Belajar Bahasa Jerman

Belajar Bahasa Jerman
Stolen from Ellie Goes to Germany
Hari ini merupakan hari terakhir aku belajar bahasa Jerman. Dari informasi temanku si Ayu, aku tahu ada les bahasa Jerman gratis di pusat bahasa Unsyiah selama 10 hari yang diajarkan oleh Frau Nova. Jadilah aku mengikuti les tersebut secara bersemangat 45!

Les dimulai pada tanggal 23 Agustus 2012, lalu. Walau gratis, namun ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: setiap keterlambatan selama 1 jam, kami dikenakan sanksi 1 Euro per jam. Jadi jika dalam 1 hari kami membolos, maka karena dalam 1 hari sesi belajarnya ada 3 jam (1 jam = 45 menit) maka kami harus membayar sebanyak 3 Euro. Aku sendiri membolos selama 1 hari, karena kebiasaanku mogok tidur malam selama Ramadhan semakin menjadi. Aku kadang baru tidur pukul 3 pagi, dan terbangun pukul 4 pagi untuk sahur. Kadang setelah shalat subuh aku sempatkan tidur sampai pukul 7 pagi, lalu mandi untuk pergi les.

Aku merasa perkembanganku dalam belajar bahasa Jerman meningkat drastis setelah diajarkan oleh Frau Nova, padahal selama ini aku selalu mandek jika masuk ke dalam ranah bahasa baru. Apa mungkin karena bahasa Jerman itu yang mudah, atau boleh jadi metode Frau Nova yang luar biasa! Lebih-lebih, ini adalah pertama kali lho aku mendengarkan dan belajar bahasa Jerman!

Baca Selengkapnya

Menari Hujan

Aku ingin menari
Lantas hujan turun
Tari semakin menjadi
Gelombang demi gelombang
Yang tercipta cuma indah
Hujan datang, basah
Hingga semua manusia mati

– Muhammad Baiquni –

Aku selalu bertanya, jika nanti aku mati, aku akan ke mana?

Sebagian orang percaya dengan kehidupan setelah mati. Begitu pun aku. Namun, sebagian yang lain juga percaya, tidak ada kehidupan setelah kematian. Proses berpikir manusia ada di bagian otak, kematian — dalam ilmu medis — berarti berhentinya kerja otak.

Hujan memberiku pelajaran. Ada sesuatu yang dinamakan siklus. Bumi memiliki langit, dan hidup akan semakin terbuka oleh kematian. Apakah langit adalah akhir? Jauh di atas biru yang sering kita saksikan, ada jutaan hitam dan milyaran bintang. Dan aku percaya, kematian bukan cuma jasad yang akan luruh di makan zaman. Ada dimensi di mana manusia belum mampu menjangkaunya, seperti sebuah pertanyaan di benakku: “Setelah langit, ada apa?

Baca Selengkapnya

Daftar FlexiNet Broadband Hotspot di Banda Aceh

Aku senang, akhirnya aku mendapatkan daftar lengkap area FlexiNet Hotspot di daerah Banda Aceh. Awalnya aku cuma tahu di Haba Cafe, makanya aku sering kemari.

Aku suka dengan FlexiNet Broadband Hotspot, karena dengan modal 2500, aku sudah bisa internatan sepuasnya dengan koneksi yang dewa! Mau lihat hasil speedtest? Nih gue kasih!

Hasil Speedtest FlexiNet Broadband Hotspot

Mau tahu daftar selengkapnya daerah mana saja yang sudah tercover jaringan FlexiNet Broadband Hotspot? Cek aja daftar berikut di bawah yoooo…!

Baca Selengkapnya

Maafkan Saya

Menurutmu apa yang paling menyakitkan di dalam hidup ini? Hal yang paling menyakitkan adalah saat seseorang yang engkau cintai menangis karena ulahmu. Hal yang paling menyakitkan adalah saat seseorang terluka karenamu.

Itu pula yang aku rasakan sekarang, saat ini. Hatiku terasa bagai teriris sembilu, tepat saat aku tahu ada seseorang yang terjangkit marah, juga mendapati luka akibat ulahku.

Ada rasa penyesalan yang begitu mendalam. Berharap waktu berbalik, lantas aku meralat letak salahku itu. Namun hidup berjalan maju, bahkan saat engkau merasa segala hal berubah diam atau melambat, namun tidak begitu dengan waktu.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi penyesalanku tersebut, selain: MAAFKAN AKU.

Baca Selengkapnya

Aku Menangis (Lagi)

Malam ini, aku menangis. Tepat saat seseorang memberikan tautan tentang sebuah tulisan berjudul “Karena Ukuran Kita Tak Sama” karya seorang Salim A. Fillah. Tulisan itu membuat aku ingin terus membaca tulisan berikutnya.

Dadaku bergetar, tentangnya yang dikisahkan oleh seorang Salim. Tentang banyak “nya” yang telah aku lupakan, terlupakan, atau memang sengaja aku ingin agar menjadi lupa. Dadaku hebat bergetar, hingga mungkin, rahang-rahang menjadi kaku setelahnya.

Sudah lama aku tidak menangis. Tidak seperti ini.

Terakhir aku menangis adalah kemarin. Saat gempa hebat melanda Aceh dan aku mengira kiamatlah hari itu akan tiba. Aku mengira tsunami akan kembali hadir di bumi ini. Dan aku, tetap aku, tanpa bekal yang cukup jika menghadap Tuhan nanti. Menangis di antara sujud-sujud yang lebih panjang dari biasanya.

Aku menangis. Aku tidak mengusapnya. Tidak mencoba agar ini berhenti. Aku membiarkannya. Memberikan diriku, hatiku, jiwaku, sedikit kesempatan untuk mengeja makna-makna yang Tuhan sampaikan melalui tangan-tangan yang lain. Aku ingin tangis ini tidak henti, tidak cukup sampai di sini.

Baca Selengkapnya