Marhaban ya Ramadhan

Mungkin karena usia. Ramadhan yang dulu aku hadapi dengan perayaan tampak tertatih sekarang berjalan. Entah kemana perasaan gembira yang dulu akan selalu hadir, seperti perasaan seseorang menunggu pernyataan cintanya diterima: detik-detik mendebarkan yang dinantikan. Namun sekarang pupus.

Mungkin ini karena jiwaku yang semakin kosong. Boleh jadi karena semakin bertumpuknya dosa di dalam dada. Tentang kaki yang berselimut lumpur, dan lengan yang berkubang kesalahan. Hati yang lalai dan pikiran yang jauh dari memikirkan Tuhan.

Aku merindukan aku yang dulu. Manusia yang melihat manusia dengan seadanya. Tidak mengutuk mereka yang berdosa lebih dari seharusnya. Memaafkan mereka yang terlupa. Tidak berburuk sangka ketika berderma. Tak membutuhkan manusia membalas kembali seluruh cinta.

(lebih…)

Yang Kalah dan Tersungkur

Berbeda… ini berbeda. Kali ini sungguh berbeda…

Aku seolah menjelma menjadi prajurit kalah perang. Prajurit-prajurit yang tersungkur, setelah lelah kalah melawan nafsu mereka sendiri. Tidak cuma kalah, aku pun menderita, tersiksa, dan tersungkur.

Gontai, lemah… itu aku.

Ramadhan yang dulu pun aku tidak se-tersungkur ini. Bahkan aku masih memiliki sisa-sisa kekuatan walau seminggu kemudian aku seperti tak tersisa pernah menikmati Ramadhan yang begitu syahdu. Episode Ramadhan kali ini begitu kacau, teramat sangat kacau.

Tilawahku hancur-hancuran, tarawehku binasa, infaq dan sadoqah ku minim. Duh gusti, permainan apa lagi ini?

Semoga, aku cepat bangkit.

Futur. Mengapa penyakit itu harus terus mendekam dalam waktu yang lama? Mengapa…

Bergetar Ia dan Segalanya Bergetar

Bergetar hatiku amat hebat, berdebar kencang tak menentu saat pumbuluh menyempit, aliran darah menjadi begitu kencang, mengguncang nadi. Tuhan, mengapa ini kembali terjadi?

Aku jatuh cinta…

Entahlah, aku tidak mengerti apakah ini cinta atau hanya kekaguman biasa. Namun yakinlah wahai seseorang yang sedang kucintai, ku pastikan engkau tidak akan pernah mengetahui betapa aku mencintaimu. Tak akan kembali aku terperosok seperti dulu lagi, menjadi budak nafsuku dengan menggumbar kata-kata cinta. Aku berjanji, itu tidak akan terjadi lagi.

Tahukah kamu seseorang yang sedang kucintai? Terkadang air mataku menetes, berharap sangat Tuhan mencabut rasa yang mulai mengakar dihatiku ini karena ku mengerti; Sungguh tak pantas diriku bersanding dengan dirimu. Sungguh tak pantas sebelum aku juga memiliki keimanan setangguhmu.

Lelaki mana di dunia ini yang tak ingin mempersunting seorang bidadari? Lelaki mana? Katakan padaku.

(lebih…)

Laut Biruku

Sabtu, 30 Agustus 2008. Aku sms Kausar, teman haloqahku. “Sar, hari ini ada acara ke mana? Jalan-jalan yok sebelum puasa.”

“Kalau hari ini Kausar ga bisa Ben, mungkin besok jam-jam 11.00 baru bisa soalnya jam 8-10 ada acara di mesjid.”

Awalnya aku pun kecewa, tapi tadi pagi sekitar jam 8.30 Kausar telepon. “Ben, nanti jam 9.30 kita ke laut yaa.. Baiquni tunggu aja kabar dari Kausar, biar Kausar hubungi kawan-kawan yang lain.”

Sekitar jam 10.54 Kausar sms lagi memberikan kepastian, “Ben, Kausar tunggu di Sabang Travel di depan mesjid Lingke.”

Langsung aku telepon Kausar, “Sar, siapa aja yang pergi?”

“Kausar, Andri, Baldi, ama Beni. Faisal ga bisa, udah pulang kampoeng trus Iqbal ga diangkat Kausar telepon.”

Siap mandi, aku langsung berangkat ke Sabang Travel. Tidak ingin kejadian minggu sebelumnya terulang, aku membawa perlengkapan perang yang lebih lengkap; baju ganti, celana kain ganti, sarung, sempak, kaos dalam, handuk, dan tidak lupa plastik untuk membungkus baju basah nanti.

(lebih…)

Jauh di Lubuk Hatiku

Kau Masih Kekasihku

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku

tak bisa ku tahan laju alir
untuk semua kenangan yang berlalu
hembuskan sepi
merobek hati

meski raga ini tak lagi milikmu
namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup
entah sampai kapan
ku tahankan rasa cinta ini

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku

dan ku berharap semua ini
bukan kekeliruan seperti yang kukira
seumur hidupku
akan menjadi doa untukmu

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku

andai saja waktu bisa terulang kembali
akan kuserahkan hidupku di sisimu
namun ku tahu itu takkan mungkin terjadi
rasa ini menyiksaku
sungguh sungguh menyiksaku

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku