HUT Aceh Blogger

1 November 2010. Tidak sangka ternyata sudah 3 tahun Aceh Blogger hidup. Sudah banyak yang kami lalui bersama Aceh Blogger. Mulai dari pelatihan kecil-kecilan yang disponsori oleh Telkom Speedy, sampai bergerak ke jalan membantu pengungsi Rohingya.

Teringat, dulu ada salah seorang peserta Aceh Blogger yang bahkan berniat ingin membuat petisi agar pengungsi Rohingya diberikan suaka, dan bahkan sempat menjelek-jelekkan salah satu partai karena cuma memperhatikan Islam dan Palestina. Heran juga, mengapa cuma partai tersebut yang disebut-sebut ya?

Ketika bergerak ke jalan meminta sumbangan dari rakyat Aceh, aku dipaksa menjadi korlab untuk gerak di jalan, sedangkan yang menyalurkan bantuan tetap koordinator Aceh Blogger.

Kemudian ketika pemberitaan tentang Prita meluas. Aceh Blogger juga ikut serta menggalang koin keadilan. Kali itu, kami tidak turun ke jalan, melainkan meletakkan kantung-kantung ke beberapa kedai kopi yang mampu dijangkau.

Belum lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan di daerah. Mensosialisasikan blogger ke seluruh rakyat Aceh, mencoba mengubah tradisi lisan rakyat menjadi tradisi menulis.

Baca Selengkapnya

Episode Berenang Menyedihkan

Apa kamu tahu kalau aku ini tidak bisa berenang?

Aku ingin cerita pengalamanku hari ini belajar berenang. Sesuai janji bang Jalok a.k.a aneaneh minggu yang lalu, dia akan mengajari aku berenang. Awalnya aku ditawarkan ke tempat minggu lalu di Ujong Pucok, namun aku menolak karena di sana tidak bisa berenang. Jadi, akhirnya kami pun bersepakat ke Bayeun, di daerah Leupung sana.

Perjalanan ke Bayeun relatif mudah karena jalanan sudah diaspal semua, hanya ketika masuk ke dalam sedikit agak becek. Tidak seperti di Ujong Pucok yang sepi, di Bayeun sangat ramai. Muda-mudi terlihat di sana, dan di tempat itu juga sudah banyak yang berdagang penganan kecil.

Ketika sampai di sana, waktu telah Ashar. Jadi kami putuskan sebelum berenang untuk shalat dahulu. Karena sangat susah menemukan mushala di sana, maka aku, bang Umam memutuskan shalat langsung di mana kami bisa menggelar sajadah. Bang Jalok sendiri shalat di sebuah mushala kecil berukuran 1×2 m yang terbuat dari kayu.

Sesudah shalat, kami balik ke atas untuk mencari tempat taruh tas. Ternyata ketika kami membeli gorengan, Ibu tempat kami membeli menawarkan kedainya sebagai tempat penitipan tas. Awalnya aku sedikit sangsi dan ragu hendak menitipkan tas, karena di dalam tas itu aku letakkan BlackBerry-ku. Tetapi aku mencoba berbaik sangka saja.

Setelah menitipkan tas dan mengganti baju, kami pun terjun ke pemandian air.

Baca Selengkapnya

A-B-C-D

Kemarin, sekitar jam 13.00 WIB, Ibnu temanku telepon. Dia mengajakku untuk menghadiri seminar proposal Pak Bos. Cerita punya cerita, ternyata ada pemaksaan di balik semua itu. Tersangkanya adalah Nuril Annissa yang memaksa Ibnu untuk mengunjungi seminar proposal Pak Bos karena dia sendiri tidak bisa.

Ibnu yang tidak punya teman akhirnya memaksa saya juga ikut serta. Awalnya ketika ditelepon saya sudah menyanggupinya, namun saat-saat 15 sebelum pukul 14.00 WIB tiba, saya mencoba membatalkannya.

“Alasannya apa Baygune?” tanya Ibnu.

“Malas banget Nu, harus pakai kemeja, pakai sepatu. Lagian kami sedang malas bawa motor,” jawabku.

Ternyata alasanku yang tidak syar’i itu (menggunakan istillah akh Roby) tidak dapat diterima oleh Ibnu. Dan karena tidak enak hati, aku pun terpaksa ikut.

Baca Selengkapnya