-lembaran putih jurnalku. Warnanya kuning.

Baca Selengkapnya

Minggu Terburuk Dalam Sejarah

Aku punya satu kelemahan jika tidak ingin dikatakan penyakit. Aku akan selalu mengantuk jika aku bangun sebelum subuh. Hatta walau aku sudah tidur 50 jam lebih, aku akan tetap mengantuk. Celakanya, hari ini aku bangun pukul 4 pagi, aku juga shalat subuh di mesjid. Otomatis, paginya aku mulai mengantuk lagi.

Ada dua agenda walau aku tidak membalas sms mereka (tidak mengiyakan) tetapi sudah aku tegaskan aku akan hadir. Kadang, aku agak malas untuk bepergian ke suatu tempat, maunya di rumah. Seperti ada lem yang menempel di pantatku jika aku hendak bepergian.

Agendanya adalah rapat kaderisasi di FLP dan pukul 2 harus ke TVRI.

Aku tertidur lagi pukul 8 pagi, setelah makan 2 porsi nasi gurih Rasyid dengan lauk dendeng yang aku beli bersama Ayah pagi ini. Selepas makan itu, aku pun ke kamar karena Ayah memintaku mematikan lampu atas yang masih hidup. Agak malas turun ke bawah, aku pun ke kamar untuk melihat laptop.

Tak terasa, rasanya ingin tidur karena kepalaku agak berat dan mata masih berasap. Ada beberapa masalah yang mengganjal dipikiranku. Aku pun tertidur.

Baca Selengkapnya

Pusing Kepala

Tadi pagi si Mirza sms katanya dia butuh sepatu kulit yang aku pinjam untuk proposal kemarin itu, karena dia akan wisuda lokal hari ini. Malangnya, aku baru membaca sms itu siangnya. Saat itu aku merasa sangat bersalah terhadap Mirza.

Aku sakit kepala. Mulai dari kemarin sore sudah sakit sekali. Pusing yang disertai rasa mual. Aku duga, mungkin karena efek mempelototi layar monitor dalam waktu berjam-jam, atau mungkin juga karena melihat terus sambil berpikir keras dengan code-code MATLAB yang hendak aku jabarkan menjadi rumus bagi program yang lebih baru.

Hingga tanggal 20, aku harus sudah siap membuat sebuah program MATLAB untuk mensimulasikan analisis gerak simulator gempa berbasiskan Stewart Platform. Dosen pembimbingku sudah mewanti-wanti. Aku rada tidak enak juga karena seperti menjadi beban bagi dosenku.

Kadang aku merasa seperti pecundang. Punya mimpi yang tinggi tetapi tidak mampu merealisasikannya. Bahkan, aku tidak berani lagi menuliskan mimpi-mimpiku. Ada banyak mimpiku yang berguguran di tengah jalan karena seringnya aku ceritakan kepada orang-orang. Sekarang, aku seperti malu untuk bermimpi di hadapan orang-orang.

Baca Selengkapnya

Foto Briptu Norman Ciuman

Well. Kali ini kembali lagi tentang berita perihal Briptu Norman Berciuman.

Awalnya saya tidak memiliki informasi apa-apa tentang hal itu, tetapi barusan saya melihat kok hits blog saja meningkat pesat hingga 4000 kunjungan lebih. Saya cek ternyata mereka mengunjungi homepage awalnya. Tetapi ketika saya cek di bagian keyword yang masuk, ternyata banyak dari mereka yang mencari dengan kata kunci “Foto Mesum Briptu Norman” atau “Foto Ciuman Briptu Norman“.

Entah apa yang menarik dari foto seorang lelaki dan wanita yang sedang berciuman. Entah juga jika itu adegan sebuah film, lah ini malah cuma foto. Tidak ada yang sensasional kecuali bahwa karena Briptu Norman sudah menjadi orang yang mendadak terkenal sekarang ini.

Selama ini, Briptu Norman terkenal sebagai orang yang baik. Mungkin fotonya berciuman tidak lebih dari sekedar iseng, atau memang bagi kehidupannya berciuman adalah hal yang wajar. Sama seperti orang eropa dan barat yang malah menganggap ciuman adalah bagian dari tradisi.

Baca Selengkapnya

Namaku Kathmandu

sufism
sufiroad.blogspot.com
Rosario itu masih mengamit di tanganku. Dalam genggamanku dia berputar, sehaluan dengan bait-bait nama Tuhan yang bertasbih dari bibirku. Bibir kering yang terlalu lama tidak disirami air. Liurku juga telah kering, bahkan sering sekali kerongkonganku terasa sakit. Panas membumbung tinggi, matahari seperti sejengkal di atas ubun-ubun.

Rosarioku adalah tasbih yang unik, terukir dari biji-biji korma yang telah dikeringkan. Korma adalah makanan yang disukai nabiku, aku menjadikannya sebagai rosario sebagai bentuk cinta walau aku tetap memakan gandum yang telah menjadi roti. Cuma sesekali aku memakan korma, aku tidak begitu suka dengan sesuatu yang manis kecuali susu dengan tambahan sedikit gula.

Tidak cuma biji korma. Aku juga menyimpan segenggam pasir dari tanah yang pernah disinggahi oleh nabiku. Pasir itu kumasukkan ke dalam sebuah kantung yang kukalungkan dileherku. Sesekali jika cintaku telah begitu melangit maka aku berdiam sejenak, kutundukkan kepalaku ke tanah lantas kantung pasir itu kuciumi. Aku seperti sedang menciumi kaki nabiku.

Aku cinta nabiku.

Guru sering bercerita, dulu. Dia pernah kata bahwa nabiku adalah manusia suci, yang dosanya terampunkan dahulu, sekarang, dan masa akan datang. Nabiku adalah pecinta Tuhan sejati. Walau Tuhan telah mengampunkan segala dosa-dosanya, namun nabiku tidak langsung naik kepala. Dia tetap tekun bercinta dengan Tuhannya. Saban malam dikorbankan tidurnya demi Tuhannya. Pernah ditanya mengapa hal demikian dia lakukan, dan engkau tahu jawabnya? “Tidak bolehlah aku menjadi hamba yang bersyukur?

Baca Selengkapnya