Rumah Lama

Lama aku tidak membuka blog ini. Blog yang bagiku adalah rumah tempat aku bercerita apa yang terlintas di dalam pikiranku. Yah, aku merasa telah terlalu lama aku alpa dengan semua yang mengalir di sini. Lama tak singgah, bukan berarti aku lupa. Hanya saja, aku bingung hendak menuliskan apa.

Rasanya rindu semakin menggebu, saat aku bercermin, telah banyak perubahan dalam diriku. Tidak cuma fisik, namun juga akal budi. Aku seperti kehilangan sosok aku yang dulu. Apakah dewasa yang mengubah segalanya, atau keadaan dan lingkungan. Tetapi, ada satu hal yang masih sama, aku tetap saja tidak mampu membuat lebih banyak persahabatan di sini. Seringku cuma duduk termenung di atas kasur yang dinding-dinding di sampingnya mulai berjamur karena lembabnya tanah di sini.

Satu alasan lain aku jarang pulang adalah aku seperti kehilangan akal untuk menuliskan segalanya lagi. Aku seperti tidak lagi memiliki ilham. Tangan-tanganku serasa terpasung terpenjara. Otakku seperti dalam sangkar. Dan pikiranku telah mati suri.

Tulisan ini aku paksa untuk tercipta, untuk membangkitkan kembali gairah yang aku ingin dia kembali bergelora. Masih teringat salah seorang petuah temanku, “alah bisa karena dipaksa.”

Sudah-sudah-sudah. Aku tidak tahu lagi harus menulis apa. Cukup!

Memilih Pasangan

Perempuan dipilih karena kesetiaan dan loyalitasnya.
Lelaki dipilih karena tanggung jawabnya.

Gandengan Tangan
Sumber gambar: http://brownsugartoast.com/

Lelaki tampan yang boleh jadi hadir di hadapanmu, datang dengan segala pesonanya, dan engkau jatuh hanyut terlena. Jangan coba engkau berikan cinta, jika dia datang cuma dengan segala pesona tanpa hadirnya tanggung jawab di punggungnya. Perempuan telah banyak menjadi bodoh, dicampakkan, oleh lelaki model begini, yang tidak memiliki tanggung jawab, juga mudah berpaling. Terkadang, mulut mereka semanis madu.

Perempuan cantik yang engkau pandangi itu, berhati-hatilah olehnya. Mungkin saja dia cuma mampu cantik — puji Tuhan yang menganugerahi — namun dalam dirinya tidak tersimpan sedikit pun kesetiaan dan juga loyalitas dalam mencintaimu. Maka wahai pria seluruh dunia, berhati-hatilah. Engkau yang kadang dengan mudah menyayat nadi, mencoba buktikan bahwa dalam tiap tetes darah ada nama mereka. Kebodohanmu tidak akan terjawabkan dengan puas. Tanpa kesetiaan dan loyalitas, para pria cuma menemukan rasa sakit hati yang mendalam. Setia adalah kata kunci, di mana seluruh pria di dunia menjadi aman olehnya.

Perempuan yang patut engkau pilih adalah: “Saat engkau dekat, engkau merasa senang. Saat engkau jauh, engkau menjadi tenang. Tidaklah hirau engkau, dia akan mencelakai hartamu, atau menistakanmu.

Baca Selengkapnya

Hampa

ruang kosong
sumber gambar: taufiqadi.wordpress.com/

Aku merasa hampa. Kali ini.

Kamu. Aku merasa sangat capek. Letih dengan hati ini. Aku merasakan kehampaan yang tidak dapat aku jelaskan. Rasa yang terus menumpuk dan terus aku tumpuk. Bingung dengan sikap semua manusia. Cemburu dengan segala situasi. Tolong mengertilah.

Apa kamu juga merasakan hal yang sama. Kekosongan pekat di dalam jiwa. Sesuatu yang ingin diisi namun mahabingung menyertai: harus diisi dengan apa kekosongan ini?

Kosong ini memang harus kosong. Kosong ini memang harus seharusnya hampa. Tidak terisi oleh apapun, kecuali oleh cahaya.

