Ubud Writers Festival

Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan notifikasi email di facebook. Kata ada kiriman surat di facebook untukku. Ternyata yang mengirim adalah Winda, teman sekelasku waktu smu dulu. Dia mengabarkan bahwa dia sedang mengikuti kontes flash fiction di Ubud Writers Festival dan meminta kami mem-vote-nya.

Penasaran, aku membaca ceritanya dan kesanku adalah bagus. Ceritanya bagus, lebih bagus daripada cerita-ceritaku.

Aku pun merasa tersindir, karena seperti yang orang-orang tahu, yang lebih sering menulis adalah aku. Maka aku pun ikutan juga, aku mencoba membuat sebuah fiksi mini di ajang Ubud Writers Festival tersebut, judulnya Anak Haram.

Judul link tulisanku itu ada di http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/09/anak-haram/ TOLONG DI VOTE YA !!!

Baca Selengkapnya

Benci

Entah mengapa, aku tidak suka jika seseorang menyimpan energi kebencian di dalam dirinya. Sama seperti tidak sukanya aku kepada dia yang telah membenci diriku. Dan aku pun tidak suka kepada diriku sendiri yang membenci seseorang yang memang patut untuk dibenci.

Dan seseorang yang sedang aku cintai ternyata sedang memendam sebuah kebencian, kepada seseorang yang dia ceritakan kepadaku barang tempo hari.

Sungguh aku ingin katakan, “tolong jangan pernah membenci

Terlebih, terhadap kebencian-kebencian yang tidak beralasan. Dan jangan mencari-cari alasan untuk membenci. Bencilah sesuatu yang memang seharusnya dibenci, seperti engkau membenci kemungkaran sebagaimana engkau dibenci dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Kadang benci timbul akibat efek rindu. Semakin benci engkau, sesungguhnya semakin rindu pula dirimu. Engkau yang rindu untuk membencinya atau engkau benci dengan kerinduan yang engkau ingkarkan itu.

Baca Selengkapnya

Parcel

Di rumah Cekpi ada satu kiriman parcel. Tadi pagi, waktu kami sahur parcel itu dibuka. Sudah beberapa bulan ini aku tinggal di rumah Cekpi karena rumahku sedang direnovasi. Semua rumah dibobok, serta hendak dinaikkan jadi lantai 2 (dua). Padahal, arsiteknya sudah mengatakan ongkos untuk membobok dan renovasi rumah serta menaikkan menjadi lantai 2 ongkosnya lebih mahal daripada membuat sebuah rumah baru, tetapi karena mamak sudah kerasan tinggal di lingkungan Kuta Alam, maka alternatif yang lain tidak diambil.

Berbicara tentang parcel, ingatanku terbang ke beberapa tahun yang lalu. Dulu, aku suka sekali yang namanya hari raya. Mengapa? Karena jika sudah hari raya dapat dipastikan rumah kami akan kebanjiran puluhan parcel dari orang-orang. Parcel yang paling aku suka dan kutunggu adalah dari cabang Aceh Utara atau Lhokseumawe, berkotak-kotak minuman bersoda seperti Fanta, Coca-cola, dan Sprite dikirim dari sana.

Dulu, ketika ayahku masih menjabat sebagai direktur bank di Bank Pembangunan Daerah, hampir setiap hari raya rumah kami yang kecil dipenuhi parcel-parcel. Hari raya juga berarti bahwa kami harus menyiapkan rumah dengan ekstra keras, karena ada satu tradisi dari keluarga BPD, yaitu mereka akan berbondong-bondong berombongan datang ke rumah para pucuk pimpinan tertinggi institusi tersebut.

Menyenangkan sekali rasanya mendapatkan parcel-parcel dari kantor-kantor cabang ke rumah, itu belum lagi kiriman dari pihak personal. Dulu, sama sekali tidak ada larangan untuk mengirimkan parcel. Parcel menjadi salah satu gaya hidup, bukan sesuatu yang dianggap sebagai suap.

Baca Selengkapnya

Ayo Tersenyum!

Senyum itu indah, walau terkadang teramat pahit melakukannya. Apalagi jika sesuatu yang terlalu menyakitkan dada, bahkan ketika engkau menangis. Senyum itu sungguh teramat indah.

Dia menjadi diam, lebih diam dari biasanya. Aku cuma tahu, dia sedang menangis. Begitu pun aku di sini, aku menangis.

Sulit memang rasanya jika seseorang yang kita cintai namun ditolak oleh orang-orang sekitar kita cuma karena mereka belum mengenal dia. Rasanya begitu sesak, bahkan bergalon-galon air mata rasanya tidak juga cukup untuk menutupi seluruh lara yang mendera.

Yang harus kamu pahami bahwa, mereka melakukan itu karena mereka mencintai dirimu. Ribuan kali rasa cinta lelaki itu terhadapmu tiada mampu menggantikan rasa cinta ibumu kepadamu. Ikutilah ibumu, sebelum ucap kata dengan seorang lelaki mengikatmu, kamu masih menjadi milik ibumu. Kelak, ketika ucap kata terikat, baru engkau akan menjadi milik lelaki itu.

Baca Selengkapnya

Aku Munafik

Beberapa hari ini aku merasa menjadi munafik. Mengapa? Karena ada banyak janji yang tidak bisa kupenuhi dan aku terus berjanji.

Sore kemarin, Ibnu telepon apa aku bisa bertemu dengannya di mesjid Oman selepas Ashar? Aku iyakan dengan menjawab iya. Namun apa yang terjadi? Karena terlalu asik menonton film “The Blind Side” aku terlupa untuk pergi ke mesjid dan shalat berjamaah di mesjid Oman. Film selesai dan aku melihat jam sudah pukul 16:00 lewat. Aku sadar namun aku menunda.

Sadar hal tersebut, selesai shalat aku menelepon Ibnu namun ternyata terjadi masalah jaringan. Telepon tidak diangkat dan terus bernada sibuk dan mengatakan bahwa Ibnu tidak dapat dihubungi. Baru setelah beberapa lama, setelah aku berada di Aceh IT Center, aku dapat menghubungi Ibnu.

Aku kecewa sekali dengan diriku sebagai seseorang yang tidak mampu menepati janji. Aku merasa, aku ini munafik.

Baca Selengkapnya