Berikut ini adalah nama-nama yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun langsung ke handphoneku:
Nama Waktu ===================== lelaki 01:43 Nanda 02:01 Winda 05:50 Wendri 06:02 Lisa 06:08 Butterfly 06:44 Nunung 06:22 Eramayawati 07:03 Ghaffar 09:00
Semua yang berasal dari diriku dan ditulis sejujurnya untuk diri sendiri
Tadi aku membuka inbox sms di handphoneku. Di situ ada banyak sms dari “dia” yang belum lagi kuhapus, padahal kami sepertinya telah lama tidak berinteraksi. Aku melihat banyak pesan antara kami berdua. Ternyata dahulu terlalu sering ada senyum, diselingi keluh-kesah.
Namun entah kenapa aku merasa begitu bosan hari ini. Semua pesan-pesan itu kuhapuskan. Aku merasa dia tidak lagi membutuhkan aku, begitu juga sebaliknya. Takdirku terhadapnya sudah selesai. Habis telah hutang-hutangku menjadi lunas. Aku sekarang bebas.
Aku lupa. Kapan terakhir sekali kami mulai berhenti saling menyapa.
Dari kemaren aku buka blogdetik, yang pertama nampang itu wajahnya Tina Toon. Itu loh yang terkenal dengan lagunya: “Baiquni bolo-bolo, gantengnya bolo-bolo, sumpah mati bolo-bolo…” (lagu diedit secara maksa tanpa mengenal etika. Jangan ditiru!).
Aku buka blog na dia eh cuma nampang 1 postingan, ada fotonya dia, trus beberapa ucapan singkat yang intinya dia itu mantan pacarku perkenalan gitchu deeh… Tapi ya Tuhan, itu komentar banyak banget. Padahal kalo mo narsis, aku mah lebih narsis, lageee…
Aku jadi pengen jadi seleb kek na. Biar blog aku banyak yang komentar.
Peluhku belum lagi kering, tanah masih membara, dipandu terik mentari menyengat. Tanah ini tidak berpasir, namun retak seperti merekah sepenggal. Warnanya kuning, keruh.
Aku berjalan, langkahku gontai. Seperti telah habis tenaga, napasku cuma tinggal satu-satu. Bahkan untuk menghirup dan membuang napas, aku seperti kehilangan tenaga. Terik mentari membuatku sangat lelah. Namun rindu lebih membuatku kebingungan.
El, aku rindu.
Aku selalu tersenyum dengan orang-orang sekelilingku dengan segala tingkah mereka. Aku melihat cahaya-cahaya kebanggaan dari mata mereka, betapa mereka meninggi, terus tinggi hingga seperti tidak pernah mengenal bumi.
Orang-orang bilang itu membual, tetapi aku sebut dengan impian. Entah kosong atau khayalan basi aku tak peduli. Apa yang orang-orang kata adalah bagian-bagian dari keinginan mereka mereka, mungkin yang belum tercapai. Ketika mereka berbicara tentang jenjang pendidikan mereka, kesuksesan-kesuksesan hidup mereka, betapa indahnya kota-kota yang pernah mereka lalui atau sempurnanya hidup mereka, bahkan tentang betapa sucinya keluarga mereka.
Sebagian perkataan itu tidaklah mutlak salah. Kebanyakan benar dari bibir-bibir manusia yang jujur. Dan aku senang dengan itu. Aku menghargai. Aku memaklumi.
Sayangnya, sebagian manusia tidak mudah untuk menerima kebaikan yang tidak terjadi pada diri mereka namun malah terjadi kepada orang lain. Mereka kata, perkataan-perkataan jujur itu adalah bagian dari kesombongan, mengangkat-angkat nama, atau entah apalah. Mereka pun tak salah. Mereka cuma ikut apa ingin mereka.
Kaum yang menambah-nambah. Untuk mereka aku juga tersenyum.