Apa kau merasakan hal yang serupa? Hampa yang tak terjelaskan ini? Dia yang berontak dari dasar, memohon cahaya, namun kau terus mengisi gelap di dalamnya. Dengan gelap semua perasaan manusia: dosa, cemburu, kemarahan, kepedihan, perasaan dikhianati dan terus ditinggalkan.

Baca Selengkapnya

Tombol Reset Kehidupan

Tombol Reset
sumber gambar: fullpotentialchiropractic.wordpress.com

Kadang saya berharap ada tombol RESET dalam kehidupan. Mengulang semuanya. Mengulang dari semula kala. Hingga tak tersimpan rekaman tentang saya yang sedang kacau, marah, atau kesal kepada seseorang.

Semakin lama hidup, pengalaman mengajarkan bahwa manusia tidak berlaku sesuai keinginan kita. Mereka cuma baik ketika di depan dan belajar menusuk dari belakang. Mereka cuma mengingat saat membutuhkan, dan langsung lupa saat dibutuhkan. Terkadang orang-orang berjalan di depan kita cuma karena keperluan mereka. Saat kita membutuhkan mereka, seperti angin, mereka hilang entah kemana. Bahkan, bau harum dari tetes liur mereka pun tak mampu kita baui. Mereka pergi. Tanpa jejak. Tanpa pesan.

Kita berharap orang-orang menjadi baik. Padahal kita sendiri belum tentu baik. Kita telah mencoba menjadi baik. Namun, laku setiap orang tidak sebaik apa yang kita citakan. Kita gagal akan pengharapan. Kita gagal dengan semua keinginan.

Sebagian manusia hidup dalam bentuk parasit. Mereka cuma hidup dari memanfaatkan sumber daya orang lain. Maka perhatikanlah olehmu teman. Di sekelilingmu. Mereka yang mengembangkan senyum saat mereka sangat membutuhkan peranmu, dan cepat menjadi masam ketika keinginan mereka diacuhkan. Mereka yang tiba-tiba hadir, entah dari mana, dengan basi-basi sebentar seadanya, lantas memintamu menolong mereka. Lantas sudah, mereka kembali hilang entah kemana.

Makanya teman, perlakukanlah manusia seperti kamu ingin diperlakukan. Jangan perlakukan mereka seperti kamu tidak ingin diperlakukan.

Baca Selengkapnya

Luka

Luka Kehidupan
sumber: 1kertasusang.blogspot.com

Dulu, aku mengira bahwa luka mampu membuat orang berubah. Membuat mereka mempelajari sesuatu dari apa yang telah mereka lakukan. Ternyata aku salah. Tidak demikian adanya. Terkadang, manusia, setelah berulang kali jatuh, mereka tidak mampu belajar dari kesalahannya. Rasa enggan pindah dari zona aman, membuat mereka menunggu luka-luka berikutnya.

Jujurlah. Berapa kali kita sadar bahwa apa yang telah berulang kali kita lakukan adalah kesalahan. Yang akan terus membuat kita jatuh dalam kubang dalam yang sama. Seterusnya.

Dan kita, merasa enggan untuk beranjak pergi. Terlalu malas untuk menuju perubahan. Kita malas untuk berubah menjadi lebih baik. Enggan. Atau kadang terlalu sombong. Sampai-sampai, kita lebih memilih menanggung luka dan derita yang berkepanjangan dari apa yang telah kita lakukan. Kita menjadi akut. Menikmatinya. Lantas kemudian, menyalahkan Tuhan, bahwa hal ini menjadi bagian dari rahasia takdirNya.

Berubahlah teman. Berubahlah!

Sadar bahwa diri kita tidak sempurna adalah awal yang baik. Sadar bahwa kita telah melakukan kesalahan adalah sebuah kebenaran. Namun, menjadi sadar berarti kita menjadi terbangun dari tidur. Tidak cuma memiliki angan-angan bermimpi berubah tanpa melakukan tindakan nyata dan pasti. “Langit kawan, tidak cuma bisa engkau pandangi. Tekadmu mampu menyentuhnya.

Baca Selengkapnya