Hanya Ada: NERAKA SEPI

Pernahkah kamu merasa sepi yang amat sangat, sepi yang begitu mencengkeram, sepi yang begitu hebatnya hingga lutut tertaut, betis saling menyilang, dan tangan mendekap punggung. Kamu menunduk, mematut wajahmu dalam lipatan lututmu mencoba menggali dirimu sendiri, ternyata semua hanya ada sepi, sepi, sepi sendiri, sepi yang terkeruk menghitam dalam jiwa, sepi yang entah bagaimana terceritakan.

Aku menamakannya NERAKA SEPI. Sepi yang begitu hebat yang ada dalam jiwaku, sepi yang bukan kosong, namun terisi oleh sejuta kelam. Sepi yang begitu terasa.

Aku memang tertawa, aku memang menertawakan, aku tersenyum. Namun adakah yang tahu apa isi dibalik wajah yang selalu tersenyum ?! Adakah yang tahu betapa besar rasa sepi yang hinggap dalam hati, dalam jiwa ini ?!

Aku semakin menjadi mereka yang tidak pernah mau peduli. Apakah mereka mau peduli padaku ?!

Apa mereka tahu dalam tiap malamku aku menekuk lutut meratap betapa sepinya hati. Betapa rasa itu membuatku bingung.

Aku memang pendosa… pendosa…. dan Tuhan menghukumku dengan neraka sepi.

Hanya Ada: NERAKA SEPI

Yang Terlahir Diam dan Mendengarkan

Adakah kita yang terlahir ke dunia untuk diam ?
Adakah kita yang terlahir ke dunia untuk mendengarkan ?

Kebanyakan kita terlahir untuk terus berbicara, terlahir untuk terus mengoceh, terlahir untuk terus cerewet dengan keseharian kita. Tidakkah kita sedikit terlahir untuk diam? Tidakkah kita sedikit terlahir untuk mendengarkan?

Aku, kamu, dan juga mereka kebanyakan terlahir untuk terus berkata-kata.
Aku, kamu, dan juga mereka kebanyakan terlahir untuk terus tuli.

Kebanyakan manusia selalu ingin berbicara tanpa mau mendengar. Kebanyakan kita terus merepet, terus mengoceh tanpa mau diam dan tanpa mau sedikit pun mendengarkan. Kita terus mengeluh, mengeluh, dan terus mengeluh.

Wahai manusia lancang, diam lah.
Wahai manusia lancang, dengarkan lah.

Sedikit dari kita yang terlahir untuk diam, dan sedikit juga dari kita yang terlahir untuk mendengarkan. Tanyakan pada diri anda.

Aku juga sama, aku terlahir untuk terus mengoceh. Aku juga terlahir untuk tidak mau mendengarkan. Andai peraturan itu tidak ada, andai sanksi tidak berlaku, mungkin sudah jauh hari aku berontak kepada dunia. Mungkin sudah jauh hari aku mengepakan tangan untuk terbang. Namun hidup memilihku untuk tidak memiliki sayap, hidup memilihku untuk tidak berlidah, dan dia memilihku untuk diam dengan mulutku.

Aku juga sama, aku terlahir untuk tuli tidak mendengarkan. Aku juga terlahir untuk hanya mendengar apa yang mulutku ucapkan, sekalipun sampah yang terutarakan. Aku bukan mereka yang mendengarkan. Apa peduliku dengan mulut semua orang, karena kuping ini, karena telinga ini milikku. Aku bebas memilih apa yang ingin ku dengarkan dan apa yang tidak. Karena aku EGOIS.

Sekalipun penduduk dari tujuh langit, penduduk dari tujuh bumi berbicara, apa peduliku untuk mendengarkan? Karena aku tercipta pada masa dimana tuli menjadi kiblat dan cacian menjadi firman.

Ini lho aku, manusia yang sok kafir. Ini lho aku, manusia yang sok bejat. Karena aku terlalu naif untuk dikatakan muna, aku terlalu naif untuk dikatakan alim. Memang sepertinya aku manusia yang terkeji di dunia.

Heran, berpendidikan tapi rela melepaskan rasa malu. Begitu terkuak, muka yang tidak seberapa harus tertutup rapat. Heran…

Itulah akibat tidak mendengarkan, itulah akibat jika terlalu selalu berkoar-koar tanpa memilah mana sampah dan mana daur ulang.

Ada lho seorang manusia petantang-petenteng berjalan di bumi Tuhan ( di bumi mana kamu berpijak jika bukan bumi Tuhan? ). Sok arogan gitu, sok hebat. Ngaku kaya, ngaku banyak duit tapi kasi duit ke orang miskin aja harus ngitung. Ngaku berkuasa, tapi ketemu atasan aja harus jilat-jilat macam anjing. Ngaku bersih namun tiap detik makannya kotoran lebih babi dari babi itu sendiri. Ngaku berharta namun masih harus korupsi.

