Lautku

Sabtu, 23 Agustus 2008

Entah kenapa aku sedang pengen gabung dengan anak-anak chatting ke pantai. Mungkin karena hari terakhir mau bulan Ramadhan ya? Akhirnya aku putuskan untuk ikut mereka ke pantai besok, Minggu 24 Agustus 2008 ke pantai. Setiap orang dikutip biaya Rp 15.000,-

Biasanya, aku paling jarang gabung dengan anak-anak chatting. Aku lebih suka bermain di balik layar, tertawa, cekikikan, tanpa ada yang tahu siapa sebenarnya aku.

Baca Selengkapnya

Sempurna

Ini lagu kenang-kenanganku, pernah kunyanyikan untuk seseorang. Hingga saat ini masih terus akan kukenang…

Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan slalu memujamu

Disetiap langkahku
Kukan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darah ku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu….
Sempurna…. sempurna….

Kau genggam tanganku….
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus smua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darah ku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu….
Sempurna…. sempurna….

Alhamdulillah

“Ben, si Datul dah pacaran ya sama Yuna?” Tiba-tiba aja kak Dar ngomong gitu.

“Hah, kak Dar kenal sama Yuna?” Tanyaku.

“Ya lah, dia kan abang letting kak Dar. Kami panggil dia papa.” Jawab kak Dar. “Dia serius sama datul, mo nikah.”

“Dia orangnya gmn? Baik?” Tanyaku

“Iya.” Jawab kak Dar.

“Apa dia suka mainin cewek?” Lanjutku.

“Enggak.” Jawab Kak Dar.

Baca Selengkapnya

Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda

Datul…

Aku pernah menulis dia dalam beberapa episode kehidupanku. Menuliskan betapa aku mencintainya hingga detik ini. Terkadang aku mengerti, terlalu memperhatikan dan terlalu mengacuhkan bisa menjadi petaka dan prahara. Aku salah.

Terkadang aku berpikir, apakah ada pria lain yang mampu sepertiku? Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatapnya kapan dia sakit dan kapan dia bahagia. Memandangnya tanpa jemu tanpa jeda. Memberikan perlindungan. Lagi-lagi aku salah.

Dulu aku pernah bertanya, “Aku tidak dewasa, bagaimana?”

“Cukuplah kamu, aku tidak membutuhkan yang dewasa.”

“Apa yang kau inginkan?” Tanyaku.

“Sebuah cinta yang tulus.” Katanya sembari tertawa kecil.
Baca Selengkapnya

Pengkhayal

“Sumpah, baru kali ini aku menemukan cowo seperti loe Ben.” Sahabatku tiba-tiba berkata demikian saat kami sama-sama sedang menikmati sensasi ketinggian dari puncak gunung, saat kami sama-sama sedang duduk-duduk di tepi jurang.

”Emang kenapa dengan gw sahabat?” Tanyaku tak mengerti.

”Loe tuh tukang khayal! Dan khayalan loe tuh terlalu jauh. Jauh banget!” Lanjutnya.

”Aku?” Tanyaku menegaskan. ”Aku pengkhayal?”

”Yoha… dan khayalan loe tuh kejauhan. Khayalan tingkat tinggi.” Katanya lagi.

”Apa ada yang salah dengan khayalan? Loe tau kan pesawat terbang itu juga awalnya muncul dari khayalan manusia yang ingin terbang. Loe ga lihat sahabat, bagaimana mobil, listrik, lampu, telepon, handphone tercipta? Semuanya berawal dari khayalan. Dari mimpi. Dan apa salah jika aku bermimpi?” Kataku membela diri.
Baca Selengkapnya