Perempuan dan Jilbab

Pertama sekali dalam hidupku, aku mendengar seorang perempuan menangis karena sebagian rambutnya terlihat. Padahal, semua itu terjadi di luar kesengajaannya. Hal kontras yang lain terjadi, perempuan, rela melepaskan jilbabnya demi karir, ambisi, atau cuma karena ingin dibilang cantik. Aku miris.

Awalnya begini. Tanpa sengaja, aku melihat sebuah foto yang aneh dari album seorang temanku. Awalnya aku tidak “ngeh”, aku merasa, oh mungkin saja itu foto adiknya. Tetapi, setelah aku perhatikan lebih baik, bukan, itu bukan foto adiknya. Itu foto seorang temanku. Melihat itu, aku pun segera menghubunginya, sekedar bertanya, “apa kamu sekarang sudah melepaskan jilbab? Ada fotomu tanpa jilbab di facebook.”

Baru tengah malam, aku mendapatkan telepon. Dia bertanya, apa aku tidak salah lihat?

Aku katakan, semoga saja salah. Jika memang benar, foto itu ada di album “mobile uploads”.

Beberapa saat kemudian, dia menangis, setelah mengetahui ada kebenaran dalam pertanyaanku. Sebuah fotonya tanpa jilbab hadir di sana, bersama beberapa foto kue pancake.

Aku tahu, itu di luar kesengajaannya. Dia tidak sengaja mengupload foto itu di antara beberapa foto kue yang disebarkannya lewat facebook. Aku membayangkan bola matanya yang mulai nanar, memerah bercampur air mata. Teringat jelas dalam telingaku, bagaimana sesegukan itu hadir lantas tumpah menjadi tangisan. Kekalutan, kebingungan, gundah, segalanya hadir. Semuanya itu penuh dengan penyesalan.

Lantas, secara tiba-tiba dia menutup teleponnya. Mungkin terlalu malu.

Mungkin tidak banyak perempuan yang seperti dia. Dalam hidupku, berbagai rupa macam perempuan hadir. Ada yang dulu berjilbab lebar lantas menanggalkan jilbabnya dengan bangga, dia merasa bebas dengan beban menutup aurat itu. Sebagian yang lain tetap berjilbab, hanya kadarnya berbeda: sedikit-demi-sedikit kain-kain panjang menjadi tanggal berubah menjadi serpihan kecil cuma untuk menutupi rambut.

Aku berpikir keras dan berulang. Kenapa hanya perkara rambut, seorang perempuan menangis, dan sebagian lagi tertawa. Sebagian merasa kebebasan terbelenggu dengan rambut yang ditutupi dan merasa bebas jika mengurainya, atau bahkan mungkin jika segala hal tertanggal tidak tertinggal secuil pun.

Jika malam itu aku mendengarkan perempuan temanku itu menangis, di pelosok lain, orang berlomba-lomba menanggalkan jilbabnya agar puja-puji hadir dalam kehidupan mereka. Bingung. Sungguh membingungkan.

Incoming search terms:

  • Pingback: Facebook()

  • Bergantung pada imannya…, kan?

  • Sungguh kejadian ‘langka’ dizaman edan sekarang…..sungguh !

    • teman saya itu memang langka diantara jutaan manusia indonesia, namun di antara perempuan pilihan, hal demikian tidak langka.