Jangan Kasar

Sebenarnya, aku paling tidak suka dengan orang yang kasar dan ketus. Sangat tidak suka.

Bagiku, menolak suatu keburukan dengan cara yang kasar. Tolaklah dengan lemah-lembut, karenanya karakter seperti Aa Gym sangat aku sukai daripada karakter-karakter seperti Amrozi.

Pergerakan Islam pun jangan melulu dilihat sebagai sebuah perang. Sebelum perang, Rasul mendidik kaum muslimin dengan sopan satun, kesabaran, karenanya Islam mudah diterima oleh berbagai pihak. Islam disambut karena ketidak kasarannya tersebut. Bahkan saat bangsa lain masih di bawah bangsa lain, mereka menyambut Islam dengan tangan terbuka, karena mereka tahu bahwa Islam akan membebaskan kita dari segala keburukan. Sekarang?

Mengapa orang sekarang begitu membenci Islam? Islam phobia muncul di mana-mana. Apa yang salah?

Di satu sisi, memang ada beberapa mereka yang ditakdirkan hatinya begitu keras ketika mendapatkan hidayah Islam, namun di sisi lain, mungkin saja cara kita telah ada yang salah dalam menyampaikan makna Islam.

Ingat tidak ketika sebuah ayat berkata: Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat. Namun kebajikan itu adalah: BERIMAN KEPADA ALLAH, MALAIKAT, KITAB, MEMBERI SEDEKAH DENGAN BARANG YANG BERGUNA, dll…

Tepat sekali. Sebelum memberikan suatu kebaikan kepada orang, yang utama yang harus diingat adalah beriman kepada Allah, saya tekankan di sini karena ada beberapa orang yang mulai mengembangkan wacana bahwa TIDAK BERTUHAN PUN TIDAK APA-APA ASAL TETAP MEMBERIKAN KONTRIBUSI KEBAIKAN. Atau beberapa figur selalu membela hak-hak kemanusian, namun atheis.

Kembali ke topik pembahasan. Saya sangat tidak suka dengan orang yang kasar dan ketus. Jika orang tersebut adalah orang yang saya cintai, dan terus berulang seperti itu, yakinlah, saya akan meninggalkannya.

Saya tidak menyukai orang-orang yang kasar seperti Allah juga tidak menyukai mereka.

  • beniiii…. pernyataan : TIDAK BERTUHAN PUN TIDAK APA-APA ASAL TETAP MEMBERIKAN KONTRIBUSI KEBAIKAN mengingatkanku pada status yang pernah kupasang di fb.. aku copas statusnya:
    Apa yang lebih besar dari iman? Apa yang lebih penting dan lebih utama dari iman? Jawabnya: Kebaikan

    Mengapa kebaikan lebih utama dari iman?
    Sebab iman hanya berdampak pada dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta

    edun, status ini mengundang banyak komentar… dan sebagian justru kritik… hahahhaa

    berkaitan dengan pernyataanmu tadi, sepakat yang pertama adalah iman… soalnya aku jadi inget, walaupn banyak berbuat kebaikan tapi belum beriman, itu ibaratnya fatamorgana aja (kata seorang teman *tidak mau bertanggung jawab mode on :D).. seolah-olah banyak amal yang dilakukan, tapi tidak ada landasan yang benar.. hehehe

    ga tau juga seh 😀

  • aku cuma merasa, kebaikan tanpa keimanan seperti kayu yang menjadi abu, habis terbakar api.