Satu jam, dua puluh sembilan menit, dua puluh lima detik. Selama itu waktu yang aku habiskan untuk menghubungi temanku yang tersisa di mana aku bisa curhat sepuasnya. Thank you Aik.
Dari magrib aku sudah ingin menghubunginya, tetapi ternyata kartu simpatinya sudah habis umur. Memang itu si Aik, tidak pernah pula dia isi pulsa agar si kartu merah dengan seratus juta pelanggan itu memperpanjang sisa umurnya. Sadis! Memang si Aik itu kelewat sadis. Akhirnya diputuskan akan digunakan handphone nyokapnya untuk kutelepon. Tetapi, ternyata eh ternyata bokap dan nyokapnya sedang kedokter.
Baru, pukul 22:49 WIB aku menghubunginya. Di tengah badai kantuk yang melanda kami berdua.
Setelah menye-menye sebentar, meringkuk cengeng yang dibuat-buat, akhirnya si Aik mulai bersuara. Dia membuka mataku tentang hal-hal lain di luar jangkauanku yang memang belum terlalu dewasa dalam menyikapi sesuatu. Memang si Aik sudah kelewat over dosis memakan asam garam kehidupan, makanya badannya itu subur tambun tidak terbantahkan.
