Aku Munafik

Beberapa hari ini aku merasa menjadi munafik. Mengapa? Karena ada banyak janji yang tidak bisa kupenuhi dan aku terus berjanji.

Sore kemarin, Ibnu telepon apa aku bisa bertemu dengannya di mesjid Oman selepas Ashar? Aku iyakan dengan menjawab iya. Namun apa yang terjadi? Karena terlalu asik menonton film “The Blind Side” aku terlupa untuk pergi ke mesjid dan shalat berjamaah di mesjid Oman. Film selesai dan aku melihat jam sudah pukul 16:00 lewat. Aku sadar namun aku menunda.

Sadar hal tersebut, selesai shalat aku menelepon Ibnu namun ternyata terjadi masalah jaringan. Telepon tidak diangkat dan terus bernada sibuk dan mengatakan bahwa Ibnu tidak dapat dihubungi. Baru setelah beberapa lama, setelah aku berada di Aceh IT Center, aku dapat menghubungi Ibnu.

Aku kecewa sekali dengan diriku sebagai seseorang yang tidak mampu menepati janji. Aku merasa, aku ini munafik.

Baca Selengkapnya

Cinta Tanpa Kelamin

Ya, aku mencintai lelaki itu. Jangan berburuk sangka bahwa ini adalah percintaan sejenis. Bukan, ini adalah cinta tanpa kelamin.

Lelaki yang kucinta itu adalah lelaki yang selalu kurindu. Aku teramat salah kepadanya. Cintaku yang membuta, menjadikan nasipnya nestapa. Aku terlalu cinta, tak kusadari telah terlalu jauh aku mengguncang pribadinya. Aku salah. Aku berdosa.

Cintalah yang menggerakkan aku agar dia mendapatkan cintanya. Namun, mungkin caraku dianggapnya salah. Namun, untuk segala prasangkanya itu kepadaku, dia juga salah. Tak pernah ada di dalam hatiku mencintai wanita yang sedang dicintainya. Tak pernah sekalipun.

Baca Selengkapnya

Reruntuhan Langit-langit Biru

Langit-langit biru runtuh, tepat di mataku. Langit berganti rupa, hitam lebih pekat dari malam. Bintang-bintang pun padam. Matahari telah terhapus dari gugus galaksi. Bumi, negeriku, seolah padam dan tersedot lubang hitam. Segala hal suram, tak ada ruang bernapas. Bahkan oksigen pun menjadi sesuatu yang tak mampu diterima paru.

Ah cinta. Segala hal yang kusebut di atas semerta berubah warna. Bahkan cinta membuat polusi nuklir menjadi seindah pupuk kompos. Menghidupkan bunga segala bunga. Aku yang sepi terbangun. Bukankah cinta adalah anugerah?

Berapa lama lagi harus kutahan. Sangat hendak aku bilang: engkaulah segala napas mengapa aku tetap hidup, denyut-denyut yang tak terbantahkan mengaliri tiap pori kulitku. Warna dalam setiap dimensi hidup.

Baca Selengkapnya

Rahasia Di Ujung Lidah

Aku rasa bidadari ketiga tahu bahwa aku mencintai dirinya, namun aku tetap memilih diam. Dan terkadang aku merasa dia juga menyukai diriku, dan dia juga diam.

Hampir setiap malam, melihat namanya, demamku menjadi kumat. Rinduku seperti tak tertahan, namun aku mencoba bertahan. Terkadang, jika rindu itu meletus, aku pun menyapanya. Kadang, aku harus menunggu untuk sebuah jawaban, dan aku menikmati fase tersebut.

Rahasia di ujung lidah. Ingin aku katakan, namun selalu aku tahan. Aku masih percaya, ada saat yang tepat nanti ketika semuanya tersingkap.

Tetapi ada satu ketakutan dalam diriku. Jikalah dia menjadi pergi, akibat ketiadatahuan betapa namanya bertalu-talu di dalam hatiku. Saban malam, di keheningan malam, ingatan-ingatan tentangnya menjalari sarap pikirku.

Baca Selengkapnya

Si Baik Hati yang Aku Cinta

Bidadari ketiga mungkin akan kusebut dengan si baik hati. Kebaikannya menjadi inspirasiku.

Aku mencintainya karena kebaikan hatinya. Betapa kagumnya aku atas kebaikan yang ada di dalam dirinya dan usahanya untuk menjadi lebih baik. Sungguh, aku begitu tersilau dan terpesona sehingga tanpa sadar hatiku berdebar menjadi tidak menentu dan hingga mampu kupastikan bahwa: itu adalah cinta.

Jika berbicara tentang kecantikan, tentu gadis-gadis di kotaku atau minimal di kampung jelas lebih cantik daripada dirinya. Di kampusku juga para gadis juga lebih cantik, namun ada satu yang dia miliki dan yang lain jarang memiliki: ketulusan, kebaikan, empati, perhatian, dan keinginan menjadi lebih baik.

Aku sering mendengar orang-orang berkata bahwa mereka baik, atau mereka berkata akan lebih baik. Namun, di dalam diri si baik hati, aku tidak menemukan semua kata-kata, yang aku temukan adalah fakta. Sama seperti teori menulis yang selama ini aku pelajari di FLP: don’t tell it, but show it.

Si baik hati yang aku cintai.

Baca Selengkapnya