Tertawalah. Bahkan hingga air matamu berderai karenanya.
Dalam sejuta kegundahan, kadang tertawa adalah jalan keluar untuk menentramkan segalanya. Tertawa itu seperti psikotropika bagi mereka yang dilema, bagi mereka yang memangkul beban. Maka tak heran, penuh rumah sakit jiwa dengan orang yang tertawa. Mereka cuma mengikuti apa yang alam telah mengaturnya, jika saraf-sarafmu telah terlepas, maka biarkanlah tawa itu bebas.
Namun, sebagian penuh dengan rasa histeris dan kemenjeritan. Tragis.
Tak ada yang baik dengan segala keterlaluan. Termasuk tertawa. Bahkan tawa pun jika terlalu berlebihan akan merusak jiwa. Hatimu akan keras karenanya, dan wibawamu akan jatuh olehnya. Tertawalah sekedar, seperti seorang nabi tertawa. Tertawa yang memiliki tempat. Tertawa seadanya.