Buat apa mobil banyak di rumah kalo dari hasil ngibul, mending jadi maling ayam ajaa. Elo bisa enak hidup di dunia tapi gw jamin hidup loe kaga bakal tenang. Gw jamin !!!

Ada lho manusia yang ngomong hidup ini harus dinikmati. Tiap malam kerjanya nge-drug, tiap malam tubuhnya direlain demi sesuap heroin (macam nasi aja). Mikir mah bisa hidup 1000 tahun lagi, eh nyatanya belom lewat 20 taon udah koit. Hebat… hebat

Manusia itu emang ga perlu diam. Manusia itu emang ga perlu mendengarkan.

Mo dengar pake apa wong telinga udah penuh sumbat dengan taek. Mo diam gimana wong mulut dah disumpal dengan kotoran-kotoran sehingga kalo ngomong yang keluar bukan suara, tapi sampah.

Jangan sok alim lah loe di jaman edan, soalnya berat hukuman buat orang alim di zaman ini. Kalo mau alim di zaman ini, entar loe dapat balasan surga di akhirat nanti (itu kalo loe ga atheis lho). Mendingan loe hura-hura aja dech, karena hidup ini singkat banget. Mendingan loe ngedrug ajah, mendingan kita kafir sekaligus biar di akhirat nanti masuk neraka, khan mending kita bisa ketemu sama koruptor-koruptor di sana. Kita bisa ketemu sama orang-orang hebat di negeri ini yang berjasa telah menghabiskan duit rakyat, soalnya kan negeri ini negeri kaya jadi yang masalah bukannya cari duit, tapi gimana cara bisa ngehamburin duit. Buktinya pergi dinas ke luar negeri bawa anak cucu, bahkan kalo bisa ampe bini muda juga di bawa. Keren banget dech…

Aneh… aneh, bener-bener riskan dech.

Ah… zaman kok edan yaa. Mau kemana kaki dilangkahkan ?

Ah…

Yang Terlahir Diam dan Mendengarkan.

Kebencian

Kebencian-kebencian itu menggeletikku, merengek-rengek seperti anak kecil meminta untuk dilepaskan. Sebahagian telah kulepaskan, namun terlampau besar untuk semua diutarakan.

Amarah-amarah yang terus dipendam menjadi sampah hati. Mereka yang tidak bersalah menjadi korban, dan yang kecil pun berkobar membara menjadi hutan api.

Ahh…

Mengapa sebagai makhluk aku harus terlalu memperhitungkan? Mengapa harus mengeja bahwa tiap kebaikan harus selalu dibalas dengan kebaikan?! Terima saja tiap neraka dan berikan sejuta surga kepada mereka.

Hati yang berfluktasi tak stabil mungkin menjadi kunci. Aku benar-benar labil. Hati yang menjadi begitu pencemburu, hati yang sangat halus untuk terluka. Dan kata-kata menjadi peluru.

Disaat demikian, tak ada keraguan untuk melepaskan pertemanan, karena aku tidak membutuhkan teman. AKU TIDAK BUTUH TEMAN !!!

Zionis

Andai aku memiliki sedikit saja kekuatan, tentu mereka telah kumusnahkan.
Andai aku memiliki sepenuh amarah, tentu mereka telah kubinasakan.
Andai aku memiliki kekuasaan, tentu mereka telah kukepung dari kiri-kanan atas dan bawah.
Andai….

Mengapa tidak ada persatuan ? MENGAPA TIDAK ADA PERSATUAN ?!!!

Mengapa negara yang begitu kecil mampu menghalau negara yang besar ?! Mengapa negeri yang begitu lemah mampu membalik seluruh umat ?!

Aku ingin kekuatan Tuhan, aku ingin kekuatan. Kekuatan kasih yang mampu membalikkan hati. Aku ingin mereka semua beriman, namun Engkau tidak menginginkannya.

Tunggulah masa dimana semua akan dibangkitkan, dan dimana mulut-mulut terkunci dan tangan-tangan dibekukan. Hanya hati yang berbicara dengan Tuhannya.

Tunggulah !!!

Terkutuk

Sepenuh hati aku mencintaimu, namun apa balasanmu ?

Sepenuh hati aku menunggumu, namun kemana langkahmu berpacu ?

Aku ini sebenarnya apa bagimu ?

Hanya sampah kotor yang tidak berarti ?!

Aku ini apa ?!

Sepenuh hati… sepenuh hati… namun teganya kau melukai.

Terkutuk kamu yang menyakiti. Terkutuk kamu yang menyakiti. Terkutuk kamu yang menyakiti.

Aku….. mengutukmu !!!