Menertawai Masa Lalu

Beberapa hari ini aku punya hobi yang unik. Melihat komentar orang-orang di blogku dan melihat tulisan apa yang mereka komentari. Kebanyakan pengunjung di blogku berkomentar tentang tulisanku yang lama, yang lebay, dan menyayat hati.

Menertawai Masa Lalu
http://pipin217.wordpress.com/
Entah kenapa aku merasa geli sendiri dengan masa laluku. Merasa geli, ternyata betapa lebay-nya aku ini.

Salah satu contoh kelebayanku ada pada tulisan “Cinta Itu Berat” — bercerita tentang kisah aku yang patah hati, dulu mungkin saat menuliskannya, membacanya, bertutur tentangnya, hal itu bisa jadi sangat menyayat hati, namun sekarang aku merasa itu terlalu lebay.

Aku mungkin memang kurang mampu menulis hal yang sederhana dengan cara yang sederhana. Misal, aku sedang bahagia dan aku tuliskan saja bahwa aku bahagia. Tidak harus dengan cara mendramatisir keadaan, melakukan antraksi tari-tari India, diiringi musik, di bawah lautan hujan. Harusnya aku bisa menjadi lebih sederhana dalam menyajikan sesuatu.

Aku iri dengan orang-orang yang bisa bercerita secara jernih. Mereka yang tidak menambahkan, melebaykan, atau mendramatisir. Mereka bertutur dengan pure, sebenar-benar penuturan.

Baca Selengkapnya

Dakwah Di Mana Saja

Kemarin, ada sebuah peristiwa yang berkesan bagiku. Saat itu aku baru pulang dari Hermes Palace Hotel menuju ke kantor walikota untuk memperpanjang KTP-ku. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Aku terhenti di Simpang Surabaya karena lampu merah, tiba-tiba seorang bapak melirik-lirik ke tanganku. Hingga akhirnya dia mencokehku dan bertanya, “sudah jam berapa?

Aku melihat dia juga menggunakan jam tangan berwarna keemasan, khas jam tangan orang tua, namun akunya bahwa arloji yang dikenakannya telah habis masa, baterainya sudah tidak mampu lagi menghidupkan jarum-jarum jam untuk bergerak.

Saat aku katakan pukul berapa saat itu, kemudian dia lanjut berkata, “sudah mau azan ini.” Saat itu aku cuma mengangguk.

Saya hendak ke mesjid,” lanjutnya.

Baca Selengkapnya

Aku Kesepian

Aku sering merasa kesepian. Selalu. Hidupku cuma terbentuk dari ruang 3×3 meter dengan pendingin ruangan yang sesekali meneteskan air karena bocor. Berkeliling tumpukan kertas yang terserak. Kabel yang semberaut. Air mineral. Dan tisu-tisu bekas yang belum juga masuk ke dalam tong-tong sampah terdekat.

kesepian
http://yekaputra.blogspot.com
Sore kemarin. Di bawah teduh awan yang mendung, dalam langit yang mulai gelap dan menghitam, kepada seorang teman yang telah aku anggap dekat, aku katakan: AKU KESEPIAN. Aku katakan perasaanku tentang hati orang-orang, mereka yang mendekat saat kita menjadi hebat dan tidak ada yang mengunjungi saat kita bukan lagi apa-apa.

Aku melihat manusia dengan sudut pandang yang sinis. Terkadang ironis. Hiperbola. Personifikasi. Oh, sudahlah, ini kita bukan bercerita tentang majas. Aku melihat manusia sebagai sekelompok makhluk yang hidup dari satu kepentingan kepada kepentingan yang lain. Saat dia perlu, dia hadir, saat tidak, maka semuanya serasa sampah.

Tidak semua memang. Sebagian hadir dalam wujud yang tulus, namun kebanyakan memang demikian praktiknya. Sosokmu ada karena kamu itu dianggap penting.

Baca Selengkapnya

Selamat Hari Pahlawan

Kemarin, tepatnya 10 November 2011 diperingati oleh sebagian orang sebagai hari pahlawan. Tetapi, bagiku peringatan hari pahlawan adalah hari ini, bukan kemarin. Hari ini adalah tanggal di mana Ayahku berulang tahun. Dan bagiku, pahlawanku adalah seorang sosok Ayah.

Sosok Ayah adalah istimewa bagiku. Sosok yang dulu selalu menggenggam tanganku saat aku hendak tidur. Sosok yang menggendongku ke tempat tidur saat aku terlelap di lantai. Sosok yang sering membawaku jalan pagi di punggung sepedanya, atau dia yang mengajari aku minum bandrek walau saat masih kecil aku paling tidak suka dengan minuman itu.

Bahkan, saat Ayah telah pensiun, dia tetap tidak berhenti bekerja seperti lelaki lain pada umumnya. Dia tidak leyeh-leyeh menikmati masa pensiunnya, dia tetap bekerja, membangun usaha depot air minum yang menjadi tulang punggung keluarga kami saat ini. Dari bisnis itu, dia menyekolahkan kakakku untuk menjadi dokter spesialis dan seorang kakak lagi agar menamatkan program masternya.

Sosok Ayah bagiku adalah sosok pahlawan sebenarnya. Dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan posisinya, sebagai pahlawan bagi keluarga kami, sebagai pahlawan di hatiku.

Baca Selengkapnya