Kangen Bang Pmen

Aku udah hampir sebulan lebih ga ketemu dengan Bang Pmen. Biasanya kami bertemu di Yahoo! Messenger.

Bang Pmen adalah temanku yang bekerja di Afrika Selatan. Darinya aku belajar banyak hal, yah ga banyak-banyak juga seh cuma aku sering curhat aja ke dia. Kadang dia suka nyebutin aku: “beben kacrut

Aku lupa kapan awal berkenalan dengan dia, namun ujungnya kami akrab. Dia salah satu coder untuk website list backdooring #kartubeben dulu di http://nkakashi.6te.net.

Baca Selengkapnya

Sebatas Kemampuanku

Kawan, lama aku tak bercerita di blog ini. Lebih senang aku menulis status-status palsu di dinding facebookku. Sesuatu yang kureka-reka saja tanpa ada maksud, biarlah orang lain yang menilai. Aku sungguh tak peduli, karena itu bukan aku sebenar-benar aku.

Lama kita tak bercerita. Baiklah, duduklah sejenak. Bacalah pelan-pelan bait-bait kata yang akan kuceritakan berikut ini. Jangan beranjak dahulu, tangguhkanlah jejak langkahmu sejenak. Mari membaca, cerita-cerita yang mungkin engkau anggap tidak penting, namun bagiku begitu berharga.

Engkau tahu kawan, kadang aku merasa Tuhan beberapa minggu terakhir ini memberiku cukup banyak waktu. Dia melepaskanku dari segala rutinitas. Tak dibuatnya pikiranku terombang-ambing dengan perasaan hati, tak dibuatnya aku sibuk dengan urusan ini-itu. Semuanya berjalan dengan demikian santai, dan aku menjadi terlalu santai. Mungkin Tuhan ingin ucap, “kerjakanlah tugas pokokmu.” Mungkin demikian Dia ingin kata.

Namun sejuta waktu tidak akan cukup. Ada satu kekurangan dalam diriku yang sangat fatal: KEMAMPUAN BERPIKIR.

Baca Selengkapnya

Akhir Sebuah Kisah

Lelaki itu terbangun, lagi-lagi disepertiga malam menuju pagi. Mata lelaki itu tiba-tiba saja terbuka, tak ada reaksi yang memaksanya. Cuma tiba-tiba. Tidak juga karena terkejut oleh mimpi. Memang cuma tiba-tiba, secara otomatis, seperti sudah terprogram.

Sesekali dikejap-kejap matanya yang masih terlalu asing dengan spektrum cahaya yang berpendar dari lambu Philips 15 wattnya itu. Cahaya yang terang untuk selalu membuat silau matanya, padahal dulu dia telah terbiasa dengan lampu neon biasa.

Lelaki itu duduk. Badannya membungkuk. Ujung tumit lengannya ditekan ke mata, berusaha untuk menetralisir rasa buram karena cahaya. Rasa pusing yang berat membatui kepala.

Lantas setelah buram mulai memudar, lelaki itu kembali membaringkan badannya. Dipandangnya langit-langit kamar berwarna putih. Pikirannya melayang. Satu persatu benak mulai muncul. Hantu-menghantui mengumpul galau, lelaki itu meringis, matanya mulai berair, dia menangis.

Baca Selengkapnya

Debur Ombak

Mengapa lautan terus berombak?
kepan mereda
seperti aliran sungai yang mengalir
kemana dia bermuara

Lelaki itu, lelaki yang menemani 23 tahun hidupku berdiri di ujung ombak, sedikit kakinya berpasir, basah. Telah separuh kain celananya pun ikut basah, namun dia seperti tidak hirau. Tidak juga dia mengangkat celana itu hingga ke lutut seperti yang orang-orang lakukan. Bagiku, dia selalu asing.

Kami berdua berjalan menyusuri bibir pantai, bibir yang tak lagi perawan. Di sana-sini penuh sampah. Mulai dari plastik, botol minuman, tali nilon, bahkan sisa arang yang belum lagi habis terbakar. Orang-orang sering mengadakan camping di sini, bagi mereka itu seperti menyatu dengan alam, tetapi mereka tidak pernah bersatu. Mereka cuma menjajah alam, menjamahnya lantas mencampakkan.

Baca Selengkapnya