Dikhianati

Apa yang lebih menyakitkan daripada cintamu ditolak? Jawabannya adalah ketika cintamu dikhianati.

Ben, apa kamu pernah diselingkuhi?” Tanyanya pada suatu sore lewat pesan sms.

Iya, pernah,” jawabku datar.

Sakit banget ya, Ben. Rasanya sakit sekali. Kadang aku ingin maki dia yang mengkhianatiku. Ingin aku cincang-cincang tubuhnya, biar rasa sakit ini hilang. Kalau bisa, dia hidup lagi 1000 kali terus nanti aku cincang juga 1000 kali.” Bergetar suaranya di sela sayup air mata yang tumpah. Pembicaraan kami telah beralih ke telpon.

Saat itu aku diam. Aku tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Lama rasanya waktu putar tentang pengkhianatan, namun aku merasa fragmen itu membeku, menyisakan lukisan tragis yang terus aku benci namun terus terkenang. Rasa sakit yang tidak mampu ditawar. Rasa sakit yang terus jeda, terekam oleh waktu.

Pengkhianatan tidak cuma oleh perselingkuhan yang terang-terangan. Terkadang juga terbit dari perselingkuhan diam-diam. Syahdan, bahwa engkau mungkin tidak selingkuh namun ketika hatimu terpaut kepada seseorang yang lain selain pasanganmu, walau sedetik, engkau menikmati, engkau telah mengkhianati.

Baca Selengkapnya

Tentang Pertemuan

Kita pernah duduk bersama tanpa meja bangku
Dalam percakapan ringan tanpa buku-buku yang kaku
Lambat laun setelah waktu itu, aku tahu kaulah masa depanku

Aku menemukan cahaya dalam matamu
Ia menyelinap kuat bagai api yang terus diramu
Sampai di ujung malam, mimpimu dan mimpiku bertemu

Akulah lelaki yang tersusun dari tulang belulang
Yang satu di antaranya menghilang
Sampai engkau membawanya pulang

Sumber: http://giewahyudi.com/tentang-pertemuan/

Baca Selengkapnya

Barisan Yang Tertipu

Jika mau jujur, aku adalah termasuk mereka golongan barisan yang tertipu. Entah menipu diri sendiri, atau tertipu oleh diri sendiri. Sekejap aku tersadar, namun dalam kejapan yang lain semua kembali terlupa. Karenanya kali ini aku catat, agar aku tidak kembali lupa.

Naas. Manusia sering sekali tertipu oleh napsu-napsu mereka. Oleh diri mereka sendiri.

Dia bertanya, “Apa kamu masih mengaji?

Dia bertanya, “Apa kamu masih ikut haloqah?

Dengan sejujur-jujur bahasa aku menjawab, “Tidak. Bahkan sudah lama aku tidak membuka mushaf suci itu.

Pantas,” jawabannya. Kontan. Spontan.

Baca Selengkapnya