Motorku Hilang Part 2

Saat motorku hilang. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, mungkin sekitar 2 atau 3 kali lebih cepat. Saat itu, aku merasa sangat lemas. Lututku gemetaran dan kakiku seperti tidak mampu berpijak di bumi ini.

Aku kalut. Aku bingung. Motorku itu hadiah dari kakakku dan sekarang aku telah menghilangkannya. Harus ditaruh di mana mukaku ini! Terlebih, kredit motor itu belum lagi lunas. Oh Tuhan…

Hidup rasanya mendadak berputar dengan tidak menyenangkan. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Teman yang tadi aku ajak tertawa, si Nurul tiba-tiba menghampiri namun dan saat diajak bercanda, aku tidak bisa. Aku cuma katakan dengan muka pucat, “motorku hilang.

Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya, dengan berat hati aku telepon Ayahku, pertama yang mengangkat adalah Mamak. Saat itu aku bertanya, apakah Ayah ada? Ketika telepon sudah ada di tangan Ayahku, aku katakan dengan suara yang agak bergetar (karena lemas, takut, dan kebingungan) bahwa motorku telah hilang.

Ayahku bertanya di mana posisiku, aku jawab “di Gedung Sosial.

Baca Selengkapnya

Selamat Idul Adha 1432 H

Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H

Buat kamu yang masih kurus di tahun ini, coba deh mulai sekarang makan yang lebih banyak biar di tahun depan lulus uji seleksi untuk di-kurban-kan.

Hehehe, met hari raya semuanya. Mohon maaf jika banyak kata yang salah selama ini. Mohon dimaafkan.

Motorku Hilang Part 1

Beberapa hari yang lalu, saat aku ikut acara “Pesta Buku” yang ada di Gedung Sosial, motorku sempat hilang. Awal ceritanya begini.

Hari itu, aku ditugasi oleh kawan FLP untuk mencetak pamflet. Jadi, hari itu (29 Oktober 2011) aku mengambil cetakan pamflet di percetakan Elhanief yang ada di kotaku, namun celakanya ternyata pamflet yang aku pesankan itu ternyata lupa diberikan kepada tukang cetak. Padahal, janji pukul 12 lewat sudah siap, ini aku pergi pukul 2 malah belum siap. Akhirnya setelah menunggu kira-kira 1 jam lebih, pamflet yang aku pesankan itu siap juga. Awalnya jam 2 pamflet itu sudah siap tayang di pesta buku, namun karena kejadian tersebut menjadi tidak terwujud. Maafkan aku kawan-kawan FLP, ini di luar tanggung jawabku.

Karena aku tidak membawa teman pada waktu kejadian itu, untuk membawa pamflet itu terpaksa aku masukkan ke dalam tas punggungku dengan posisi tas punggung aku hadapkan ke depan. Itu ternyata menyulitkanku mengendarai motor.

Setiba di lokasi, inilah awal kejadian. Saat aku hendak mengamankan helm-ku di bagasi motor, saat itu air mineral yang aku sematkan di tas punggungku terjatuh karena posisi tas punggungku itu ada di depan. Saat aku mengambil air mineral itu, aku lupa dengan kunci motor yang masih ada di bagasi.

Baca Selengkapnya

Antri Woy!

Beberapa hari yang lalu aku sungguh kesal. Sangat kesal! Darah rasanya naik ke ubun-ubun, tetapi aku tidak pernah bisa marah. Ketika aku mau marah, aku biasanya lebih sering memendam rasa amarah itu sendiri. Persoalannya sepele dan aku rasa hampir selalu terjadi di negeri yang “ngakunya” teramat kaya. Sebuah kejadian sistemik yang sulit sekali dibangun di dalam jiwa-jiwa penduduk negeri ini: “ANTRI“.

Setiap orang ingin cepat selesai. Ingin menjadi nomor satu tanpa mau menunggu. Dan setiap orang, dengan keegoisannya, selalu datang telat namun selalu ingin selesai cepat.

Kata Antri menjadi momok. Kadang aku suka sebal, dengan orang-orang yang tidak ingin mengantri. Bagiku, rasa kemanusiaan mereka sedikit terkikis, bahkan aku memasukkan mereka ke dalam kategori bebal yang bertambah-tambah. Dan parahnya lagi adalah mereka yang menitipkan antrian kepada mereka yang sudah lebih dahulu datang dan berada di depan.

Sungguh keterlaluan sekali aksi manusia yang tidak ingin ikut mengantri namun meminta jatah roti. Mereka yang tidak antri santai saja menunggu di pojok-pojok dingin tempat mereka berteduh, duduk leyeh berleha-leha, sedangkan orang yang antri harus siap berpanas ria dan kakinya gemetaran karena terlalu lama berdiri.

Baca Selengkapnya