Pojok Kematian

Apa mereka tahu? Jalan kematian sungguh amat sulit. Terlebih jika engkau mengetahui, setelah kematian sebuah perjalanan belumlah usai.

Ya Rabb, tolong jangan cabut hidayah yang telah Engkau berikan sore tadi. Ketika aku melihat banyak kesakitan dan kematian di sekujur tubuh manusia. Ketika mereka lempang, dadaku teramat sesak. Betapa banyak Engkau memberi bukti: KEMATIAN DEKAT ADANYA

Tadi sore, aku dan kawan-kawan FLP menjenguk Khalis, Kadiv Humas FLP Aceh yang menjadi salah satu korban kecelakaan di Indrapuri. Kami sepakat akan berkumpul di Rumah Sakit Zainal Abidin pukul 15.30 WIB, setelah itu shalat Ashar bersama baru kemudian menjenguknya. Walau direncanakan pukul segitu, baru sekitar pukul 17.00 WIB kami beranjak ke lantai dua rumah sakit.

Baca Selengkapnya

Jalan Tuhan Cuma Satu

Engkau gugur
hancur menjadi cabang
dari awal kokoh
menjadi seperti kapur
rapuh, hilang memutih ditelan air
waktu mengkeruhmu

Masih ingat awangku tentangmu
saat sayapmu masih dua
ketika kau mampu terbang ke nirwana
tidak tinggal setengah begini
jatuh menggelepar, lumpuh, kakimu piyu
napasmu cuma tinggal satu

Apa kakimu sekarang terpaku
namun mereka tidak menyayat lidahmu
dan tidak merantai tanganmu
maka bicaralah lalu tulislah
semua bahasa, kata, aksara
agar mereka tahu apa yang engkau tahu

Benar itu mutlak
jika Tuhan kata dia satu maka satulah
tak ada anak atau diperanak
maka tulislah
katakan kepada seluruh bangsa
bahwa Tuhan itu Esa

Mengapa takut
apa kata manusia itu buatmu kalut
lantas kau ikut mereka
dustakan Tuhanmu lantas menari bersama
kau juga ikut-ikut kata bahwa tentang Tuhan adalah dusta

Jangan jadi pengecut
jangan takut perutmu susut
jangan dusta
jangan dusta
jangan dusta
tetaplah dalam satu kata: Tuhan itu Esa

Hati-hati dengan ra’yu
kau bermain-main api di atas wahyu
jangan sekali-kali jangan
utamakan wahyu baru kemudian pikirmu
jangan kau pelintir wahyu cuma karena napsumu

Aku beri sayap agar engkau terbang
di atas kepala orang-orang
bilang kepada mereka
jalan Tuhan cuma satu

Baca Selengkapnya

Mengapa Lelaki Jatuh Cinta

Entah mengapa, tiba-tiba saja sebuah kenangan mengalir diantara hidup seorang lelaki. Aku, lelaki, hidup dengan dunia penuh kenangan.

Barusan, tiba-tiba sebuah alunan dari lagu “Sempurna” oleh Andra and The Back Bone hadir. Sebuah lagu yang mengingatkanku tentang hari jauh lampau, suatu ketika dimana hidupku penuh dengan kenangan cinta.

Masih jelas ingatku ketika aku pertama bertemu dengannya di pustaka, dia memberiku keripik ungu. Aku mengambilnya dengan tangan kiri karena cacatnya tangan kananku. Lantas begitu aku pulang, dia bertanya, “mengapa engkau mengambil dengan tangan kiri?” Aku ingat, hari itu adalah Jumat. Sama seperti hari ini.

Aku pun ingat, ketika sekotak tupperware terisi dengan misoa yang dibuatnya saat dia ingat bahwa dari dulu aku ingin sekali misoa, karena semenjak Ramadhan aku tidak memakan kue misoa. Buatannya enak, sangat enak dan aku memakannya dengan lahap. Aku tahu, dia membuatnya dengan cinta.

Baca Selengkapnya

Diantara Kepungan Debu

Bagaimana peluh?
pernah dia bercerita kepadamu
saat air garam melewati pori
dan napas tersengal
ketika urat-uratmu kelelahan

Sudahkah engkau bercerita
kepada tujuh keturunanmu
dari temurun
ketika ragamu usang
dan pundakmu peot
kau masih tersenyum

Dan pernahkah engkau mengeja
bagaimana terik mengupas ari
saat pigmenmu bergumul
dan hitam mentato epidermismu
kau masih tegar
di situ juga ada senyum

Diantara kepungan debu
demi anakmu
demi cucu yang belum terlahir
kau membangun rumah-rumah batu
dengan tiang pancang menusuk bumi
kau beri mereka hidup
demi manusia hingga akhir waktu

Dan teriakan-teriakan muncul
sesekali uratmu menegang
matamu rabun dan mereka membuta
tersenyummu tak tersampaikan
ceritamu dianggap usang
hingga akhir waktu kau masih tersenyum
diantara kepungan debu

Baca Selengkapnya

Laskar Patah Hati

Lama aku tak menulis cerita cinta. Kadang, menurut pendapat beberapa orang yang membaca blog ini, jika aku telah menulis cerita cinta, entah itu kesedihan atau apalah, mereka merasa terhanyut dan seperti merasakan apa yang aku rasakan.

Kalau kulihat, tulisanku jarang melakukan ekspolarasi bahasa dan bahkan terlalu verbal. Aku mendikte perasaanku kepada para pembaca, memaksa mereka merasakan apa yang kurasakan dan tidak membuat mereka hanyut dalam lambaian kata-kata. Tapi entahlah, toh yang mampu menilai secara universal adalah pembaca.

Laskar patah hati.

Percaya atau tidak, banyak di dunia ini lelaki yang menjadi prajurit kalah perang. Mereka adalah lelaki-lelaki yang tertusuk hatinya lantas patah. Asa mereka menggelepar. Hati mereka hancur berkeping. Lutut mereka bergetar. Mata menangis. Mereka patah hati.

Aku pernah menjadi bagian dari mereka dan bahkan hampir selalu. Untuk urusan cinta, aku memang selalu kalah, sampai saat ini. Kalau ibarat, aku ini seperti keledai dengan kelamin jantan. Sosok yang selalu jatuh pada lubang yang sama. Lubang itu bernama cinta.

Baca Selengkapnya