Seribu Tahun Penantian

Terowongan Terpanjang
Sumber: kidnesia
Seribu tahun. Akhirnya aku menemukanmu.

Dulu sekali. Dulu yang jika diulang terasa begitu singkat. Apa engkau ingat? Ketika saat tangan kita terlepas, padahal jurang itu begitu dalam dan curam. Aku melepaskan genggamanku terhadapmu. Menolak engkau ikut terseret ke dalam pusaran mautku. Ketika bias tetes air matamu malah menyentuh pipiku. Dan dari kabur matamu yang berair, samar, engkau melihat senyumanku. Ingatkah?

Dalam senyum terakhirku. Berdetik sebelum bumi meremukkan seluruh tulang dan sendiku. Teriakku untuk menemukanmu. Di dalam perjalanan hidupku yang tak akan berhenti. Tak ada usai. Aku menolak seluruh nirwana. Menolak menyelesaikan segalanya, demi engkau yang ingin aku temukan kembali.

Perjalanan kadang memang tidak sesuai bayangan. Apa yang telah aku impikan, berbeda jauh dengan apa yang bumi takdirkan. Beratus kelahiran, aku gagal menemukanmu. Kecuali sekarang.

Engkau. Sedetik pun, tak ingin aku melepaskanmu!

Baca Selengkapnya

Memelihara Luka

Harusnya aku menangis. Paling tidak ikut bersedih dan saling berbagi air mata. Tetapi nyatanya aku malah tertawa.

Memelihara Luka
sumber: ikoelike.blogspot.com
Ini bukan ceritaku yang aku tertawakan, namun tentang seorang perempuan yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Antara kasihan dengan penderitaannya atau malah tertawa karena kebodohannya. Ironi memang, karena sesungguhnya kebodohan adalah sesuatu yang sewajarnya ditangisi, namun jika tetap dipelihara, lebih baik kita ikut tertawa saja.

Aku tidak tahu berapa tahun dia masih menyimpan cinta. Tentang laki-laki yang masih diingatnya padahal dia sudah berkali berganti lelaki dan sang pria pun terhitung sudah 5 (lima) kali berganti wanita. Dan entah mengapa, aku menganggap perempuan yang aku anggap adikku itu sebangsa tolol. Sang lelaki beralasan tidak akan berpacaran 2 (dua) kali dengan wanita yang sama. Nah! Di sini aku melihat ketololannya. Jelas, itu sebangsa alasan yang diucapkan para pria yang sibuk mencari wanita, pria yang sudah puas cukup sekali dan ingin mencoba yang lainnya. Sebangsa, lelaki yang adikku cintai itu adalah seorang playboy. Itulah duga dan anggapanku sekarang.

Baca Selengkapnya

Bilanya Rindu Maka Tahanlah

Bilanya rindu, maka tahanlah
Belum digenapkan hari
Takdir kita belum lagi sampai

Engkau, aku pun sama
Merindu durjana
Memberontak batin ingin jumpa
Bersitatap dengan si putih di kepala
Bersama menentukan hari-hari bahagia

Bilanya rindu, maka tahanlah
Tak perlu gusar menghitung hari
Jangan tanya ucap kapan datang
Bila waktu telah sampai
Nanti, pasti tiada akan menghalangi

Hari belum lagi genap seribu
Janji belum lagi waktu untuk tunai
Maka bersabarlah
Semoga Tuhan lapangkan jalan kita

Mari kita bungkam
Diamkan segala peri-peri ini

Apa kau sama?
Bila rindunya, gelisah menjadi tanda
Makan melamun
Setiap sudut ada kau wajah
Setiap zikir ada kau nama

Bilanya rindu, maka tahanlah
Menunggu terbit waktu pagi
Takdir tunai ditepati
Maka olehmu, sekarang diam
Jangan sepatah kata terucap
Cinta, bukan untuk dibincangkan

Baca Selengkapnya

Negeri Untuk Cinta

Jika bumi telah digusur
kita bagaimana?
akankah kita saling membangun jemari
dari tiap kulit membangun sayap
ke surga kita akan terbang

Jikalah warna langit pudar
kita bagaimana?
menjadi buta, atau
kita akan membangun warna langit kita sendiri
biarkan Tuhan menyertai
dari tiap warna yang saling menyatu
ada cinta di sana

Kita bagaimana?
untuk negeri yang akan kita sebut cinta
apakah sudi kira juga ditanam benci
agar semua tahu: cinta butuh benci untuk dikenali
atau mungkin suatu yang lain, selain cinta

Bila bumi tandus seluas pandangan
saat aries memerah dari besi yang terkotori
kita bagaimana?
apakah hidup di atasnya, atau
membuat dunia kita sendiri
segalanya yang kita sebut: cinta

Bolehkah aku abai?
untuk semua definisi dan teori
untuk semua apa yang orang atau bangsa manusia kata
kita punya teori sendiri
kita memiliki definisi sendiri
tentang tanah yang akan kita bangun kelak
negeri untuk cinta

Cinta Tanpa Rupa

Nama-nama hadir, karena manusia terus meminta. Manusia tidak mampu mencintai tanpa wujud, mereka telah hidup dalam berbagai rupa, mencintai dengan banyak rupa. Manusia butuh wujud, mereka butuh nama. Manusia bingung dengan sesuatu yang abstrak, mereka tidak akan pernah khatam tentang cinta. Nama datang karena manusia meminta untuk dia yang tidak terjelaskan.

Nama-nama, dari langit sana, didatangkan dengan beragam. Dia yang tanpa wujud telah menghadirkan 99 nama. Satu nama tunggal untuk bisa manusia ucap dalam setiap doa mereka.

Dia mencintai manusia. Dia paham betul, manusia akan kebingungan dengan cinta tanpa rupa. Dia telah awal mengerti, manusia butuh nama dalam cinta.

Tidakkah engkau diperlihatkan, betapa banyak nama-nama hadir di dalam hati manusia untuk menjadi simbol untuk satu jiwa. Nama yang kadang terus hadir dan terukir, sebagian menjadi abadi, dan sebagian yang lain hanya menjadi sampah hati. Semua terwakili oleh nama, dan dalam wujud rupa.

Aku ingin mencintai, tanpa nama, tanpa rupa.

Baca Selengkapnya